Lomba Menulis Cerpen Nasional 2026 Tulis.me

Catatan Juri

Di Antara Cerita yang Belum Selesai

Cerita-cerita yang kami baca, menawarkan beragam tema dengan keunikannya masing-masing. Berpindah dari satu cerita ke cerita lain memberikan tantangan tersendiri dalam menyelami kekuatan tiap cerita.

Setiap cerpen datang dengan dunianya sendiri, ada yang membangun atmosfer perlahan lewat detail kecil yang menumpuk, ada yang langsung melempar pembaca ke tengah konflik tanpa basa-basi. Perbedaan cara masuk ini saja sudah mengajarkan banyak hal: bahwa tidak ada satu pintu yang benar menuju sebuah cerita, hanya pintu yang tepat untuk cerita itu.

Yang berulang kali menjadi titik pembeda antara cerpen yang berhasil dan yang belum adalah kepercayaan pada pembaca. Cerpen yang kuat cenderung menahan diri, untuk tidak menjelaskan apa yang sudah ditunjukkan, tidak meramaikan apa yang justru butuh keheningan. Sebaliknya, cerpen yang masih dalam perjalanan sering kali tergoda untuk memastikan pembacanya mengerti, hingga lupa bahwa ketidakpastian adalah bagian dari pengalaman membaca yang sesungguhnya.

Tema pun tersebar luas, dari luka keluarga, pencarian identitas, kritik sosial, hingga imajinasi yang melampaui batas realitas. Keluasan ini menunjukkan bahwa para penulis tidak kekurangan ide, selanjutnya adalah bagaimana mengolah ide itu menjadi pengalaman, bukan sekadar pernyataan. Sebab cerpen yang baik tidak menyampaikan sesuatu kepada pembaca; ia membuat pembaca merasakannya sendiri.

Pada akhirnya, dengan sejumlah pertimbangan, kami menentukan cerpen-cerpen terbaik di antara ratusan cerpen yang kami baca:

Juara I: (H)aji Soleh Bertemu Tuhan

Cerpen ini mencoba sesuatu yang tidak mudah: menempatkan spiritualitas di dalam kehidupan yang paling sehari-hari tanpa membuat keduanya saling mengorbankan. Kekuatannya terletak pada cara narator mengamati, bukan dari jarak yang aman, melainkan dari dalam kerumunan yang juga ikut salah sangka. Aji Soleh tidak pernah menjelaskan dirinya sendiri, dan justru di situlah cerpen ini menang: tokohnya hidup bukan karena dijelaskan, melainkan karena diamati dengan cermat.

Juara II: Map

Map bekerja dengan kesabaran yang tidak umum ditemukan. Ia memilih sudut pandang seorang anak yang melihat tanpa sepenuhnya mengerti, dan justru keterbatasan pemahaman itulah yang membuat cerita ini lebih berat dari yang tampak. Pembaca menangkap lebih banyak dari yang ditangkap narator: map hijau yang berpindah tangan, cek dengan nol yang banyak, nama bapak di lembar kedua yang tidak jadi dibaca mama. Cerpen ini percaya bahwa diam bisa bercerita lebih keras dari teriakan.

Juara III: Aku Membawa Katapel Hari Itu

Cerpen ini membawa beban yang besar, isu perampasan tanah di Papua, suara anak-anak yang tidak punya kuasa, dan warisan yang coba dipertahankan dari kepunahan. Energinya nyata dan rasa marahnya mencoba untuk terus hadir ke pembaca. Detail seperti burung cendrawasih yang pertama dan terakhir kali dilihat, atau kangguru yang tidak lagi melompat bebas, meninggalkan kesan dan pesan yang kuat.

Dari ketiga cerpen terbaik ini pun, satu kelemahan yang sama-sama muncul adalah kecenderungan untuk tidak sepenuhnya mempercayai pembaca, sesekali masih ada dorongan untuk memastikan pesan sampai, entah lewat kalimat penutup yang terlalu menerangkan, dialog yang merangkap sebagai pengumuman, atau transisi yang tergesa seolah khawatir pembaca akan tersesat. Padahal justru di celah-celah yang dibiarkan kosong itulah sebuah cerpen bisa benar-benar bernapas.

