Catatan Juri

Beberapa orang membedakan antara menulis dan menjadi penulis. Menulis, sederhananya, menghasilkan tulisan. Menjadi menulis berarti proses, kadang panjang, untuk mampu menghasilkan tulisan secara konsisten dalam produksi dan meningkat secara kualitas. Ada orang yang mulai menulis karena tugas sekolah atau kuliah, karena luka batin (self-therapy), atau seperti dalam agenda ini, karena suatu perlombaan. Beberapa orang mungkin baru pertama kali menulis dan yang lain telah lebih dari sekali menghasilkan tulisan. Apa yang berbeda di antara masing-masing orang tersebut? Dari sudut pembaca, jujur saja, seorang pembaca tidak peduli dan tidak mau tahu bagaimana kita berproses, seberapa berdarah kita menulis, juga masa bodoh seberapa menderita kita berusaha menyelesaikan sebuah cerita pendek sekian halaman. Mereka hanya ingin mendapatkan cerita bagus. Mereka telah mengalokasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin biaya untuk memperoleh sebuah cerita pendek hingga sampai di tangan mereka. Mereka perlu mendapatkan sesuatu yang berharga. Pertanyaannya, bagaimana cara memberi “sesuatu yang berharga” pada pembaca dari cerita pendek yang kita tulis? Kabar baiknya, cerita pendek, dari yang paling “menarik” atau yang “membosankan” sama-sama tersusun dari kata-kata. Mengapa kata-kata yang tersusun dari koleksi huruf yang sama, mampu menghasilkan “dampak” yang berbeda ke dalam pikiran pembaca? Di sinilah, kita mengenal apa yang disebut dengan “seni bercerita”.

Berdasarkan naskah-naskah yang masuk, beberapa masih tercekat dalam kemampuan dasar seni bercerita. Logikanya sangat sederhana, apabila kita bertemu seseorang, apakah kita akan menceritakan sesuatu yang biasa saja, atau mengabarkan hal-hal yang menarik perhatian lawan bicara? Kedua, kemampuan dalam mengolah kata, kemampuan teknis, mulai dari membuka cerita sampai seni menutup sebuah kisah, masih dapat diperdalam. Materi cerita yang bagus, akan menjadi hambar apabila seni meracik, mengolah, dan menyajikannya kurang lihai. Memang, sebagai penulis, ada kalanya kita berhasil pada satu cerita, ada kalanya kita merasa “gagal” dalam cerita yang lain. Namun demikian, kemampuan-kemampuan dasar dalam menulis ibarat seorang koki yang bisa melihat bagaimana lapisan bawang diiris dengan tepat seusai masakan yang dituju.

Pilihan-pilihan tema dari naskah-naskah yang masuk memiliki dominasi dan kecenderungan seperti; cerita sebagai cita-cita diri, cerita sebagai cermin kekecewaan, cerita sebagai replikasi diri, cerita dengan tema-tema—yang sering dianggap cerminan tragis, menarik, dan menarik air mata, menurut penulisnya, —yakni kematian dan kehilangan, serta cerita dengan tema-tema kesehatan mental dan idealisme sosial. Dalam hal tema personal, yang perlu diperhatikan: sesuatu bisa jadi terlihat menarik bagi penulisnya, karena “berjarak dekat”, sementara akan menjadi hambar bagi pembacanya “karena jaraknya jauh”. “Kami tidak ikut mengalami apa yang kamu alami, tunjukkan bagaimana penderitaan itu terjadi, sehingga kami bisa ikut merasakannya,” kata pembaca. “Saya tahu itu kebenaran, tetapi tolong jangan terlalu menggurui, tunjukkan saja ceritanya,” kata pembaca yang lain. Beberapa cerita yang berhasil terpilih adalah mereka yang membawa peristiwa dengan seni bercerita yang melibatkan emosi dan pemikiran pembaca, dengan sedikit mungkin terlalu menggurui, dan sebanyak mungkin melarutkan pembaca ke dalam narasi. Hal-hal seperti ini akan terus kita dalami bersama setiap kali menghasilkan sebuah tulisan, sebuah cerita pendek. Selamat kepada para juara dan selamat pada yang telah mampu menghasilkan karya.

