Catatan Juri
Beberapa orang membedakan antara menulis dan menjadi penulis. Menulis, sederhananya, menghasilkan tulisan. Menjadi menulis berarti proses, kadang panjang, untuk mampu menghasilkan tulisan secara konsisten dalam produksi dan meningkat secara kualitas. Ada orang yang mulai menulis karena tugas sekolah atau kuliah, karena luka batin (self-therapy), atau seperti dalam agenda ini, karena suatu perlombaan. Beberapa orang mungkin baru pertama kali menulis dan yang lain telah lebih dari sekali menghasilkan tulisan. Apa yang berbeda di antara masing-masing orang tersebut? Dari sudut pembaca, jujur saja, seorang pembaca tidak peduli dan tidak mau tahu bagaimana kita berproses, seberapa berdarah kita menulis, juga masa bodoh seberapa menderita kita berusaha menyelesaikan sebuah cerita pendek sekian halaman. Mereka hanya ingin mendapatkan cerita bagus. Mereka telah mengalokasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin biaya untuk memperoleh sebuah cerita pendek hingga sampai di tangan mereka. Mereka perlu mendapatkan sesuatu yang berharga. Pertanyaannya, bagaimana cara memberi “sesuatu yang berharga” pada pembaca dari cerita pendek yang kita tulis? Kabar baiknya, cerita pendek, dari yang paling “menarik” atau yang “membosankan” sama-sama tersusun dari kata-kata. Mengapa kata-kata yang tersusun dari koleksi huruf yang sama, mampu menghasilkan “dampak” yang berbeda ke dalam pikiran pembaca? Di sinilah, kita mengenal apa yang disebut dengan “seni bercerita”.
Berdasarkan naskah-naskah yang masuk, beberapa masih tercekat dalam kemampuan dasar seni bercerita. Logikanya sangat sederhana, apabila kita bertemu seseorang, apakah kita akan menceritakan sesuatu yang biasa saja, atau mengabarkan hal-hal yang menarik perhatian lawan bicara? Kedua, kemampuan dalam mengolah kata, kemampuan teknis, mulai dari membuka cerita sampai seni menutup sebuah kisah, masih dapat diperdalam. Materi cerita yang bagus, akan menjadi hambar apabila seni meracik, mengolah, dan menyajikannya kurang lihai. Memang, sebagai penulis, ada kalanya kita berhasil pada satu cerita, ada kalanya kita merasa “gagal” dalam cerita yang lain. Namun demikian, kemampuan-kemampuan dasar dalam menulis ibarat seorang koki yang bisa melihat bagaimana lapisan bawang diiris dengan tepat seusai masakan yang dituju.
Pilihan-pilihan tema dari naskah-naskah yang masuk memiliki dominasi dan kecenderungan seperti; cerita sebagai cita-cita diri, cerita sebagai cermin kekecewaan, cerita sebagai replikasi diri, cerita dengan tema-tema—yang sering dianggap cerminan tragis, menarik, dan menarik air mata, menurut penulisnya, —yakni kematian dan kehilangan, serta cerita dengan tema-tema kesehatan mental dan idealisme sosial. Dalam hal tema personal, yang perlu diperhatikan: sesuatu bisa jadi terlihat menarik bagi penulisnya, karena “berjarak dekat”, sementara akan menjadi hambar bagi pembacanya “karena jaraknya jauh”. “Kami tidak ikut mengalami apa yang kamu alami, tunjukkan bagaimana penderitaan itu terjadi, sehingga kami bisa ikut merasakannya,” kata pembaca. “Saya tahu itu kebenaran, tetapi tolong jangan terlalu menggurui, tunjukkan saja ceritanya,” kata pembaca yang lain. Beberapa cerita yang berhasil terpilih adalah mereka yang membawa peristiwa dengan seni bercerita yang melibatkan emosi dan pemikiran pembaca, dengan sedikit mungkin terlalu menggurui, dan sebanyak mungkin melarutkan pembaca ke dalam narasi. Hal-hal seperti ini akan terus kita dalami bersama setiap kali menghasilkan sebuah tulisan, sebuah cerita pendek. Selamat kepada para juara dan selamat pada yang telah mampu menghasilkan karya.
