Catatan Juri
Menemukan Gaharu di Belantara Rimba
Memang masih ada yang menulis cerita pendek? Atau pertanyaannya coba digeser, memang masih ada yang membaca cerpen? Ketika dunia berlari cepat, manusia dikejar cicilan dan tenggat pekerjaan, algoritma sosial media memperpendek rentang konsentrasi manusia, dan seterusnya. Lebih-lebih saat akal imitasi lebih kilat menelurkan cerita dari manusia, yang sejatinya sumber “akal” dari entitas bernama akal imitasi itu sendiri. Pertanyaan ini hadir dan gentayangan di kepala saya sebagai penguji eksistensi cerita dan pencerita itu sendiri, saya menaksirnya demikian.
Namun, suatu malam saya pergi ke toko kelontong Madura yang sejatinya tidak jauh berjarak dengan minimarket modern dengan lampu lebih terang, lebih cepat, dan lebih tertata. Kelontong Madura itu tetap eksis dengan kecerkasannya melayani. Saya mengibaratkan cerita seperti sajian toko kelontong itu. Dia hadir dan seharusnya akan terus hadir selama masih ada manusia yang pukul tiga pagi mencari cairan pel. Cerpen hadir dan sepertinya akan terus hadir selama manusia percaya cerita selain penghibur juga konten itu sendiri. Dan memang demikian bukan manusia hidup sebagai homo fabul; makhluk yang gemar membaca cerita, menulis cerita, dan diceritakan sebuah cerita. Dan ketika membaca ribuan judul cerpen, setidaknya saya yakin masih banyak yang mau menulis, hendak jadi penulis, ingin lebih berakal dari akal manusia.
Murakami dalam buku Blind Willow, Sleeping Woman mengibaratkan cerpen adalah sepetak taman dan novel adalah belantara rimba. Ibarat ini memudahkan dalam proses menulis, tetapi membaca (dan kemudian mengomentari lantas menilai) ribuan cerita yang kadang hanya 5 halaman, beberapa sampai belasan hingga puluhan halaman, benar-benar masuk dalam rimba yang entah mana ujung terangnya. Dan rasanya mungkin demikianlah sebuah usaha yang dalam sunyi dikerjakan para redaktur.
Semakin masuk ke rimba itu, kita akan mudah menemukan pola-pola. Beberapa cerita tidak mahir memilih judul; anggap saja kalau plating makanan tidak menarik dalam serangkaian sajian sudah pasti kurang menarik. Cerita-cerita yang ditulis seperti selembar curriculum vitae bisa jadi berasal dari penulis yang tidak banyak membaca fiksi; sebab fiksi yang berjudul curriculum vitae (ada novel dan ada judul puisi) bahkan tidak memakai kalimat; “nama saya ….. kelas ….” Kecenderungan ini mungkin (masih bisa diduga) menganggap menulis cerpen selaiknya menulis catatan harian. Kecenderungan lain yang sangat lazim ditemukan adalah hasrat penulis cerita untuk menjadi juru moral atau juru penyampai pesan. Cara-cara menulis seperti ini bukan sesuatu yang buruk (bisa jadi, andai memang ditulis dengan kemampuan yang mumpuni, sebab memang tidak ada aturan kaku dalam penulisan kreatif), tetapi sayangnya kebanyakan tubuh cerita yang mengandung kecenderungan seperti ini pada dasarnya ditulis tanpa riwayat membaca yang telaten dan tanpa ketekunan menulis.
Selain itu, beberapa penulis juga masih terus-terusan menulis sesuatu yang boleh disebut klise. Lagi-lagi klise dan tidak klise ini bukan sesuatu yang kaku dan tabulasi yang rigit. Namun, dari sekian ribu cerita yang kerap diulang adalah soal romansa/cinta semasa remaja/atau cinta yang tidak tergapai. Bukankah tema itu tema yang abadi selama manusia masih hidup? Benar. Namun kematangan pengolahan tema menjadi cerita yang bagus ternyata memang membutuhkan jam terbang. Ya, bila kamu mencintai ketua osis kemudian hingga lulus tidak kesampaian, ya ini tidak ubahnya menulis catatan harian semata. Andai bisa diolah lebih, perkara yang sederhana ini bisa jadi cerita yang kuat. Menyingkirkan tema-tema percintaan di masa sekolah dan kuliah bukan berarti menihilkan urgensi cerita ini. Hilman, Ashadi Siregar misalnya menulis tema yang kurang lebih sama, tapi tetap menarik secara cerita dan di beberapa titik tidak menjadi klise. Jadi bukan soal tema, tapi cara bercerita dan pemilihan sudut pandang.
