Lomba Menulis Cerpen Nasional 2026 Tulis.me

Catatan Juri

Menemukan Gaharu di Belantara Rimba

Memang masih ada yang menulis cerita pendek? Atau pertanyaannya coba digeser, memang masih ada yang membaca cerpen? Ketika dunia berlari cepat, manusia dikejar cicilan dan tenggat pekerjaan, algoritma sosial media memperpendek rentang konsentrasi manusia, dan seterusnya. Lebih-lebih saat akal imitasi lebih kilat menelurkan cerita dari manusia, yang sejatinya sumber “akal” dari entitas bernama akal imitasi itu sendiri. Pertanyaan ini hadir dan gentayangan di kepala saya sebagai penguji eksistensi cerita dan pencerita itu sendiri, saya menaksirnya demikian.

Namun, suatu malam saya pergi ke toko kelontong Madura yang sejatinya tidak jauh berjarak dengan minimarket modern dengan lampu lebih terang, lebih cepat, dan lebih tertata. Kelontong Madura itu tetap eksis dengan kecerkasannya melayani. Saya mengibaratkan cerita seperti sajian toko kelontong itu. Dia hadir dan seharusnya akan terus hadir selama masih ada manusia yang pukul tiga pagi mencari cairan pel. Cerpen hadir dan sepertinya akan terus hadir selama manusia percaya cerita selain penghibur juga konten itu sendiri. Dan memang demikian bukan manusia hidup sebagai homo fabul; makhluk yang gemar membaca cerita, menulis cerita, dan diceritakan sebuah cerita. Dan ketika membaca ribuan judul cerpen, setidaknya saya yakin masih banyak yang mau menulis, hendak jadi penulis, ingin lebih berakal dari akal manusia.

Murakami dalam buku Blind Willow, Sleeping Woman mengibaratkan cerpen adalah sepetak taman dan novel adalah belantara rimba. Ibarat ini memudahkan dalam proses menulis, tetapi membaca (dan kemudian mengomentari lantas menilai) ribuan cerita yang kadang hanya 5 halaman, beberapa sampai belasan hingga puluhan halaman, benar-benar masuk dalam rimba yang entah mana ujung terangnya. Dan rasanya mungkin demikianlah sebuah usaha yang dalam sunyi dikerjakan para redaktur.

Semakin masuk ke rimba itu, kita akan mudah menemukan pola-pola. Beberapa cerita tidak mahir memilih judul; anggap saja kalau plating makanan tidak menarik dalam serangkaian sajian sudah pasti kurang menarik. Cerita-cerita yang ditulis seperti selembar curriculum vitae bisa jadi berasal dari penulis yang tidak banyak membaca fiksi; sebab fiksi yang berjudul curriculum vitae (ada novel dan ada judul puisi) bahkan tidak memakai kalimat; “nama saya ….. kelas ….” Kecenderungan ini mungkin (masih bisa diduga) menganggap menulis cerpen selaiknya menulis catatan harian. Kecenderungan lain yang sangat lazim ditemukan adalah hasrat penulis cerita untuk menjadi juru moral atau juru penyampai pesan. Cara-cara menulis seperti ini bukan sesuatu yang buruk (bisa jadi, andai memang ditulis dengan kemampuan yang mumpuni, sebab memang tidak ada aturan kaku dalam penulisan kreatif), tetapi sayangnya kebanyakan tubuh cerita yang mengandung kecenderungan seperti ini pada dasarnya ditulis tanpa riwayat membaca yang telaten dan tanpa ketekunan menulis.