Eko Triono
***
Apa yang pertama-tama saya dapat setelah berhadap-hadapan dengan ribuan naskah cerpen dalam lomba menulis cerpen Tulisme kali ini adalah sebuah petualangan. Petualangan itu membawa saya bertemu banyak sekali tokoh, menyinggahi pelbagai tempat, seakan turut mengalami bermacam-macam peristiwa, serta mendengar aneka ragam pesan moral. Sebagian (atau barangkali sebagian besar, malahan) pesan moral itu bergerak terlalu agresif, menampilkan dirinya secara terang benderang dan vulgar, lantas mengubah cerita menjadi semata kotbah atau nasihat. Situasi seperti itu mendorong saya terjatuh ke dalam ketidaknyamanan. Kotbah atau nasihat yang dijejalkan secara berlebihan melalui sebagian besar cerita seakan-akan menjadikan saya bocah yang bersalah, bocah yang tersudut di pojokan ruangan, dipaksa diam dan mendengarkan, lantas tentu saja satu-satunya hal yang saya ingini adalah segera pergi dari cerita semacam itu.
Sayangnya, setelah mampu melepaskan diri dari jeratan pesan moral yang terlalu kental, saya memasuki lanskap deskripsi yang terlampau klise. Berhamburan paragraf pembuka yang menggambarkan pagi bersama segala macam aktivitas bangun tidur secara berlarat-larat yang sesungguhnya tak punya andil dalam menggerakkan cerita atau penjabaran berlebihan tentang letak matahari serta berbagai-bagai kondisi cuaca yang justru mengganggu laju kisah. Persoalan-persoalan semacam ini, kadangkala, masih ditambah pula dengan bertebarannya dialog-dialog yang berupaya mereproduksi percakapan sehari-hari. Apa yang saya maksud percakapan sehari-hari adalah kalimat-kalimat basa-basi dalam dialog yang tidak memberi informasi baru, tidak berpengaruh apa-apa terhadap cerita selain memperpanjang halaman belaka.
Di titik lain, dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, berdiri pula cerpen-cerpen yang berupaya terlihat pintar, mati-matian menunjukkan bahwa dirinya disusun berdasarkan riset yang mendalam dan bahan yang kaya. Beberapa dari jenis cerpen seperti ini cukup berhasil, namun sebagian yang lain, ternyata, tak memiliki cukup kesabaran untuk melebur dalam alur dan penokohan yang liat sehingga nyaris terjerumus menjadi semacam esai.
Baru setelah melewati petualangan semacam itulah, saya (dan juri lain) berhasil memilih dan memilah dari ribuan naskah untuk menghasilkan satu daftar pemenang, yang dalam hemat kami, sudah selesai dengan persoalan kepengerajinan dalam seni menulis cerita, jeli dalam memilih tema, cakap mengambil sudut pandang, dan lain sebagainya. Dalam cerpen berjudul “Buku Nikah”, misalnya, yang kami sepakati sebagai juara pertama, pergolakan batin tokoh utama mengalir terukur dalam konflik yang cukup sublim, tema yang berlapis, serta sikap keberpihakan yang jelas kepada mereka yang tertindas. Perlawanan dalam cerpen ini, yang diwujudkan dalam permintaan cerai kepada sang kiai, adalah sebuah perlawanan yang sesungguhnya cukup keras, namun tidak disertai dengan darah atau makian atau perkelahian. Cerpen ini lembut dan garang dalam waktu yang bersamaan. Dalam cerpen “Kadaver dan Dosa-dosa”, riset dan bahan yang berlimpah dijalin dengan cukup solid untuk mempertanyakan sekaligus menertawakan klenik dan mistisisme, lantas meneranginya dengan sains dan nalar sehat.
Cerpen-cerpen pemenang di urutan selanjutnya, yang mustahil dibicarakan satu per satu dalam pertanggungjawaban pendek ini, niscaya memiliki kelebihan masing-masing. Dan itu bukan berarti bahwa cerpen-cerpen yang lain, yang pada akhirnya lepas dari daftar pemenang, tidak memiliki potensi sama sekali. Sebagian besar cerpen itu, sesungguhnya, saya percaya, akan tampil menjadi cerpen yang cemerlang jika disunting dan disunting ulang, diendapkan untuk kemudian disunting ulang dan disunting ulang. Di lain kesempatan, saya berharap bisa membaca hasil suntingan cerpen-cerpen tersebut, barangkali dalam lomba-lomba berikutnya.