Jadi sampai di titik ini, tentu kita sudah tahu betapa rimba-nya rimba berisi ribuan cerita yang harus dibaca ini? Dari ribuan cerpen kecenderungan-kecenderungan seperti ini bertebaran di belantara rimba itu, dan membaca judul yang menjauhi kecenderungan itu ibarat gaharu di tengah pokok-pokok akasia.
Cerpen berjudul “Tahi Kucing dan Hal-Hal yang Tak Selesai”, meski tidak pernah terang siapa sebenarnya penulis dalam naskah ini, tampak betul penulisnya telah memiliki kecakapan menulis yang baik. Dan itu sudah menyenangkan. Ini cerpen yang menurut saya ditulis dengan pandangan induksi cerdas. Dari persoalan yang sederhana merembet ke mana-mana, dan itu menarik. Andai boleh memberi catatan: kecerdasan seorang penulis tidak perlu tersuratkan dari catatan kaki asal-muasal judul. Biarlah sesekali kita sepercaya diri Murakami tanpa perlu memberi keterangan dari mana dia “meminjam” 1Q84, Norwegian Wood, Men Without Women. Perilaku name dropping seperti ini (atau kegemaran memberi sederet catatan kaki secara umum) rasanya perlu dikurangi agar proses pembacaan menyenangkan. Meski selama pembacaan tidak pernah mengetahui jenis kelamin penulis, saya bisa menduga cerpen enak ini ditulis oleh laki-laki. Bukan hanya soal tokoh utama aku adalah laki-laki, juga perihal hamil-tidak-hamil seorang istri dipotret dengan lapisan “kulit ari” semata. Meski demikian, cerpen ini adalah gaharu paling wangi dari ribuan judul yang dibaca.
Cerpen mungkin fiksional, tapi riset adalah kunci banyak cerita bagus, sependek atau sepanjang apa pun cerita itu. Cerpen “Rempah untuk Saudagar” adalah bukti ketelatenan seorang penulis dalam melakukan riset sekaligus menjalin cerita. Cerita berlatar sejarah memiliki tantangan sendiri, terkhusus detail-detail sejarah yang butuh ekstra lebih dalam pengumpulan data. Dan itu sudah cukup. Andai boleh memberi saran, kecakapan kamu menyusun adegan per adegan harus diseimbangkan dengan kemampuan menggambarkan suasana. Ini seperti kamera kurang bersih dilap, jadi bentuk gedung kurang jelas, lekuk jalan kurang kentara. Cerita berjalan dengan bagus, tapi kiri-kanan yang harusnya menarik dilewatkan begitu saja. Namun, dengan kemampuan ini, tolong informasikan saya kalau kamu menulis novel lebih panjang. Saya ingin membacanya.
Satu lagi yang setidaknya membuktikan bahwa cerpen dengan tema yang “biasa” dan bisa jadi klise, andai dituliskan dengan apik akan tetap menyenangkan dibaca. Cerpen “Lantai yang Naik” adalah terbaik dari gerbong yang bertemakan seperti ini. Kisah-kisah hangat dari keseharian, relasi dalam rumah bisa diolah dengan pilihan POV yang oke, yang kuat, dan kalimat-kalimat yang prima. Jadi tidak lagi ada favoritism atas satu tema yang satu lebih berharga dari tema yang lain. Lagi cerita adalah cerita.
Dari sekian banyak cerita yang rasanya kurang dituliskan adalah kejenakaan. Rasanya susah sekali menemukan cerita humor (jenaka) dalam sebuah lomba. Atau memang pembaca (bisa jadi negara ini) memang suram melulu isinya, dan butuh dikompori semangat zero to hero? Entahlah, maka saya harus memberi apresiasi tertinggi untuk cerpen “Pequeño!” sebelum dikejutkan di akhir cerita, saya membayangkan petinju Filipina. Namun, di akhir saya tertawa. Saya rasa meski cerita klise, dengan norma dan “pesan” yang diharuskan, rasa jenaka yang menyenangkan selama membaca ini perlu dianggap sebagai satu gaharu lain yang perlu diberi catatan tersendiri.