Selain itu, beberapa penulis juga masih terus-terusan menulis sesuatu yang boleh disebut klise. Lagi-lagi klise dan tidak klise ini bukan sesuatu yang kaku dan tabulasi yang rigit. Namun, dari sekian ribu cerita yang kerap diulang adalah soal romansa/cinta semasa remaja/atau cinta yang tidak tergapai. Bukankah tema itu tema yang abadi selama manusia masih hidup? Benar. Namun kematangan pengolahan tema menjadi cerita yang bagus ternyata memang membutuhkan jam terbang. Ya, bila kamu mencintai ketua osis kemudian hingga lulus tidak kesampaian, ya ini tidak ubahnya menulis catatan harian semata. Andai bisa diolah lebih, perkara yang sederhana ini bisa jadi cerita yang kuat. Menyingkirkan tema-tema percintaan di masa sekolah dan kuliah bukan berarti menihilkan urgensi cerita ini. Hilman, Ashadi Siregar misalnya menulis tema yang kurang lebih sama, tapi tetap menarik secara cerita dan di beberapa titik tidak menjadi klise. Jadi bukan soal tema, tapi cara bercerita dan pemilihan sudut pandang.

Jadi sampai di titik ini, tentu kita sudah tahu betapa rimba-nya rimba berisi ribuan cerita yang harus dibaca ini? Dari ribuan cerpen kecenderungan-kecenderungan seperti ini bertebaran di belantara rimba itu, dan membaca judul yang menjauhi kecenderungan itu ibarat gaharu di tengah pokok-pokok akasia.

Cerpen berjudul “Tahi Kucing dan Hal-Hal yang Tak Selesai”, meski tidak pernah terang siapa sebenarnya penulis dalam naskah ini, tampak betul penulisnya telah memiliki kecakapan menulis yang baik. Dan itu sudah menyenangkan. Ini cerpen yang menurut saya ditulis dengan pandangan induksi cerdas. Dari persoalan yang sederhana merembet ke mana-mana, dan itu menarik. Andai boleh memberi catatan: kecerdasan seorang penulis tidak perlu tersuratkan dari catatan kaki asal-muasal judul. Biarlah sesekali kita sepercaya diri Murakami tanpa perlu memberi keterangan dari mana dia “meminjam” 1Q84, Norwegian Wood, Men Without Women. Perilaku name dropping seperti ini (atau kegemaran memberi sederet catatan kaki secara umum) rasanya perlu dikurangi agar proses pembacaan menyenangkan. Meski selama pembacaan tidak pernah mengetahui jenis kelamin penulis, saya bisa menduga cerpen enak ini ditulis oleh laki-laki. Bukan hanya soal tokoh utama aku adalah laki-laki, juga perihal hamil-tidak-hamil seorang istri dipotret dengan lapisan “kulit ari” semata. Meski demikian, cerpen ini adalah gaharu paling wangi dari ribuan judul yang dibaca.

Cerpen mungkin fiksional, tapi riset adalah kunci banyak cerita bagus, sependek atau sepanjang apa pun cerita itu. Cerpen “Rempah untuk Saudagar” adalah bukti ketelatenan seorang penulis dalam melakukan riset sekaligus menjalin cerita. Cerita berlatar sejarah memiliki tantangan sendiri, terkhusus detail-detail sejarah yang butuh ekstra lebih dalam pengumpulan data. Dan itu sudah cukup. Andai boleh memberi saran, kecakapan kamu menyusun adegan per adegan harus diseimbangkan dengan kemampuan menggambarkan suasana. Ini seperti kamera kurang bersih dilap, jadi bentuk gedung kurang jelas, lekuk jalan kurang kentara. Cerita berjalan dengan bagus, tapi kiri-kanan yang harusnya menarik dilewatkan begitu saja. Namun, dengan kemampuan ini, tolong informasikan saya kalau kamu menulis novel lebih panjang. Saya ingin membacanya.

Satu lagi yang setidaknya membuktikan bahwa cerpen dengan tema yang “biasa” dan bisa jadi klise, andai dituliskan dengan apik akan tetap menyenangkan dibaca. Cerpen “Lantai yang Naik” adalah terbaik dari gerbong yang bertemakan seperti ini. Kisah-kisah hangat dari keseharian, relasi dalam rumah bisa diolah dengan pilihan POV yang oke, yang kuat, dan kalimat-kalimat yang prima. Jadi tidak lagi ada favoritism atas satu tema yang satu lebih berharga dari tema yang lain. Lagi cerita adalah cerita.