Demikianlah.
Dadang Ari Murtono
***
Ini adalah pengalaman pertama saya dalam menjuri lomba cerpen dalam skala nasional. sebelumnya saya hanya pernah menjuri lomba mendongeng dan beberapa kali mereview cerpen. Tentu banyak perbedaan dalam prosesnya, namun satu hal yang sama adalah: sebuah cerita selalu menarik!
Dalam waktu kurang dari satu bulan, di awal tahun 2025 ini merupakan rekor membaca cerpen terbanyak yang pernah saya capai. Saya menemukan berbagai genre cerita dan sepertinya saya mulai bisa menebak kira-kira bacaan atau situasi seperti apa yang mempengaruhi seorang penulis sehingga menciptakan karya dengan genre dan gaya penulisan yang demikian. Agaknya lagi, saya juga mulai bisa menerka kira-kira sang penulis ini masih dalam tahap awal belajar atau sudah lanjut (ini membuat saya teringat dengan diri saya sendiri sewaktu awal mengenal penulisan, khususnya cerpen). Bagaimanapun, proses belajar memang harus terus berlanjut hingga akhir.
Selama proses penjurian, saya menjumpai berbagai cerpen yang mengangkat isu-isu sosial dan kemanusiaan dengan cara yang cukup unik, meskipun ada beberapa yang masih terasa kurang maksimal dalam penyajiannya. Isu-isu seperti kesehatan mental dan perubahan lingkungan menjadi tema yang sering muncul, menunjukkan bahwa para penulis memiliki kepekaan terhadap tantangan zaman. Namun beberapa cerpen terkadang gagal menggali potensi isu tersebut secara mendalam; tidak memberikan solusi atau pandangan yang cukup tajam. Selain itu, saya juga menjumpai beberapa cerpen yang mengusung gaya dongeng, dengan tokoh-tokoh peri yang manis dan cerita yang terasa penuh keajaiban. Meskipun menarik dan menyenangkan, gaya ini terkadang terkesan kurang memberi ruang untuk pengembangan isunya. Secara keseluruhan, meskipun banyak cerita yang memiliki kekuatan dan potensi, saya merasa bahwa masih ada ruang untuk menggali lebih dalam dan menyajikan ide-ide dengan cara yang lebih memikat dan relevan.
Dari sejumlah cerpen yang saya baca, saya menemukan bahwa tidak sedikit penulis yang tampaknya lebih fokus pada ekspresi pribadi, sehingga cerpen yang disajikan terasa seperti tulisan diary. Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam karya-karya tersebut malah cenderung melemahkan daya tarik tulisan, yang seharusnya bisa menciptakan kedekatan dengan pembaca. Alih-alih mengundang rasa empati, sudut pandang tersebut justru terkadang terkesan monoton dan terjebak pada narasi yang terlalu pribadi, sehingga pembaca sulit untuk terlibat lebih dalam dengan cerita yang dihadirkan.
Selain itu saya juga menjumpai penulis yang membagi cerpen mereka ke dalam beberapa babak dengan masing-masing babak diberi judul sub-bab. Secara teknis, pembagian seperti ini bukan masalah dan bisa jadi sebuah pilihan yang menarik untuk memperjelas struktur cerita. Namun yang menjadi catatan saya adalah bahwa antara babak satu dan babak lainnya kurang memiliki kesinambungan yang jelas, sehingga pembagian ini terasa terputus-putus dan malah membuat cerita jadi kaku. Sub-bab yang diberi judul justru menjadi jeda yang tidak perlu, mengganggu alur cerita dan membatasi fleksibilitas narasi. Sebaiknya, penulis bisa mempertimbangkan untuk menggantinya dengan narasi yang lebih mengalir atau dengan struktur yang lebih alami, tanpa perlu membatasi cerita dengan pemisahan yang berlebihan. Dengan begitu, cerpen akan terasa lebih hidup dan dinamis.