Eko Triono

***

Apa yang pertama-tama saya dapat setelah berhadap-hadapan dengan ribuan naskah cerpen dalam lomba menulis cerpen Tulisme kali ini adalah sebuah petualangan. Petualangan itu membawa saya bertemu banyak sekali tokoh, menyinggahi pelbagai tempat, seakan turut mengalami bermacam-macam peristiwa, serta mendengar aneka ragam pesan moral. Sebagian (atau barangkali sebagian besar, malahan) pesan moral itu bergerak terlalu agresif, menampilkan dirinya secara terang benderang dan vulgar, lantas mengubah cerita menjadi semata kotbah atau nasihat. Situasi seperti itu mendorong saya terjatuh ke dalam ketidaknyamanan. Kotbah atau nasihat yang dijejalkan secara berlebihan melalui sebagian besar cerita seakan-akan menjadikan saya bocah yang bersalah, bocah yang tersudut di pojokan ruangan, dipaksa diam dan mendengarkan, lantas tentu saja satu-satunya hal yang saya ingini adalah segera pergi dari cerita semacam itu.

Sayangnya, setelah mampu melepaskan diri dari jeratan pesan moral yang terlalu kental, saya memasuki lanskap deskripsi yang terlampau klise. Berhamburan paragraf pembuka yang menggambarkan pagi bersama segala macam aktivitas bangun tidur secara berlarat-larat yang sesungguhnya tak punya andil dalam menggerakkan cerita atau penjabaran berlebihan tentang letak matahari serta berbagai-bagai kondisi cuaca yang justru mengganggu laju kisah. Persoalan-persoalan semacam ini, kadangkala, masih ditambah pula dengan bertebarannya dialog-dialog yang berupaya mereproduksi percakapan sehari-hari. Apa yang saya maksud percakapan sehari-hari adalah kalimat-kalimat basa-basi dalam dialog yang tidak memberi informasi baru, tidak berpengaruh apa-apa terhadap cerita selain memperpanjang halaman belaka.

Di titik lain, dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, berdiri pula cerpen-cerpen yang berupaya terlihat pintar, mati-matian menunjukkan bahwa dirinya disusun berdasarkan riset yang mendalam dan bahan yang kaya. Beberapa dari jenis cerpen seperti ini cukup berhasil, namun sebagian yang lain, ternyata, tak memiliki cukup kesabaran untuk melebur dalam alur dan penokohan yang liat sehingga nyaris terjerumus menjadi semacam esai.

Baru setelah melewati petualangan semacam itulah, saya (dan juri lain) berhasil memilih dan memilah dari ribuan naskah untuk menghasilkan satu daftar pemenang, yang dalam hemat kami, sudah selesai dengan persoalan kepengerajinan dalam seni menulis cerita, jeli dalam memilih tema, cakap mengambil sudut pandang, dan lain sebagainya. Dalam cerpen berjudul “Buku Nikah”, misalnya, yang kami sepakati sebagai juara pertama, pergolakan batin tokoh utama mengalir terukur dalam konflik yang cukup sublim, tema yang berlapis, serta sikap keberpihakan yang jelas kepada mereka yang tertindas. Perlawanan dalam cerpen ini, yang diwujudkan dalam permintaan cerai kepada sang kiai, adalah sebuah perlawanan yang sesungguhnya cukup keras, namun tidak disertai dengan darah atau makian atau perkelahian. Cerpen ini lembut dan garang dalam waktu yang bersamaan. Dalam cerpen “Kadaver dan Dosa-dosa”, riset dan bahan yang berlimpah dijalin dengan cukup solid untuk mempertanyakan sekaligus menertawakan klenik dan mistisisme, lantas meneranginya dengan sains dan nalar sehat.

Cerpen-cerpen pemenang di urutan selanjutnya, yang mustahil dibicarakan satu per satu dalam pertanggungjawaban pendek ini, niscaya memiliki kelebihan masing-masing. Dan itu bukan berarti bahwa cerpen-cerpen yang lain, yang pada akhirnya lepas dari daftar pemenang, tidak memiliki potensi sama sekali. Sebagian besar cerpen itu, sesungguhnya, saya percaya, akan tampil menjadi cerpen yang cemerlang jika disunting dan disunting ulang, diendapkan untuk kemudian disunting ulang dan disunting ulang. Di lain kesempatan, saya berharap bisa membaca hasil suntingan cerpen-cerpen tersebut, barangkali dalam lomba-lomba berikutnya.