Dari sekian banyak cerita yang rasanya kurang dituliskan adalah kejenakaan. Rasanya susah sekali menemukan cerita humor (jenaka) dalam sebuah lomba. Atau memang pembaca (bisa jadi negara ini) memang suram melulu isinya, dan butuh dikompori semangat zero to hero? Entahlah, maka saya harus memberi apresiasi tertinggi untuk cerpen “Pequeño!” sebelum dikejutkan di akhir cerita, saya membayangkan petinju Filipina. Namun, di akhir saya tertawa. Saya rasa meski cerita klise, dengan norma dan “pesan” yang diharuskan, rasa jenaka yang menyenangkan selama membaca ini perlu dianggap sebagai satu gaharu lain yang perlu diberi catatan tersendiri.

Jadi? Tidak perlu kesimpulan tentunya. Kecenderungan-kecenderungan klise, memberi dakwah, menulis catatan harian jamak. Beberapa cerpen yang kami temukan menarik dan menyenangkan dibaca bisa jadi gambaran sejauh mana sebuah lomba hadir memberi ruang. Dan ribuan cerita seperti meyakinkan kalau cerita dan pencerita itu tetap akan dibutuhkan. Selamat kepada siapa pun yang namanya ada dalam daftar. Semoga suatu kali saya bisa berjumpa dengan cerita kalian yang lebih banyak, lebih panjang (mungkin) entah di perlombaan lain, atau di teks-teks penuh kegembiraan. Selamat bergembira, seperti kami bergembira membaca cerita kalian.

Teguh Affandi

Bayangkan sederet pintu yang jumlahnya tak terhingga, lalu kamu diminta membukanya satu per satu. Begitulah perasaan saya saat membaca cerpen pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya dalam penilaian Lomba Cerpen Ke-23 Tulis.me. Setiap tulisan menghadirkan persoalan dan cara bertutur yang berbeda-beda. Saya mengalami perjalanan naik-turun dalam sekali duduk. Saya mendengar suara orang menangis, ikut bergembira dalam hubungan persahabatan, hingga turut berduka atas kehilangan.

Cerpen-cerpen peserta mengangkat tema yang beragam. Beberapa penulis memilih menghadirkan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sementara yang lain membangun cerita melalui latar sejarah, budaya lokal, atau situasi yang tidak biasa. Cerpen, yang merupakan karya tulis dengan kesan ringan, kini menjelma menjadi alat untuk merekam pengingat, kritik sosial, dan perayaan. Bagi saya, keragaman ini menunjukkan bahwa para penulis memiliki kepekaan yang tinggi sekaligus ketertarikan yang tidak selalu sama dalam memandang kehidupan.

Dari cerpen-cerpen yang menempati posisi teratas, terlihat bahwa kekuatan cerita dapat hadir melalui pendekatan yang sangat beragam. Tahi Kucing dan Hal-hal yang Tak Selesai, misalnya, menonjol melalui satire sosial serta kontradiksi perilaku manusia. Saat membacanya, kami tergelitik dan menerka-nerka: sebuah kegembiraan bagi cerpen yang apik. Rempah untuk Saudagar, di sisi lain, merangkai latar perdagangan rempah dan eksploitasi pekerja. Kejadian-kejadian di dalamnya membentuk petualangan yang kaya konflik dan layak dinikmati. Sementara itu, Juru Riwayat menghadirkan refleksi tentang keluarga, ingatan, dan reputasi seseorang. Penulis memadukannya melalui konflik yang tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Tak kalah unik, cerpen berjudul Lantai yang Naik menggunakan metafora secara kuat untuk menggambarkan persoalan sosial dan kehidupan keluarga. Pun, saya tak berhenti kagum saat membaca 3 Tersangka 2 Terdakwa 1 Tercinta yang memadukan unsur misteri dengan persoalan hukum dan hubungan antartokoh. Di posisi keenam, Barangkali Tuhan Lupa Menjemputnya di Rumah Bordil mengangkat eksploitasi dan ketidakadilan melalui pergulatan emosional serta persoalan iman.