Menulis memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan struktur berpikir yang jelas dan kepekaan terhadap permasalahan yang ingin dikisahkan. Yang terpenting, kita tidak bosan membaca dan terus belajar. Semangat!
Imarafsah Mutianingtyas
Fasilitas Lomba
Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 16 Februari 2025. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Kelas Menulis Daring direncanakan akan dilaksanakan pada Minggu, 9 Februari 2025 pukul 20.00 melalui aplikasi Zoom. Waktu pelaksanaan dan tautan Zoom akan dibagikan melalui chat Whatsapp.
Pengumuman Pemenang
Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-19. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.
Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.
Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-19 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.
| PERINGKAT | JUDUL CERPEN | PENULIS |
| 1 | Buku Nikah | Ubaidillah |
| 2 | Kadaver dan Dosa-Dosa | Jante |
| 3 | Kegilaan dalam Tiga Babak | Ventino Alexsandra |
| 4 | Bidadari dan Pencuri Sapi | Rozekki |
| 5 | Nieh: Hikayat Meurandeh | Mellyan Cutkeumala Nyakman |
| 6 | Puisi | Muhammad Gibrant Aryoseno |
| 7 | Bramacorah (Laki-laki yang Termangu di Depan Pintu | Dewanto Amin Sadono |
| 8 | Cerita Tentang: Hari Ini Kamu Mati dan Semangkuk Mie Babi | Januard Benedictus |
| 9 | Gemuruh Tanah Basah | tenunkata |
| 10 | Hening | Muhammad Gibrant Aryoseno |
| 11 | Ayu Bawe dan Sempuri | Haleem |
| 12 | Tawanan | Eko Setyawan |
| 13 | Antan Patah Lesung Hilang | Veraya Putri Alivia Darma |
| 14 | Mati Suri | Muhammad Sholichin Lazuardi |
| 15 | Kereta yang Tak Pernah Ada | Arka Azura |
| 16 | Peristiwa di Lahan Berawa | Tjak S Parlan |
| 17 | Malam Mappaci | Rizan Panda |
| 18 | Kedua Anak Geumala | Rani Ramdayani |
| 19 | Alkisah, Sebuah Kursi Goyang | Achmad Ibnu Ibad |
| 20 | Dua Kepala Angsa dan Kaki Tangan Setan | Arif Kurniawan |
| 21 | Perempuan yang Menunggu | T. Sandi Situmorang |
| 22 | Bulan Kematian | Divia Citra Muliya Prima Saputri |
| 23 | Upah Mimpi Guru di Negeri Kaya Raya | Salamet Herianto |
| 24 | Rusuk Sapi dan Penerjemah Sampah | Rozekki |
| 25 | Hikayat Air Kencing Kohar | Anov |
| 26 | Ponsel yang Kudus | Nathanio Chris Maranatha Bangun |
| 27 | Di Kepalamu, Hidup Seorang Lelaki | Dhimas Bima Shofyanto |
| 28 | Ibu Hendak ke Jakarta | T. Sandi Situmorang |
| 29 | (Pintu) Surga Ada di Bawah Pohon Bambu | Wahyu Hidayat |
| 30 | Bintang Terang | Najwa Haya Nadhiroh |
| 31 | Yang Lebih Legam dari Hitam | Gilang Aprilian Nugraha Pratama |
| 32 | Dihilangkan Sapi-sapi yang Menghibur Kami | Rosul Jaya Raya |
| 33 | Miana 2 | Joni Halawa |
| 34 | Pecahan Hikayat dari Hayat | Llyana Mei |
| 35 | Gadis Pemetik Kopi | Woro Priyati |
| 36 | Kalung dari Giethoorn | Achakawa |