Jadi? Tidak perlu kesimpulan tentunya. Kecenderungan-kecenderungan klise, memberi dakwah, menulis catatan harian jamak. Beberapa cerpen yang kami temukan menarik dan menyenangkan dibaca bisa jadi gambaran sejauh mana sebuah lomba hadir memberi ruang. Dan ribuan cerita seperti meyakinkan kalau cerita dan pencerita itu tetap akan dibutuhkan. Selamat kepada siapa pun yang namanya ada dalam daftar. Semoga suatu kali saya bisa berjumpa dengan cerita kalian yang lebih banyak, lebih panjang (mungkin) entah di perlombaan lain, atau di teks-teks penuh kegembiraan. Selamat bergembira, seperti kami bergembira membaca cerita kalian.
Teguh Affandi
Bayangkan sederet pintu yang jumlahnya tak terhingga, lalu kamu diminta membukanya satu per satu. Begitulah perasaan saya saat membaca cerpen pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya dalam penilaian Lomba Cerpen Ke-23 Tulis.me. Setiap tulisan menghadirkan persoalan dan cara bertutur yang berbeda-beda. Saya mengalami perjalanan naik-turun dalam sekali duduk. Saya mendengar suara orang menangis, ikut bergembira dalam hubungan persahabatan, hingga turut berduka atas kehilangan.
Cerpen-cerpen peserta mengangkat tema yang beragam. Beberapa penulis memilih menghadirkan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sementara yang lain membangun cerita melalui latar sejarah, budaya lokal, atau situasi yang tidak biasa. Cerpen, yang merupakan karya tulis dengan kesan ringan, kini menjelma menjadi alat untuk merekam pengingat, kritik sosial, dan perayaan. Bagi saya, keragaman ini menunjukkan bahwa para penulis memiliki kepekaan yang tinggi sekaligus ketertarikan yang tidak selalu sama dalam memandang kehidupan.
Dari cerpen-cerpen yang menempati posisi teratas, terlihat bahwa kekuatan cerita dapat hadir melalui pendekatan yang sangat beragam. Tahi Kucing dan Hal-hal yang Tak Selesai, misalnya, menonjol melalui satire sosial serta kontradiksi perilaku manusia. Saat membacanya, kami tergelitik dan menerka-nerka: sebuah kegembiraan bagi cerpen yang apik. Rempah untuk Saudagar, di sisi lain, merangkai latar perdagangan rempah dan eksploitasi pekerja. Kejadian-kejadian di dalamnya membentuk petualangan yang kaya konflik dan layak dinikmati. Sementara itu, Juru Riwayat menghadirkan refleksi tentang keluarga, ingatan, dan reputasi seseorang. Penulis memadukannya melalui konflik yang tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.
Tak kalah unik, cerpen berjudul Lantai yang Naik menggunakan metafora secara kuat untuk menggambarkan persoalan sosial dan kehidupan keluarga. Pun, saya tak berhenti kagum saat membaca 3 Tersangka 2 Terdakwa 1 Tercinta yang memadukan unsur misteri dengan persoalan hukum dan hubungan antartokoh. Di posisi keenam, Barangkali Tuhan Lupa Menjemputnya di Rumah Bordil mengangkat eksploitasi dan ketidakadilan melalui pergulatan emosional serta persoalan iman.
Keenam cerpen di atas hanya sedikit dari kilauan kecemerlangan cerpen-cerpen terpilih. Seluruhnya menunjukkan bahwa gagasan yang kuat dapat dikembangkan melalui berbagai cara: satire, petualangan, refleksi moral, metafora, misteri, maupun konflik emosional. Kesamaan yang mempertemukan mereka adalah kemampuan mengolah tema menjadi cerita yang memiliki daya tarik dan meninggalkan “sesuatu” untuk direnungkan pembaca.
Namun, perlu diakui, gagasan yang kuat belum cukup untuk menghasilkan cerita yang kuat pula. Dari banyaknya cerpen yang masuk, saya menemukan beberapa di antaranya menawarkan premis menjanjikan, tetapi konfliknya tidak berkembang secara meyakinkan. Ada pula cerita yang terasa terlalu ingin menyampaikan pesan sehingga beberapa hal dijelaskan berulang kali melalui narasi. Padahal, pembaca sebenarnya bisa menangkap pesan melalui tindakan tokoh atau rangkaian peristiwa. Selain itu, bagian akhir cerpen juga kerap menjadi tantangan tersendiri. Beberapa cerita sudah membangun konflik dengan baik, tetapi penyelesaiannya justru terburu-buru sehingga tidak memberi ruang bagi perkembangan karakter. Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa menulis cerpen tidaklah sepele. Menghasilkan cerpen yang berkualitas bukan hanya tentang menemukan ide, melainkan juga tentang mengetahui bagian mana yang perlu dikembangkan atau justru dibiarkan untuk ditafsirkan pembaca.