Keenam cerpen di atas hanya sedikit dari kilauan kecemerlangan cerpen-cerpen terpilih. Seluruhnya menunjukkan bahwa gagasan yang kuat dapat dikembangkan melalui berbagai cara: satire, petualangan, refleksi moral, metafora, misteri, maupun konflik emosional. Kesamaan yang mempertemukan mereka adalah kemampuan mengolah tema menjadi cerita yang memiliki daya tarik dan meninggalkan “sesuatu” untuk direnungkan pembaca.

Namun, perlu diakui, gagasan yang kuat belum cukup untuk menghasilkan cerita yang kuat pula. Dari banyaknya cerpen yang masuk, saya menemukan beberapa di antaranya menawarkan premis menjanjikan, tetapi konfliknya tidak berkembang secara meyakinkan. Ada pula cerita yang terasa terlalu ingin menyampaikan pesan sehingga beberapa hal dijelaskan berulang kali melalui narasi. Padahal, pembaca sebenarnya bisa menangkap pesan melalui tindakan tokoh atau rangkaian peristiwa. Selain itu, bagian akhir cerpen juga kerap menjadi tantangan tersendiri. Beberapa cerita sudah membangun konflik dengan baik, tetapi penyelesaiannya justru terburu-buru sehingga tidak memberi ruang bagi perkembangan karakter. Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa menulis cerpen tidaklah sepele. Menghasilkan cerpen yang berkualitas bukan hanya tentang menemukan ide, melainkan juga tentang mengetahui bagian mana yang perlu dikembangkan atau justru dibiarkan untuk ditafsirkan pembaca.

Seluruh cerpen dalam 250 besar telah memperlihatkan betapa luasnya tema dan pendekatan yang dihadirkan para penulis. Tidak semua kekuatan cerita muncul dalam bentuk yang sama: ada yang unggul dalam keberanian mengangkat isu, ada pula yang memiliki detail pengamatan yang menarik. Perbedaan peringkat merupakan hasil pertimbangan terhadap keseluruhan unsur naskah berdasarkan kriteria penilaian, bukan penilaian mutlak atas tema, pengalaman, atau gagasan yang dipilih penulis.

Cerpen-cerpen yang belum masuk dalam 250 besar bukanlah cerpen yang tidak memiliki keunggulan. Percayalah, kami pun memerlukan waktu yang panjang untuk mempertimbangkan cerpen-cerpen tersebut di antara karya-karya potensial lainnya. Meski demikian, kami percaya bahwa setiap cerpen memiliki ruang untuk dikembangkan, baik melalui pendalaman karakter, penguatan konflik, penataan alur, maupun penyuntingan bahasa.

Terima kasih kepada seluruh penulis yang telah memercayakan karyanya untuk kami baca dan nilai. Saya harap, pengalaman para penulis tidak berhenti pada hasil akhir. Semoga lomba cerpen ini juga bisa menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang tengah ditempuh.

Teruslah membaca, mengamati, mempertanyakan, dan menulis. Ingatlah bahwa cerita yang baik tidak selalu lahir dari gagasan yang paling besar, tetapi dari kepekaan mengamati sesuatu.

 

Aprilia Kumala

Fasilitas Lomba

Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 15 November 2026. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 085156556750 ya.

Ikuti lomba menulis ke-24 karena semua peserta lomba ke-23 ini mendapatkan voucer diskon 20%.

Pengumuman Pemenang

Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-23. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.

Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 085883608022​. Pastikan nomornya sama.

Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-23 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Berikut tabel urutan peringkat 250 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.

PERINGKATJUDUL CERPENNAMA PENULIS
1Tahi Kucing dan Hal-hal yang Tak SelesaiYogarta Awawa Prabaning Arka
2Rempah untuk SaudagarReza Luthfi Aulia
3Juru RiwayatAnindita Buyung Pribadi
4Lantai yang NaikTsaqifah Nurul Azkia
53 Tersangka 2 Terdakwa 1 TercintaAjeng Istiqomah
6Berangkali Tuhan Lupa Menjemputnya di Rumah BordilAnanda Aprilia
7Tanah Desa RimbaReza Luthfi Aulia
8Nomor Antrean yang Tidak Pernah DipanggilAri Sarbani
9Kata Tidak yang Jatuh di Ubin MusalaRiny Yunita
10Sembilan Belas MenitMuhammad Ibrahim
11Parade Pencuri di Tempat SuciFachrial Rizqi
12Nawu Raha: Sebuah Awal Esa TerbilangLorensius 
13Ali Meminang SophiaHusen Mulachela
14Ayah Tidak Pernah DatangRamadhanu
15Sebidang Langit Milik RahUlya
16RasimMuhammad Ibrahim
17Pequeño!N. Ishaara
18Barangsiapa BerdoaMustofa
19Arang Menjadi AbuUd Twelve
20Rudi Gaber yang Harus Menghilang Pergi untuk SelamanyaJuli Prasetya
21Leluri Berdarah di Atas Lincak BambuAprillia Ratna Sasmita
22Bukan AnakkuMrsCyan
23Monster BiyungDamara Ari Kaltsum
24Cobek dan Tulang Ikan MasAhmad Sopian
25Kalau Menurut MasMuhammad Ibrahim
26Perempuan di Luar RakitPramita Anastasia
27Pompong Pak Nggahduntres
28Piala untuk Lima BayanganNova Ramadan
29Rigor MortisAsep Mufti
30Dua KataSyifa Salsabila
31Cangkir Cangkringan TerakhirAnesia
32Jaket Kesayangan BapakRobi Hidayat
33Bara yang Tak Lagi KutontonMichael Then
34Bolpoin KucingTahta Rahmatul Kahfi
35Gadis Kecil yang Dijagal di Bawah Bulan SidiWardedy Rosi
36Radio yang Belum DiambilTsaqifah Nurul Azkia
37Di Meratus Tarian Itu Tak Akan Pernah UsaiLorensius 
38Ambang BatasNaurah Hanin Ghaisani
39Di Antara Desing PeluruAthaya Jauzaa Zahira
40Bau IbuShafa Amalia
41Ritual MangkatFathurrozi Nuril Furqon
42Kursi yang Tak Membuatnya TinggiMuhamad Yusuf
43Pemangsa Pakan BabiTiara Rahidayati
44Bunyi Pantul TerakhirHaibil Haqi Naajihan
45Pelita IngatanNaufal Aziz
46Di Ujung Senja Ini, Aku Masih MengingatmuC. Laika
47Suling Pemanggil Angin KrayanSisca Ayu Azhari
48Asap dan Bayang-Bayang Punggung TuaNur Leilani Nabilah
49Cahaya di MercusuarRegina Sayo Randa Nirmala
50Di Antara Anak TanggaPutri Caroline Widjaja 
51Kota ManusiaNorthy
52Di Antara yang Tak TerlihatArika Avonleah
53Gerhana di Atas MejaNaufal Dzaky Arizqi 
54Malam Ketika Wening Meminta WajahAyu Sri Winahyu
55Algoritma yang Membaca PikiranPutri Aqilah
56Belok Kiri di Pertigaan, Kita Lepas Dahaga (Bersama)Ailaz
57Titik Koma dan Titik BalikDzaky Rafif Ariza
58Sajeng RennuAbdul Zahir