| 37 | Manusia Bernama Anak | Selfanny Meilania |
| 38 | Kereta Pagi 40 km/Jam | Dina Prayudha |
| 39 | Penyakit Mesin Jam | ZotunP |
| 40 | Jangan Dekati Toilet | Yusuf Nur |
| 41 | Perempuan yang Berbisik pada Pusara | Rizan Panda |
| 42 | Lelaki Berkepala Sapi | Rozekki |
| 43 | Jejak | Nuril ‘Ilmina |
| 44 | Martini Ingin Mati | Mara Uliyah |
| 45 | Siasat Para Istri yang Kau Lupakan | Titi Setiyoningsih |
| 46 | Neraka di Telapak Tangan Bapak | Shafa Ichwanus |
| 47 | Vrijeman | Arief Septian Nurhada |
| 48 | Mengharapkan Kasih Bulan | Mardin Maulana |
| 49 | Kecuali Kau, Ma | Risma Liyanti |
| 50 | Tuhan Seorang Penipu | Seno Aji |
| 51 | Daya Inun Aku | Sesilia Agatha Huwae |
| 52 | Nyanyian Paus | Jante |
| 53 | Legenda Cangkang Emas dan Penyihir Es | Intan Pratama |
| 54 | Cahaya dari Balik Jeruji Penjara | Suharsono A.Q.S. |
| 55 | Hujan dan Mara | Hanindhia Adzkiya Muthi |
| 56 | Serangan Fajar | Metafora Nirwana |
| 57 | Gagak Rimang | Ade Mulyono |
| 58 | Menyusuri Hening Kematian | Riel |
| 59 | Bandung Beraksi | Yana Haudy |
| 60 | Jyu-Nana: Voicemail No.579 | Lia Karina Tanjung |
| 61 | Anekdot Tentang Mantan Tunangan Cik Anna dan Bagaimana Kehadiranku Setelahnya | Rayhan Aulia Prakoso |
| 62 | Cermin yang Menunggu | Arka Azura |
| 63 | Tirani Kemanusiaan | Afnan Syahirain |
| 64 | Cahaya dalam Lembah Fuin | Dimas Fernando |
| 65 | Ibu Sebuah Pohon Mangga | Hanindhia Adzkiya Muthi |
| 66 | Teater Kegelapan dan Manusia Bertopeng | Ayu Sri Winahyu |
| 67 | Di Balik Pintu yang Tertutup | Marchantya Mosva Bimantara |
| 68 | Kedai Teh Baba Hong | Sigit Candra Lesmana |
| 69 | Sebelum Ia Membunuhku | T. Sandi Situmorang |
| 70 | Gelas Retak Berkeping-keping | Dominikus Wimpie Fernandez |
| 71 | Nilam: Peri Kecil Masa Lalu | Firda Rahayu |
| 72 | Revolusi Lubang Pantat | Ventino Alexsandra |
| 73 | Antar Aku Pulang | Hana Raitā |
| 74 | Warsi dan Para Sum | Maria Wiedyaningsih |
| 75 | Bayangan di Cermin | Humairah |
| 76 | Pagi yang Mengambang | Anggelita Febriani |
| 77 | Harga untuk Sebuah Kebebasan | Nicholas Putra Pratama |
| 78 | Pesta | Eunike Hanny |
| 79 | Hidup Abadi | Galvina Maryam Maharani |
| 80 | Kematian yang Baik | Nathanuel |
| 81 | Weton Gehing | Netty Indarti |
| 82 | Belenggu Mimpi | Marrisha Utami Putri |
| 83 | Kiamat Akan Datang Hari Ini | anak flora |
| 84 | Perkara Ramania | Andria Septy |
| 85 | Bibir | Hyacinth |
| 86 | Bintang yang Terlahir Kembali | Gabriel Cho |
| 87 | Solara dan Hutan Berbisik | Dwi Ayu Kartika |
| 88 | Dunia di Cermin Ilusi | Karaly |
| 89 | Kretek, 1998 | Ayuninsya Nartazalshabila |
| 90 | Prima | Fakhrurrazi Muhammad Qasim |
| 91 | Bara Api dan Kegelapan Duniawi | Desya Elma |
| 92 | Lukisan Sebelah Wajah | Amelia Indraswari |
| 93 | Rekuiem di Akaroa | Ramoenan |
| 94 | Bintang Sirius: Taman Pembebasan | Masyta Shabilla Aziza |