Seluruh cerpen dalam 250 besar telah memperlihatkan betapa luasnya tema dan pendekatan yang dihadirkan para penulis. Tidak semua kekuatan cerita muncul dalam bentuk yang sama: ada yang unggul dalam keberanian mengangkat isu, ada pula yang memiliki detail pengamatan yang menarik. Perbedaan peringkat merupakan hasil pertimbangan terhadap keseluruhan unsur naskah berdasarkan kriteria penilaian, bukan penilaian mutlak atas tema, pengalaman, atau gagasan yang dipilih penulis.
Cerpen-cerpen yang belum masuk dalam 250 besar bukanlah cerpen yang tidak memiliki keunggulan. Percayalah, kami pun memerlukan waktu yang panjang untuk mempertimbangkan cerpen-cerpen tersebut di antara karya-karya potensial lainnya. Meski demikian, kami percaya bahwa setiap cerpen memiliki ruang untuk dikembangkan, baik melalui pendalaman karakter, penguatan konflik, penataan alur, maupun penyuntingan bahasa.
Terima kasih kepada seluruh penulis yang telah memercayakan karyanya untuk kami baca dan nilai. Saya harap, pengalaman para penulis tidak berhenti pada hasil akhir. Semoga lomba cerpen ini juga bisa menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang tengah ditempuh.
Teruslah membaca, mengamati, mempertanyakan, dan menulis. Ingatlah bahwa cerita yang baik tidak selalu lahir dari gagasan yang paling besar, tetapi dari kepekaan mengamati sesuatu.
Aprilia Kumala
Fasilitas Lomba
Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 15 November 2026. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 085156556750 ya.
Ikuti lomba menulis ke-24 karena semua peserta lomba ke-23 ini mendapatkan voucer diskon 20%.
Pengumuman Pemenang
Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-23. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.
Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 085883608022. Pastikan nomornya sama.
Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-23 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 250 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.
| PERINGKAT | JUDUL CERPEN | NAMA PENULIS |
| 1 | Tahi Kucing dan Hal-hal yang Tak Selesai | Yogarta Awawa Prabaning Arka |
| 2 | Rempah untuk Saudagar | Reza Luthfi Aulia |
| 3 | Juru Riwayat | Anindita Buyung Pribadi |
| 4 | Lantai yang Naik | Tsaqifah Nurul Azkia |
| 5 | 3 Tersangka 2 Terdakwa 1 Tercinta | Ajeng Istiqomah |
| 6 | Berangkali Tuhan Lupa Menjemputnya di Rumah Bordil | Ananda Aprilia |
| 7 | Tanah Desa Rimba | Reza Luthfi Aulia |
| 8 | Nomor Antrean yang Tidak Pernah Dipanggil | Ari Sarbani |
| 9 | Kata Tidak yang Jatuh di Ubin Musala | Riny Yunita |
| 10 | Sembilan Belas Menit | Muhammad Ibrahim |
| 11 | Parade Pencuri di Tempat Suci | Fachrial Rizqi |
| 12 | Nawu Raha: Sebuah Awal Esa Terbilang | Lorensius |
| 13 | Ali Meminang Sophia | Husen Mulachela |
| 14 | Ayah Tidak Pernah Datang | Ramadhanu |
| 15 | Sebidang Langit Milik Rah | Ulya |
| 16 | Rasim | Muhammad Ibrahim |
| 17 | Pequeño! | N. Ishaara |