59Kucing Oren yang Menolak Hukum Termodinamika Septiar Priyatmo
60ZirahMuhammad Laila Maghfurrodhi
61Penadah KenanganYogarta Awawa Prabaning Arka
62Mors OmnibusNordunata
63Aku Selalu Menanti Kepulanganmu (Duka di Balik Ombak)Dominggas Tampesy
64Renjana di Ujung SauhRaisa Nurahima Gunawan
65Kios Payung Pukul Tiga SoreC. Laika
66Saklar LampuRito Efendi
67Yang Tumbuh di Belakang RumahWilmi Halimah
68Gelisah Malam di Etalase SecondRio Satori
69Salju HitamStepanus Rico
70Keluarga KudusNathanio Chris Maranatha Bangun
71Eksorsisme InternalEdi Rakasiwi
72Perempuan yang Menjaga MalamBintan Laura Vicuna
73Tanah, Nama, dan KepulanganPankrasius Tevin Lory 
74Goresan Pertama di Perpustakaan KotaNandito Dafa Ardyansyah
75Atas Nama KetertarikanMuhammad Alie
76Spektrum CahayaAhmad Syauqi
77Monolog Kayu dan Silsilah LukaClairine Diki
78Kolam Pak DarmaMuhammad Keshava Qadri
79SandyakalaJdsea
80SirnaCheyenne Tara R.
81Putih Abu-AbuAkhmad ZamZami
82Cincin yang Membawa KebenaranFikri Rahmanda Aditya 
83Halaman yang Tahu RahasiakuAhmad Benny Adhi Pratama
84SingolotJihan Alicia
855 Menit LagiFarel Al Ghozali 
86Pelindung dari PasirluhurDaffa Khamdan Pratama
87Asmaraloka yang LumpuhNanda Alifia
88SECANGKIR TEH DI HARI JUMAT Fransiska Marieta
89Bapak dan RokoknyaArie Fajar Rofian
90Di Balik AkhirManda Aryani
91Senar yang PutusVe Anjani
92Mata JiwaKayla Aulia
93Gaun MerahNurzillatum Nadya
94Mesin Cuci IbuFiet Yenilla
95Mencecap Garam di Muara KapuasRosliza 
96O-I: One’s Own IntelligenceIsfan Yunusah Putra
97Operasi JemuranRenzo Safa
98Meet The WriterAverel Cy 
99Jangan Tinggalkan Aku Sendirian, Ayah!Tsamara Rifqi Evitha
100Balada Tak JodohAzzahra Devita Nur Habiba
101Ayahku KestariakuKhairani Aulia
102Pulang dari AmarahMuhammad Afiy Hasra
103Pena di Dalam CeritaAisyah Meidina
104Aku Sayang Ibuzainidhlnn
105Bunga Tumbal di Balik Tembok AdatAlmira Nayla Wihendra 
106Sepia Bara di Ujung HaluanZainal Arifin
107Secangkir Qahwah di Kedai Abu BassamDadan Hamdan Syukrillah
108Perempuan yang Menunggu PagiCerita Mutia
109Tan & KaiMayda Nurul Habibah
110Kita yang Tumbuh BersamaAlzenna Zaskia Salsabila
111Tujuh Hari yang TersisaDiana Rimawati
112Senapan di Balik KeraiFerisa
113LakonWesly Zhelda
114Burung HantuBaskara Baladewa
115Kereta TakdirRisali Muftazani
116Cukup Sampai di KitaShafira Maulida Azzahra 
117Tanah yang Tak Pernah MenyerahGratia Christy Lekransy
118Langkah Kecil di Lelogamades doko
119Putih BiruNasrani Manilei
120TalinoAstrilia Pinky
121Yang Sudah Tertakar Tidak Akan TertukarEla Sari 
122Dua Jejak di Jalan SetapakYudhistira Permana Anantahugo
123Kutukan Rambut Hitam dan Khasiat Darah PahlawanTubagus Kaisan Abirama Ahmad