Demikianlah.

Dadang Ari Murtono

***

Ini adalah pengalaman pertama saya dalam menjuri lomba cerpen dalam skala nasional. sebelumnya saya hanya pernah menjuri lomba mendongeng dan beberapa kali mereview cerpen. Tentu banyak perbedaan dalam prosesnya, namun satu hal yang sama adalah: sebuah cerita selalu menarik!

Dalam waktu kurang dari satu bulan, di awal tahun 2025 ini merupakan rekor membaca cerpen terbanyak yang pernah saya capai. Saya menemukan berbagai genre cerita dan sepertinya saya mulai bisa menebak kira-kira bacaan atau situasi seperti apa yang mempengaruhi seorang penulis sehingga menciptakan karya dengan genre dan gaya penulisan yang demikian. Agaknya lagi, saya juga mulai bisa menerka kira-kira sang penulis ini masih dalam tahap awal belajar atau sudah lanjut (ini membuat saya teringat dengan diri saya sendiri sewaktu awal mengenal penulisan, khususnya cerpen). Bagaimanapun, proses belajar memang harus terus berlanjut hingga akhir.

Selama proses penjurian, saya menjumpai berbagai cerpen yang mengangkat isu-isu sosial dan kemanusiaan dengan cara yang cukup unik, meskipun ada beberapa yang masih terasa kurang maksimal dalam penyajiannya. Isu-isu seperti kesehatan mental dan perubahan lingkungan menjadi tema yang sering muncul, menunjukkan bahwa para penulis memiliki kepekaan terhadap tantangan zaman. Namun beberapa cerpen terkadang gagal menggali potensi isu tersebut secara mendalam; tidak memberikan solusi atau pandangan yang cukup tajam. Selain itu, saya juga menjumpai beberapa cerpen yang mengusung gaya dongeng, dengan tokoh-tokoh peri yang manis dan cerita yang terasa penuh keajaiban. Meskipun menarik dan menyenangkan, gaya ini terkadang terkesan kurang memberi ruang untuk pengembangan isunya. Secara keseluruhan, meskipun banyak cerita yang memiliki kekuatan dan potensi, saya merasa bahwa masih ada ruang untuk menggali lebih dalam dan menyajikan ide-ide dengan cara yang lebih memikat dan relevan.

Dari sejumlah cerpen yang saya baca, saya menemukan bahwa tidak sedikit penulis yang tampaknya lebih fokus pada ekspresi pribadi, sehingga cerpen yang disajikan terasa seperti tulisan diary. Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam karya-karya tersebut malah cenderung melemahkan daya tarik tulisan, yang seharusnya bisa menciptakan kedekatan dengan pembaca. Alih-alih mengundang rasa empati, sudut pandang tersebut justru terkadang terkesan monoton dan terjebak pada narasi yang terlalu pribadi, sehingga pembaca sulit untuk terlibat lebih dalam dengan cerita yang dihadirkan.

Selain itu saya juga menjumpai penulis yang membagi cerpen mereka ke dalam beberapa babak dengan masing-masing babak diberi judul sub-bab. Secara teknis, pembagian seperti ini bukan masalah dan bisa jadi sebuah pilihan yang menarik untuk memperjelas struktur cerita. Namun yang menjadi catatan saya adalah bahwa antara babak satu dan babak lainnya kurang memiliki kesinambungan yang jelas, sehingga pembagian ini terasa terputus-putus dan malah membuat cerita jadi kaku. Sub-bab yang diberi judul justru menjadi jeda yang tidak perlu, mengganggu alur cerita dan membatasi fleksibilitas narasi. Sebaiknya, penulis bisa mempertimbangkan untuk menggantinya dengan narasi yang lebih mengalir atau dengan struktur yang lebih alami, tanpa perlu membatasi cerita dengan pemisahan yang berlebihan. Dengan begitu, cerpen akan terasa lebih hidup dan dinamis.

Menulis memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan struktur berpikir yang jelas dan kepekaan terhadap permasalahan yang ingin dikisahkan. Yang terpenting, kita tidak bosan membaca dan terus belajar. Semangat!

Imarafsah Mutianingtyas

Fasilitas Lomba

Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 16 Februari 2025. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.