| 18 | Barangsiapa Berdoa | Mustofa |
| 19 | Arang Menjadi Abu | Ud Twelve |
| 20 | Rudi Gaber yang Harus Menghilang Pergi untuk Selamanya | Juli Prasetya |
| 21 | Leluri Berdarah di Atas Lincak Bambu | Aprillia Ratna Sasmita |
| 22 | Bukan Anakku | MrsCyan |
| 23 | Monster Biyung | Damara Ari Kaltsum |
| 24 | Cobek dan Tulang Ikan Mas | Ahmad Sopian |
| 25 | Kalau Menurut Mas | Muhammad Ibrahim |
| 26 | Perempuan di Luar Rakit | Pramita Anastasia |
| 27 | Pompong Pak Nggah | duntres |
| 28 | Piala untuk Lima Bayangan | Nova Ramadan |
| 29 | Rigor Mortis | Asep Mufti |
| 30 | Dua Kata | Syifa Salsabila |
| 31 | Cangkir Cangkringan Terakhir | Anesia |
| 32 | Jaket Kesayangan Bapak | Robi Hidayat |
| 33 | Bara yang Tak Lagi Kutonton | Michael Then |
| 34 | Bolpoin Kucing | Tahta Rahmatul Kahfi |
| 35 | Gadis Kecil yang Dijagal di Bawah Bulan Sidi | Wardedy Rosi |
| 36 | Radio yang Belum Diambil | Tsaqifah Nurul Azkia |
| 37 | Di Meratus Tarian Itu Tak Akan Pernah Usai | Lorensius |
| 38 | Ambang Batas | Naurah Hanin Ghaisani |
| 39 | Di Antara Desing Peluru | Athaya Jauzaa Zahira |
| 40 | Bau Ibu | Shafa Amalia |
| 41 | Ritual Mangkat | Fathurrozi Nuril Furqon |
| 42 | Kursi yang Tak Membuatnya Tinggi | Muhamad Yusuf |
| 43 | Pemangsa Pakan Babi | Tiara Rahidayati |
| 44 | Bunyi Pantul Terakhir | Haibil Haqi Naajihan |
| 45 | Pelita Ingatan | Naufal Aziz |
| 46 | Di Ujung Senja Ini, Aku Masih Mengingatmu | C. Laika |
| 47 | Suling Pemanggil Angin Krayan | Sisca Ayu Azhari |
| 48 | Asap dan Bayang-Bayang Punggung Tua | Nur Leilani Nabilah |
| 49 | Cahaya di Mercusuar | Regina Sayo Randa Nirmala |
| 50 | Di Antara Anak Tangga | Putri Caroline Widjaja |
| 51 | Kota Manusia | Northy |
| 52 | Di Antara yang Tak Terlihat | Arika Avonleah |
| 53 | Gerhana di Atas Meja | Naufal Dzaky Arizqi |
| 54 | Malam Ketika Wening Meminta Wajah | Ayu Sri Winahyu |
| 55 | Algoritma yang Membaca Pikiran | Putri Aqilah |
| 56 | Belok Kiri di Pertigaan, Kita Lepas Dahaga (Bersama) | Ailaz |
| 57 | Titik Koma dan Titik Balik | Dzaky Rafif Ariza |
| 58 | Sajeng Rennu | Abdul Zahir |
| 59 | Kucing Oren yang Menolak Hukum Termodinamika | Septiar Priyatmo |
| 60 | Zirah | Muhammad Laila Maghfurrodhi |
| 61 | Penadah Kenangan | Yogarta Awawa Prabaning Arka |
| 62 | Mors Omnibus | Nordunata |
| 63 | Aku Selalu Menanti Kepulanganmu (Duka di Balik Ombak) | Dominggas Tampesy |
| 64 | Renjana di Ujung Sauh | Raisa Nurahima Gunawan |
| 65 | Kios Payung Pukul Tiga Sore | C. Laika |
| 66 | Saklar Lampu | Rito Efendi |
| 67 | Yang Tumbuh di Belakang Rumah | Wilmi Halimah |
| 68 | Gelisah Malam di Etalase Second | Rio Satori |
| 69 | Salju Hitam | Stepanus Rico |
| 70 | Keluarga Kudus | Nathanio Chris Maranatha Bangun |
| 71 | Eksorsisme Internal | Edi Rakasiwi |
| 72 | Perempuan yang Menjaga Malam | Bintan Laura Vicuna |
| 73 | Tanah, Nama, dan Kepulangan | Pankrasius Tevin Lory |
| 74 | Goresan Pertama di Perpustakaan Kota | Nandito Dafa Ardyansyah |