| 95 | Makhluk Pengarung Badai | Kurnia Gusti Sawiji |
| 96 | Paket Terakhir | Pandu Wijaya Saputra |
| 97 | Bisikan dari Balok Tua | Nawang Widyaputri |
| 98 | Ombra Dietro l’Ombra | Farrel Anargya Farzeen |
| 99 | Nyai Ronggeng Pulungsari | Galang Gelar |
| 100 | Dua Jendela Kesepian dan Satu Pengakuan | Mas Gamblang |
| 101 | Kapelsteeg dan Gedung Itu | Tsabitah Demyla Pramono |
| 102 | Langit di Balik Jeruji | Shinta Larasati Hardjono |
| 103 | Debu, Cahaya, dan Perlawanan | Fathimah Aqila Dhiya |
| 104 | Keluar dari Ruangan Putih | Sevilla P. S |
| 105 | Perjalanan Kakek Yew | Gabriella Inez Aramita |
| 106 | Kota Hujan | Reni Almukaroma |
| 107 | Dia, Kakak Yang Hebat | Fitri Nurjanah |
| 108 | Ilusi yang Membebaskan | Jois Efendi |
| 109 | Bencana | Rendys Azzahra Awani |
| 110 | Dawn to Dusk | Ruhaya Azzahra |
| 111 | Gundik Belanda Berdarah Jawa | Lisa Septian Putri |
| 112 | La-Ina Ana dan Empat Cerita di Balik Senyumannya | Jean Rivaldo Mansa |
| 113 | Tujuh | Rifky Alfarisyi Al-Ikhsan |
| 114 | Harta Karun yang Terpendam | Oscar Theon Jeremia |
| 115 | Zea Mays | Santi Setya Jayaningsih |
| 116 | Laki-laki yang Katanya Bisa Menghilangkan Apapun | Andreas Agil Munarwidya |
| 117 | Perpustakaan Tua di Lantai Satu | Darwanto |
| 118 | Senandika Radmila | Khoula Afifah Al-Qoyyimah Suherlan |
| 119 | Hari Huru-hara | Yofa Adly |
| 120 | Pada Suatu Malam Menjelang Mata Terpejam | Nikolas Ryan |
| 121 | Ombak di Angkasa | Diva Fitianingtias Sutirahmi |
| 122 | Aku, Si Penjaga Karnaval Orang Aneh | Meria |
| 123 | Di Antara Keramaian, Aku Sendiri | Mauliza |
| 124 | Pelangi Milik Bunglon | Visivalery Nurerlindajava |
| 125 | Di Balik Bunga Kamboja | Edi Purnawan |
| 126 | O, Tuhan | Ale Alfaris |
| 127 | Teateroti | Hayang Sare |
| 128 | Asa yang Tiada | Alya Putri Chandra |
| 129 | Awal dari Harapan | Michael Alessandro |
| 130 | Kaulah Pahlawannya | Sandia Jonathan |
| 131 | Waktu Berhenti, Esok Tak Akan Ada | Ira Febrianti |
| 132 | Anak yang “Dibeli” | Anandito Putra Kapindo |
| 133 | Kembalinya Tapa Malenggang | Vina Apriani |
| 134 | Titik Jenuh | Mulianti |
| 135 | Hildenburg dan Rahasia Gelapnya | Malisa Khusna Sabila |
| 136 | Ketika Dering Berbunyi | Regina Nikijuluw |
| 137 | Perihal Rumah, Ruang Kamar, dan Tuan | Nur Gimas Tiaroh |
| 138 | Bunga-bunga Hantu | Muh. Dimas Ariyanto |
| 139 | Ketukan Pintu di Senja Terakhir | Nadhira Rezki Syatirani |
| 140 | Tjuplijs | Lukita Pra Sintia |
| 141 | April dan Kunang-kunang Terakhir di Muka Bumi | Adriansyah Kusuma Wardani |
| 142 | Kopel Ayah | Rifan Nazhip |
| 143 | Bernapas | Armada Nikata Telaumbanua |
| 144 | Laut yang Berbisik | Bintany Mutiara |
| 145 | Perpustakaan Jiwa: Menulis Kembali Kehidupan | Almira Nayla Wihendra |
| 146 | Lamur | Anggraeni Windi Gernia |