Kelas Menulis Daring direncanakan akan dilaksanakan pada Minggu, 9 Februari 2025 pukul 20.00 melalui aplikasi Zoom. Waktu pelaksanaan dan tautan Zoom akan dibagikan melalui chat Whatsapp.

Pengumuman Pemenang

Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-19. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.

Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.

Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-19 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.

PERINGKATJUDUL CERPENPENULIS
1Buku NikahUbaidillah
2Kadaver dan Dosa-DosaJante
3Kegilaan dalam Tiga BabakVentino Alexsandra
4Bidadari dan Pencuri SapiRozekki
5Nieh: Hikayat MeurandehMellyan Cutkeumala Nyakman
6PuisiMuhammad Gibrant Aryoseno
7Bramacorah (Laki-laki yang Termangu di Depan PintuDewanto Amin Sadono
8Cerita Tentang: Hari Ini Kamu Mati dan Semangkuk Mie BabiJanuard Benedictus
9Gemuruh Tanah Basahtenunkata
10HeningMuhammad Gibrant Aryoseno
11Ayu Bawe dan SempuriHaleem
12TawananEko Setyawan
13Antan Patah Lesung Hilang Veraya Putri Alivia Darma
14Mati SuriMuhammad Sholichin Lazuardi 
15Kereta yang Tak Pernah AdaArka Azura
16Peristiwa di Lahan BerawaTjak S Parlan
17Malam MappaciRizan Panda
18Kedua Anak GeumalaRani Ramdayani
19Alkisah, Sebuah Kursi GoyangAchmad Ibnu Ibad
20Dua Kepala Angsa dan Kaki Tangan SetanArif Kurniawan
21Perempuan yang MenungguT. Sandi Situmorang
22Bulan KematianDivia Citra Muliya Prima Saputri
23Upah Mimpi Guru di Negeri Kaya RayaSalamet Herianto
24Rusuk Sapi dan Penerjemah SampahRozekki
25Hikayat Air Kencing KoharAnov
26Ponsel yang KudusNathanio Chris Maranatha Bangun
27Di Kepalamu, Hidup Seorang LelakiDhimas Bima Shofyanto
28Ibu Hendak ke JakartaT. Sandi Situmorang
29(Pintu) Surga Ada di Bawah Pohon BambuWahyu Hidayat
30Bintang TerangNajwa Haya Nadhiroh 
31Yang Lebih Legam dari HitamGilang Aprilian Nugraha Pratama
32Dihilangkan Sapi-sapi yang Menghibur KamiRosul Jaya Raya
33Miana 2Joni Halawa
34Pecahan Hikayat dari HayatLlyana Mei
35Gadis Pemetik KopiWoro Priyati
36Kalung dari GiethoornAchakawa
37Manusia Bernama AnakSelfanny Meilania
38Kereta Pagi 40 km/JamDina Prayudha
39Penyakit Mesin JamZotunP
40Jangan Dekati ToiletYusuf Nur
41Perempuan yang Berbisik pada PusaraRizan Panda
42Lelaki Berkepala SapiRozekki
43JejakNuril ‘Ilmina
44Martini Ingin MatiMara Uliyah
45Siasat Para Istri yang Kau LupakanTiti Setiyoningsih
46Neraka di Telapak Tangan BapakShafa Ichwanus
47VrijemanArief Septian Nurhada
48Mengharapkan Kasih BulanMardin Maulana
49Kecuali Kau, MaRisma Liyanti
50Tuhan Seorang PenipuSeno Aji
51Daya Inun AkuSesilia Agatha Huwae
52Nyanyian PausJante
53Legenda Cangkang Emas dan Penyihir EsIntan Pratama
54Cahaya dari Balik Jeruji PenjaraSuharsono A.Q.S.
55Hujan dan MaraHanindhia Adzkiya Muthi
56Serangan FajarMetafora Nirwana
57Gagak RimangAde Mulyono
58Menyusuri Hening KematianRiel
59Bandung BeraksiYana Haudy
60Jyu-Nana: Voicemail No.579Lia Karina Tanjung
61Anekdot Tentang Mantan Tunangan Cik Anna dan Bagaimana Kehadiranku SetelahnyaRayhan Aulia Prakoso