| 75 | Atas Nama Ketertarikan | Muhammad Alie |
| 76 | Spektrum Cahaya | Ahmad Syauqi |
| 77 | Monolog Kayu dan Silsilah Luka | Clairine Diki |
| 78 | Kolam Pak Darma | Muhammad Keshava Qadri |
| 79 | Sandyakala | Jdsea |
| 80 | Sirna | Cheyenne Tara R. |
| 81 | Putih Abu-Abu | Akhmad ZamZami |
| 82 | Cincin yang Membawa Kebenaran | Fikri Rahmanda Aditya |
| 83 | Halaman yang Tahu Rahasiaku | Ahmad Benny Adhi Pratama |
| 84 | Singolot | Jihan Alicia |
| 85 | 5 Menit Lagi | Farel Al Ghozali |
| 86 | Pelindung dari Pasirluhur | Daffa Khamdan Pratama |
| 87 | Asmaraloka yang Lumpuh | Nanda Alifia |
| 88 | SECANGKIR TEH DI HARI JUMAT | Fransiska Marieta |
| 89 | Bapak dan Rokoknya | Arie Fajar Rofian |
| 90 | Di Balik Akhir | Manda Aryani |
| 91 | Senar yang Putus | Ve Anjani |
| 92 | Mata Jiwa | Kayla Aulia |
| 93 | Gaun Merah | Nurzillatum Nadya |
| 94 | Mesin Cuci Ibu | Fiet Yenilla |
| 95 | Mencecap Garam di Muara Kapuas | Rosliza |
| 96 | O-I: One’s Own Intelligence | Isfan Yunusah Putra |
| 97 | Operasi Jemuran | Renzo Safa |
| 98 | Meet The Writer | Averel Cy |
| 99 | Jangan Tinggalkan Aku Sendirian, Ayah! | Tsamara Rifqi Evitha |
| 100 | Balada Tak Jodoh | Azzahra Devita Nur Habiba |
| 101 | Ayahku Kestariaku | Khairani Aulia |
| 102 | Pulang dari Amarah | Muhammad Afiy Hasra |
| 103 | Pena di Dalam Cerita | Aisyah Meidina |
| 104 | Aku Sayang Ibu | zainidhlnn |
| 105 | Bunga Tumbal di Balik Tembok Adat | Almira Nayla Wihendra |
| 106 | Sepia Bara di Ujung Haluan | Zainal Arifin |
| 107 | Secangkir Qahwah di Kedai Abu Bassam | Dadan Hamdan Syukrillah |
| 108 | Perempuan yang Menunggu Pagi | Cerita Mutia |
| 109 | Tan & Kai | Mayda Nurul Habibah |
| 110 | Kita yang Tumbuh Bersama | Alzenna Zaskia Salsabila |
| 111 | Tujuh Hari yang Tersisa | Diana Rimawati |
| 112 | Senapan di Balik Kerai | Ferisa |
| 113 | Lakon | Wesly Zhelda |
| 114 | Burung Hantu | Baskara Baladewa |
| 115 | Kereta Takdir | Risali Muftazani |
| 116 | Cukup Sampai di Kita | Shafira Maulida Azzahra |
| 117 | Tanah yang Tak Pernah Menyerah | Gratia Christy Lekransy |
| 118 | Langkah Kecil di Lelogama | des doko |
| 119 | Putih Biru | Nasrani Manilei |
| 120 | Talino | Astrilia Pinky |
| 121 | Yang Sudah Tertakar Tidak Akan Tertukar | Ela Sari |
| 122 | Dua Jejak di Jalan Setapak | Yudhistira Permana Anantahugo |
| 123 | Kutukan Rambut Hitam dan Khasiat Darah Pahlawan | Tubagus Kaisan Abirama Ahmad |
| 124 | Perjalanan Panjang | Sabrina Aristania Josohadisoerjo |
| 125 | Sejuta Harapan dalam Satu Umbi | Erni Purnamasari |
| 126 | Lelaki Pencuri Bayangan | Nando Gloria |
| 127 | Jam Pasir | Nabilla Azka Putri |
| 128 | Sadovnikov | Khoirul Rasyidin |
| 129 | Jejak Tanpa Langkah | Wa Ode Sitti Darlisa Pritama |
| 130 | Tunas yang Gamang | Andini Efendi |
| 131 | Jejak Terakhir di Balik Nada Lama | Zieda Imani |
| 132 | Bakso Meisari | Angelina Larasati |
| 133 | Wangi yang Tersisa | Muhamad Fatihin |
| 134 | Lima Puluh Ribu | Ali Syahrin |