| 147 | Lamunan Pagar Gedung | Mifako |
| 148 | Keajaiban dalam Kutukan | Indah Paramita |
| 149 | Ranggas | Juniaro |
| 150 | Hari Berburu | Rizal |
| 151 | 24 Jam | Kania Ananda Putri |
| 152 | Pesan dari Perempuan Hebat Penyintas Kanker Payudara | Oktika Chandradewi |
| 153 | Alana | Melindah Puspita |
| 154 | Kucing yang Melihat Tikus dalam Dirinya | Adi Chandra Wira Atmaja |
| 155 | Pria itu Hanya Ingin Kembali ke Dusun Hujan | Dominikus Zinyo Darling |
| 156 | Aku Ingin Terus Bermain Denganmu | Moh. Ahnaf Bahrul Ulum |
| 157 | Garasi | Akbar Rahmat Dhani |
| 158 | Satu Hal yang Pasti | Pramidita |
| 159 | Di Balik Kejutan | Ivonne Martin |
| 160 | Benang yang Menyirang Sungai | Mira Tanzani |
| 161 | Perjalanan di Turki dan Sedikit Pertolongan dari Damaskus | Noor Alifa Rahmah |
| 162 | Fragmen Dialisa | Astrid Yaumul Aza |
| 163 | Pok Kopok | Farhan Dicky Abdillah |
| 164 | Anak Timur Mengejar Mimpi | Yosep Ardianto Ave Sogen |
| 165 | Langkah dalam Gelap | Nxiumie |
| 166 | Pecahkan Kaca | Mukhammad Ibnu Muta’aal Kamdan |
| 167 | Botol Kaca dari Tempat Sampah | Ali Wardani |
| 168 | Lelaki yang Berpesta dengan Hujan | Syadah Fahrunisa |
| 169 | Pohon Jati | Fani Farhatul Aini |
| 170 | Penjaga Taman yang Setia | Khoirotun Nisa’ |
| 171 | Pengertian Untukku | Fhelicya Revyna Hasugian |
| 172 | Penyesalan yang Hakiki | Elfiana Stasia Filian Saudale |
| 173 | Cinta yang Salah Kamar | Ahmad Miftahudin Thohari |
| 174 | Perangkap Kenikmatan | Peony Florentin |
| 175 | Edelweiss Curse | Alvyn |
| 176 | Distorsi Mimpi Tujuh Putih Manis | Zenith Ashar |
| 177 | Perempuan yang Memeluk Senyap | Dyah Putri Oktorita |
| 178 | Gadis Sumba yang Lari dari Neraka | Anselmus A.Y Barung |
| 179 | I am Not Demon | Agnes Cecillia |
| 180 | Pelajaran dalam Kesendirian | Andika Ari Pratama |
| 181 | Misteri Alen | Arifa Reis Choirunnisa |
| 182 | Greg si Pencuri | Rani Susanti |
| 183 | Perjuangan Si Sandwich Generation | Siti Mambaul Ckusna |
| 184 | Berita Kematianku | Istiqomah |
| 185 | Behind the Scene | Maulid. S |
| 186 | Sup Merah Buatan Ayah | Reyna Vanindya |
| 187 | CYRIL | Sir Fafnir |
| 188 | Ashes of Kallias | Fadila |
| 189 | Payung Harapan di Sudut Kota | Amilatus Shalihah |
| 190 | Asa yang Karam | Kieran |
| 191 | Pusaka yang Hilang | Najma Amila Sholiha |
| 192 | Dlingo Bengle | Sindi Oktaviani |
| 193 | Karena Kamu, Aku Perempuan | Indana Ilmiatus Zahro’ |
| 194 | Pergi dan Kembali | Azzam Faiz Alhaq |
| 195 | Merayu Rindu | Kayla Aisyandra Wicaksono |
| 196 | Kembalinya Cinta | Rosemary Chrisanny |
| 197 | Jejak Cinta di Jakarta | Hibdarul Azizi |
| 198 | Jejak Althea | Giovanni Maharlian Damara |
| 199 | Harapan di Tahun 2025 | Muhamad Ramadan Sawal |
| 200 | Polaroid Bersama Bintang | El-Syifa Warrahmah |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