62Cermin yang MenungguArka Azura
63Tirani KemanusiaanAfnan Syahirain
64Cahaya dalam Lembah FuinDimas Fernando
65Ibu Sebuah Pohon ManggaHanindhia Adzkiya Muthi
66Teater Kegelapan dan Manusia BertopengAyu Sri Winahyu
67Di Balik Pintu yang TertutupMarchantya Mosva Bimantara
68Kedai Teh Baba HongSigit Candra Lesmana
69Sebelum Ia MembunuhkuT. Sandi Situmorang
70Gelas Retak Berkeping-kepingDominikus Wimpie Fernandez
71Nilam: Peri Kecil Masa LaluFirda Rahayu
72Revolusi Lubang PantatVentino Alexsandra
73Antar Aku PulangHana Raitā 
74Warsi dan Para SumMaria Wiedyaningsih
75Bayangan di CerminHumairah 
76Pagi yang MengambangAnggelita Febriani
77Harga untuk Sebuah KebebasanNicholas Putra Pratama
78PestaEunike Hanny
79Hidup AbadiGalvina Maryam Maharani
80Kematian yang BaikNathanuel
81Weton GehingNetty Indarti
82Belenggu MimpiMarrisha Utami Putri
83Kiamat Akan Datang Hari Inianak flora
84Perkara RamaniaAndria Septy
85BibirHyacinth
86Bintang yang Terlahir KembaliGabriel Cho
87Solara dan Hutan BerbisikDwi Ayu Kartika
88Dunia di Cermin IlusiKaraly
89Kretek, 1998Ayuninsya Nartazalshabila
90PrimaFakhrurrazi Muhammad Qasim
91Bara Api dan Kegelapan DuniawiDesya Elma
92Lukisan Sebelah WajahAmelia Indraswari
93Rekuiem di AkaroaRamoenan
94Bintang Sirius: Taman PembebasanMasyta Shabilla Aziza
95Makhluk Pengarung BadaiKurnia Gusti Sawiji
96Paket TerakhirPandu Wijaya Saputra
97Bisikan dari Balok TuaNawang Widyaputri
98Ombra Dietro l’OmbraFarrel Anargya Farzeen
99Nyai Ronggeng PulungsariGalang Gelar
100Dua Jendela Kesepian dan Satu PengakuanMas Gamblang
101Kapelsteeg dan Gedung ItuTsabitah Demyla Pramono
102Langit di Balik JerujiShinta Larasati Hardjono
103Debu, Cahaya, dan PerlawananFathimah Aqila Dhiya
104Keluar dari Ruangan PutihSevilla P. S
105Perjalanan Kakek YewGabriella Inez Aramita
106Kota HujanReni Almukaroma
107Dia, Kakak Yang HebatFitri Nurjanah
108Ilusi yang MembebaskanJois Efendi
109BencanaRendys Azzahra Awani
110Dawn to DuskRuhaya Azzahra
111Gundik Belanda Berdarah JawaLisa Septian Putri
112La-Ina Ana dan Empat Cerita di Balik SenyumannyaJean Rivaldo Mansa
113TujuhRifky Alfarisyi Al-Ikhsan
114Harta Karun yang TerpendamOscar Theon Jeremia
115Zea MaysSanti Setya Jayaningsih
116Laki-laki yang Katanya Bisa Menghilangkan ApapunAndreas Agil Munarwidya
117Perpustakaan Tua di Lantai SatuDarwanto
118Senandika RadmilaKhoula Afifah Al-Qoyyimah Suherlan
119Hari Huru-haraYofa Adly
120Pada Suatu Malam Menjelang Mata TerpejamNikolas Ryan
121Ombak di AngkasaDiva Fitianingtias Sutirahmi 
122Aku, Si Penjaga Karnaval Orang AnehMeria
123Di Antara Keramaian, Aku SendiriMauliza
124Pelangi Milik BunglonVisivalery Nurerlindajava
125Di Balik Bunga KambojaEdi Purnawan
126O, TuhanAle Alfaris 
127TeaterotiHayang Sare
128Asa yang TiadaAlya Putri Chandra
129Awal dari HarapanMichael Alessandro
130Kaulah PahlawannyaSandia Jonathan
131Waktu Berhenti, Esok Tak Akan AdaIra Febrianti
132Anak yang “Dibeli”Anandito Putra Kapindo