124Perjalanan PanjangSabrina Aristania Josohadisoerjo
125Sejuta Harapan dalam Satu UmbiErni Purnamasari
126Lelaki Pencuri BayanganNando Gloria
127Jam PasirNabilla Azka Putri
128SadovnikovKhoirul Rasyidin
129Jejak Tanpa LangkahWa Ode Sitti Darlisa Pritama
130Tunas yang GamangAndini Efendi
131Jejak Terakhir di Balik Nada LamaZieda Imani
132Bakso MeisariAngelina Larasati
133Wangi yang TersisaMuhamad Fatihin
134Lima Puluh RibuAli Syahrin
135Lukisan Tanpa Aliran DarahAsterio Ninara 
136Berjalan Menuju SurgaMaulana Ahmad Fawwaz
137Tangan KanankuTama Rin
138Sebelum Lampu Rumah PadamNursevi sukiyatin
139Cicak-Cicak di DindingInsan Fana
140DebuAbdul Malik Azel H
141Rahasia SuminiNaila Zhafiratul Salma
142Hak untuk Menjadi KitaRiska Yahya
143AlayaArum Cholikiyah Umami
144Bakpao Cindo dan Egrang KalimantanArlene Liu
145La Douler ExquiseEmily Alamsyah
146Sinar SuarAlmira Silmi Athiya
147Bintangnya DatangShoja Mahiya Prayata 
148Lentera di Gudang TuaGracia Annabel Sitohang
149Sandi Rumput di Buku Resep IbuNur’ayniy Ajmaliyah
150Mesin Cuci Ajaib MamaIqlima Reiska
151Lentera BintangQonita Althaf Habibah
152Lilin yang Dipaksa PadamFanny Fajriah
153Telepon yang Tidak Pernah Ibu Tutup DuluanDwi Safitriagustina
154Petani yang Menanam AnginEnola Candrika
155NirwarnaInsan Fana
156C-YouMuhammad Adam Massa’id
157Hal-Hal Kecil yang Membuatku MengingatmuNuraini Masitah 
158Yang Berubah, Yang TertinggalAmalia Sam
159Di Balik Jendela BidikReynathan Falah Septiano
160Golok yang TerjatuhWildan Nur
161Kamar Nomor 17Renaldi Chandra
162Makam Bagi Para PedambaIhsan Alfin
163Terperosok di Negeri SendiriBariyah Umniyah El Imani Mahmudatan 
164Daun Pegagan di Sore RamadanFitri Febrina 
165Ambyar SyahduNabila Nur Iftitah
166Ikan Asin AbahDiena Raysa 
167Resep dan Kue Terakhir Buatan IbuGraciayin Putri Hendiana Taswin
168Mengeja Hujan yang Jatuh TerbalikZafira Fitria Al-Faizah HT
169Di Balik Senyum yang SederhanaLamsiana Bintang
170Tukar GadaiFitri Yulia
171Menghapus Tulisan TuhanDiyah Alfi
172Cerita Perempuan PenghiburPetrus Setiawan
173Di Balik Gagang Pintu yang BerputarPintaUli Selvyanita
174Layar SenjaNur Rawdotul Jannah
175NunaPebry Ajeng Cahyani
176Tunggu Aku SampaiEko Wahyudi
177Beras dan Selembar Dua Puluh RIbuHilaria Ubeq
178Untukku dan MerekaAyu Ulul Azmi
179Mama, Aku TersenyumSiti Khoirun Ni’mah
180Hujan di Atas Lampu KuningCarthelaya Leros
181Sisa LangkahWahyu Deny Putra
182UngkapanMisael H. Pasaribu
183Jalan yang Akan Aku LaluiAhnaf Khodhi Zuhair
184Si Kucing Hitam Bermata HijauFunnisa
185SutirahAdena Sihudin
186Asmara di Kampus TuaAnak Agung Suantara 
187Di Balik Daun yang DiamIndi Windiani
188Stasiun TuaMuhammad Afdhal Khair