| 135 | Lukisan Tanpa Aliran Darah | Asterio Ninara |
| 136 | Berjalan Menuju Surga | Maulana Ahmad Fawwaz |
| 137 | Tangan Kananku | Tama Rin |
| 138 | Sebelum Lampu Rumah Padam | Nursevi sukiyatin |
| 139 | Cicak-Cicak di Dinding | Insan Fana |
| 140 | Debu | Abdul Malik Azel H |
| 141 | Rahasia Sumini | Naila Zhafiratul Salma |
| 142 | Hak untuk Menjadi Kita | Riska Yahya |
| 143 | Alaya | Arum Cholikiyah Umami |
| 144 | Bakpao Cindo dan Egrang Kalimantan | Arlene Liu |
| 145 | La Douler Exquise | Emily Alamsyah |
| 146 | Sinar Suar | Almira Silmi Athiya |
| 147 | Bintangnya Datang | Shoja Mahiya Prayata |
| 148 | Lentera di Gudang Tua | Gracia Annabel Sitohang |
| 149 | Sandi Rumput di Buku Resep Ibu | Nur’ayniy Ajmaliyah |
| 150 | Mesin Cuci Ajaib Mama | Iqlima Reiska |
| 151 | Lentera Bintang | Qonita Althaf Habibah |
| 152 | Lilin yang Dipaksa Padam | Fanny Fajriah |
| 153 | Telepon yang Tidak Pernah Ibu Tutup Duluan | Dwi Safitriagustina |
| 154 | Petani yang Menanam Angin | Enola Candrika |
| 155 | Nirwarna | Insan Fana |
| 156 | C-You | Muhammad Adam Massa’id |
| 157 | Hal-Hal Kecil yang Membuatku Mengingatmu | Nuraini Masitah |
| 158 | Yang Berubah, Yang Tertinggal | Amalia Sam |
| 159 | Di Balik Jendela Bidik | Reynathan Falah Septiano |
| 160 | Golok yang Terjatuh | Wildan Nur |
| 161 | Kamar Nomor 17 | Renaldi Chandra |
| 162 | Makam Bagi Para Pedamba | Ihsan Alfin |
| 163 | Terperosok di Negeri Sendiri | Bariyah Umniyah El Imani Mahmudatan |
| 164 | Daun Pegagan di Sore Ramadan | Fitri Febrina |
| 165 | Ambyar Syahdu | Nabila Nur Iftitah |
| 166 | Ikan Asin Abah | Diena Raysa |
| 167 | Resep dan Kue Terakhir Buatan Ibu | Graciayin Putri Hendiana Taswin |
| 168 | Mengeja Hujan yang Jatuh Terbalik | Zafira Fitria Al-Faizah HT |
| 169 | Di Balik Senyum yang Sederhana | Lamsiana Bintang |
| 170 | Tukar Gadai | Fitri Yulia |
| 171 | Menghapus Tulisan Tuhan | Diyah Alfi |
| 172 | Cerita Perempuan Penghibur | Petrus Setiawan |
| 173 | Di Balik Gagang Pintu yang Berputar | PintaUli Selvyanita |
| 174 | Layar Senja | Nur Rawdotul Jannah |
| 175 | Nuna | Pebry Ajeng Cahyani |
| 176 | Tunggu Aku Sampai | Eko Wahyudi |
| 177 | Beras dan Selembar Dua Puluh RIbu | Hilaria Ubeq |
| 178 | Untukku dan Mereka | Ayu Ulul Azmi |
| 179 | Mama, Aku Tersenyum | Siti Khoirun Ni’mah |
| 180 | Hujan di Atas Lampu Kuning | Carthelaya Leros |
| 181 | Sisa Langkah | Wahyu Deny Putra |
| 182 | Ungkapan | Misael H. Pasaribu |
| 183 | Jalan yang Akan Aku Lalui | Ahnaf Khodhi Zuhair |
| 184 | Si Kucing Hitam Bermata Hijau | Funnisa |
| 185 | Sutirah | Adena Sihudin |
| 186 | Asmara di Kampus Tua | Anak Agung Suantara |
| 187 | Di Balik Daun yang Diam | Indi Windiani |
| 188 | Stasiun Tua | Muhammad Afdhal Khair |
| 189 | Mengikhlaskan Bulan Juni | Abygail Lorris Jiva |
| 190 | Langit Setelah Hujan | Siti Nur Aulia |
| 191 | Mak Jenin | Shabrina Zahra R. |
| 192 | Pasu | Ti Shira |
| 193 | Bucin Tanah Air: Janji Setia di Atas Tanah yang Digadaikan | Yulia |