133Kembalinya Tapa MalenggangVina Apriani 
134Titik JenuhMulianti
135Hildenburg dan Rahasia GelapnyaMalisa Khusna Sabila
136Ketika Dering BerbunyiRegina Nikijuluw
137Perihal Rumah, Ruang Kamar, dan TuanNur Gimas Tiaroh
138Bunga-bunga HantuMuh. Dimas Ariyanto
139Ketukan Pintu di Senja TerakhirNadhira Rezki Syatirani
140TjuplijsLukita Pra Sintia
141April dan Kunang-kunang Terakhir di Muka BumiAdriansyah Kusuma Wardani
142Kopel AyahRifan Nazhip 
143BernapasArmada Nikata Telaumbanua
144Laut yang BerbisikBintany Mutiara
145Perpustakaan Jiwa: Menulis Kembali KehidupanAlmira Nayla Wihendra
146LamurAnggraeni Windi Gernia
147Lamunan Pagar GedungMifako
148Keajaiban dalam KutukanIndah Paramita
149RanggasJuniaro
150Hari BerburuRizal
15124 JamKania Ananda Putri
152Pesan dari Perempuan Hebat Penyintas Kanker PayudaraOktika Chandradewi
153AlanaMelindah Puspita
154Kucing yang Melihat Tikus dalam DirinyaAdi Chandra Wira Atmaja
155Pria itu Hanya Ingin Kembali ke Dusun HujanDominikus Zinyo Darling 
156Aku Ingin Terus Bermain DenganmuMoh. Ahnaf Bahrul Ulum
157GarasiAkbar Rahmat Dhani
158Satu Hal yang PastiPramidita
159Di Balik KejutanIvonne Martin
160Benang yang Menyirang SungaiMira Tanzani
161Perjalanan di Turki dan Sedikit Pertolongan dari DamaskusNoor Alifa Rahmah
162Fragmen DialisaAstrid Yaumul Aza
163Pok KopokFarhan Dicky Abdillah
164Anak Timur Mengejar MimpiYosep Ardianto Ave Sogen
165Langkah dalam GelapNxiumie
166Pecahkan KacaMukhammad Ibnu Muta’aal Kamdan
167Botol Kaca dari Tempat SampahAli Wardani
168Lelaki yang Berpesta dengan HujanSyadah Fahrunisa 
169Pohon JatiFani Farhatul Aini
170Penjaga Taman yang SetiaKhoirotun Nisa’
171Pengertian UntukkuFhelicya Revyna Hasugian
172Penyesalan yang HakikiElfiana Stasia Filian Saudale 
173Cinta yang Salah KamarAhmad Miftahudin Thohari
174Perangkap KenikmatanPeony Florentin
175Edelweiss Curse Alvyn
176Distorsi Mimpi Tujuh Putih ManisZenith Ashar
177Perempuan yang Memeluk SenyapDyah Putri Oktorita
178Gadis Sumba yang Lari dari NerakaAnselmus A.Y Barung
179I am Not DemonAgnes Cecillia
180Pelajaran dalam KesendirianAndika Ari Pratama
181Misteri AlenArifa Reis Choirunnisa
182Greg si PencuriRani Susanti
183Perjuangan Si Sandwich GenerationSiti Mambaul Ckusna
184Berita KematiankuIstiqomah
185Behind the SceneMaulid. S
186Sup Merah Buatan AyahReyna Vanindya
187CYRILSir Fafnir
188Ashes of KalliasFadila
189Payung Harapan di Sudut KotaAmilatus Shalihah
190Asa yang KaramKieran
191Pusaka yang HilangNajma Amila Sholiha
192Dlingo BengleSindi Oktaviani
193Karena Kamu, Aku PerempuanIndana Ilmiatus Zahro’
194Pergi dan KembaliAzzam Faiz Alhaq
195Merayu RinduKayla Aisyandra Wicaksono 
196Kembalinya CintaRosemary Chrisanny
197Jejak Cinta di JakartaHibdarul Azizi
198Jejak AltheaGiovanni Maharlian Damara
199Harapan di Tahun 2025Muhamad Ramadan Sawal
200Polaroid Bersama BintangEl-Syifa Warrahmah

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,

Tulis.me

Tentang Tulis.me

Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.