189Mengikhlaskan Bulan JuniAbygail Lorris Jiva 
190Langit Setelah HujanSiti Nur Aulia 
191Mak JeninShabrina Zahra R.
192PasuTi Shira
193Bucin Tanah Air: Janji Setia di Atas Tanah yang DigadaikanYulia
194Aku Membiarkan Mereka MatiVenny Adella
195PetrikorNiskala obs
196Galon KosongLathifa Nadiah Rahma
197Aku Hebat Apa AdanyaMuhammad Nizam Adi Mulyono
198Chronicles of Samaranth: Takdir Tujuh BintangFiorenza Verda Hasna
199Dunia di Balik CantingHanifah Nur Fitriana
200Mereka yang Datang di Tengah LukaFauzan Bakhtiar
201Buku yang Tidak Pernah SelesaiEmil Milla
202Qia dan Misi Kemerdekaan AyamAreeha Meugumi
203Cahaya di Balik Pilar AsapMalika Rafa Zahira 
204Pulang ke Arah LukaRustiyana
205Di Antara HalteEvi Saviar
206Hadiah Terbesar Bapa untuk DirikuLimmu
207Haluan TenggarangSayyidan Maulana Husain
208Masih di Sini, di Atas BadaiShavi
209SamsaraMade Adenia Kertianing Permatasari
210Mengejar BulanEithel Dannel Abimael Timothea
211Kunci KeselamatanVeren Tapatab
212Arsip Waktu yang Tidak Pernah AdaHaikal Syafiq Wigusno 
213Hiduplah Sebagai ManusiaRegawa
214Anak yang Tidak Boleh TenggelamNajmuddin
215Lautan Malam ItuHaura Yumna Junu
216SomniumNisanula 
217Jalan Pulang ke Pojok MasjidDika Kurniawan
218Sembilan Alarmysk
219Harga MerdekaFesilitas Hesley Mang
220Piring Kosong AiraFadilah Andina Hikmah
221Before Tomorrow Becomes a StrangerLateNight Choco
222Tak Kenal Maka Tak SayangMuhammad Rizqy Madina
223Seroja BerdarahSelvia Lestari 
224Pulau RhunGhea Ananda Savitri
225Pesta Para BedebahStanley Imanuel
226Malaikat Kecil yang TersakitiSuci Shara Dina
227Perempuan Batu KarangTri W.
228Di Balik PestaRatu Tarirahmani Azmi
229Halaman yang Belum Sempat TerbacaZahra Bellicia
230Hitungan Ketiga PuluhTeguh Sakti Pratama
231Bertemu Sang JenderalIndhira Syah
232Padang BungaIvander Allison Huang
233Risalah Kuno dan Dinding yang AbadiZarvia Liau Nillah
234Mawar di Senja HariDandyoo
235Ibu, Aku Harus Bagaimana?Josua Sibarani
236Tidur di Dalam TidurZulfan Fauzi 
237Mimpi Bukan Bunga TidurCintya Manik
238AdiwarnaNi Putu Dian Paramita
239Pertemuan KeempatAnqiyaa Ahnaf
24009:45Raissa Erfita Zahra
241My IdolsDezhan
242Pengantin Sang NagaNayla Shafiqa Putri
243Penelitian Kapal Samudra NirmalaBrigitta Priscilla Angellina Putri
244Birahi Kucing BetinaAb Asmarandana
245Busa di CakrawalaMaysun Maritsa
246Melati Sang MahapatihBurhan Sidik
247Pukul 03.00 WITAYanti Mesak 
248Perempuan Pencari Kayu Bakar yang Merindukan AnaknyaMohammad Sholichin
249Antara Waktu dan KitaFahira
250Lubang di Ujung DuniaWijdaan Alzainki Adha

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,

Tulis.me

Tentang Tulis.me

Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.