| 194 | Aku Membiarkan Mereka Mati | Venny Adella |
| 195 | Petrikor | Niskala obs |
| 196 | Galon Kosong | Lathifa Nadiah Rahma |
| 197 | Aku Hebat Apa Adanya | Muhammad Nizam Adi Mulyono |
| 198 | Chronicles of Samaranth: Takdir Tujuh Bintang | Fiorenza Verda Hasna |
| 199 | Dunia di Balik Canting | Hanifah Nur Fitriana |
| 200 | Mereka yang Datang di Tengah Luka | Fauzan Bakhtiar |
| 201 | Buku yang Tidak Pernah Selesai | Emil Milla |
| 202 | Qia dan Misi Kemerdekaan Ayam | Areeha Meugumi |
| 203 | Cahaya di Balik Pilar Asap | Malika Rafa Zahira |
| 204 | Pulang ke Arah Luka | Rustiyana |
| 205 | Di Antara Halte | Evi Saviar |
| 206 | Hadiah Terbesar Bapa untuk Diriku | Limmu |
| 207 | Haluan Tenggarang | Sayyidan Maulana Husain |
| 208 | Masih di Sini, di Atas Badai | Shavi |
| 209 | Samsara | Made Adenia Kertianing Permatasari |
| 210 | Mengejar Bulan | Eithel Dannel Abimael Timothea |
| 211 | Kunci Keselamatan | Veren Tapatab |
| 212 | Arsip Waktu yang Tidak Pernah Ada | Haikal Syafiq Wigusno |
| 213 | Hiduplah Sebagai Manusia | Regawa |
| 214 | Anak yang Tidak Boleh Tenggelam | Najmuddin |
| 215 | Lautan Malam Itu | Haura Yumna Junu |
| 216 | Somnium | Nisanula |
| 217 | Jalan Pulang ke Pojok Masjid | Dika Kurniawan |
| 218 | Sembilan Alarm | ysk |
| 219 | Harga Merdeka | Fesilitas Hesley Mang |
| 220 | Piring Kosong Aira | Fadilah Andina Hikmah |
| 221 | Before Tomorrow Becomes a Stranger | LateNight Choco |
| 222 | Tak Kenal Maka Tak Sayang | Muhammad Rizqy Madina |
| 223 | Seroja Berdarah | Selvia Lestari |
| 224 | Pulau Rhun | Ghea Ananda Savitri |
| 225 | Pesta Para Bedebah | Stanley Imanuel |
| 226 | Malaikat Kecil yang Tersakiti | Suci Shara Dina |
| 227 | Perempuan Batu Karang | Tri W. |
| 228 | Di Balik Pesta | Ratu Tarirahmani Azmi |
| 229 | Halaman yang Belum Sempat Terbaca | Zahra Bellicia |
| 230 | Hitungan Ketiga Puluh | Teguh Sakti Pratama |
| 231 | Bertemu Sang Jenderal | Indhira Syah |
| 232 | Padang Bunga | Ivander Allison Huang |
| 233 | Risalah Kuno dan Dinding yang Abadi | Zarvia Liau Nillah |
| 234 | Mawar di Senja Hari | Dandyoo |
| 235 | Ibu, Aku Harus Bagaimana? | Josua Sibarani |
| 236 | Tidur di Dalam Tidur | Zulfan Fauzi |
| 237 | Mimpi Bukan Bunga Tidur | Cintya Manik |
| 238 | Adiwarna | Ni Putu Dian Paramita |
| 239 | Pertemuan Keempat | Anqiyaa Ahnaf |
| 240 | 09:45 | Raissa Erfita Zahra |
| 241 | My Idols | Dezhan |
| 242 | Pengantin Sang Naga | Nayla Shafiqa Putri |
| 243 | Penelitian Kapal Samudra Nirmala | Brigitta Priscilla Angellina Putri |
| 244 | Birahi Kucing Betina | Ab Asmarandana |
| 245 | Busa di Cakrawala | Maysun Maritsa |
| 246 | Melati Sang Mahapatih | Burhan Sidik |
| 247 | Pukul 03.00 WITA | Yanti Mesak |
| 248 | Perempuan Pencari Kayu Bakar yang Merindukan Anaknya | Mohammad Sholichin |
| 249 | Antara Waktu dan Kita | Fahira |
| 250 | Lubang di Ujung Dunia | Wijdaan Alzainki Adha |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.