Kecenderungan ini tampak jauh lebih dominan pada cerpen-cerpen lain yang kami baca. Jika ketiga cerpen terbaik sesekali tergoda untuk menjelaskan, cerpen-cerpen yang lain sering menjadikan penjelasan sebagai strategi utama, emosi dinyatakan, bukan ditunjukkan; konflik disimpulkan, bukan dihidupkan; dan ending berfungsi sebagai penutup yang rapi ketimbang pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Ada pula yang terjebak pada ambisi tema yang melampaui kemampuan eksekusi: ide-idenya besar, tetapi dunia di dalam cerita belum cukup dibangun untuk menopang beratnya. Yang paling sering menjadi titik lemah adalah bagian akhir, banyak cerpen yang sudah membangun ketegangan dengan cukup baik, tetapi kemudian menyelesaikannya terlalu cepat, seolah terburu ingin memberi jawaban atas pertanyaan yang justru paling berharga jika dibiarkan menggantung.

Namun demikian, tidak ada cerpen yang kami baca tanpa meninggalkan sesuatu. Setiap cerita menyimpan momen di mana penulisnya benar-benar hadir, satu kalimat yang tepat, satu detail yang tidak terduga, satu perasaan yang berhasil berpindah dari halaman ke dada pembaca. Momen-momen kecil itu adalah bukti bahwa kemampuan menulis bukan soal bakat yang datang sekaligus, melainkan kepekaan yang diasah lewat terus-menerus membaca dan menulis ulang.

Cerpen yang belum terpilih hari ini bukan cerpen yang gagal, melainkan cerpen yang sedang dalam perjalanan, dan perjalanan itu sendiri adalah bagian paling penting dari proses menjadi penulis.

Yang perlu dijaga adalah keberanian untuk terus menulis, terus mempertanyakan setiap kalimat, dan terus mempercayai bahwa cerita yang ingin ditulis layak untuk ditulis dengan sepenuh-penuhnya, ditulis sebaik-baiknya, hingga karya itu menemukan nasib terbaiknya.

Wawan Kurniawan

Membaca Lanskap Cerita, Merawat Sensitivitas Pencerita

Setelah membaca ratusan naskah yang masuk, saya seperti diajak melakukan perjalanan spiritual dan geografis yang masif; melintasi ruang, waktu, serta mengetuk berbagai pintu karakter. Saya dihujani oleh beragam narasi yang tidak hanya memenuhi isi kepala, tetapi juga melembabkan nurani. Sering kali, saya diajak menyaksikan atmosfer transisi waktu–pagi, siang, dan yang paling umum, senja. Seluruh indra saya diminta mencecap semilir angin, langit yang luas, rimbun pepohonan, hingga bebunyian yang seragam: derit pintu, gumam, dan tarikan napas berat. Deskripsi dan detail adegan memang modal awal yang krusial bagi seorang penulis untuk menghidupkan lanskap cerita. Namun, catatan krusial yang perlu digarisbawahi dari keseluruhan naskah adalah kecenderungan penulis untuk terjebak pada ambisi menceritakan seluruh kronologi hidup tokoh secara linier, sejak bangun tidur hingga akhir hayat. Akibatnya, cerita-cerita tersebut mengabaikan kedalaman adegan dan hanya “numpang lewat” di benak pembaca tanpa meninggalkan impresi yang magis. Lebih dari setengah naskah yang masuk menunjukkan keseragaman yang monoton dalam cara bertutur.

Meskipun diwarnai keseragaman bentuk, saya sangat bungah ketika mendapati beberapa penulis berani mengeksplorasi genre fantasi sejarah, fiksi ilmiah (sci-fi), hingga horor mitologi. Keberagaman genre ini memantik antusiasme tersendiri dalam proses penjurian. Saya dibawa ke negeri-negeri asing yang jauh, lengkap dengan karakter unik yang memiliki kekuatan luar biasa. Begitu pula dengan naskah-naskah berlatar era kolonialisme di Indonesia. Sayangnya, latar sejarah yang seharusnya asing dan berjarak itu sering kali terasa terlalu familiar di telinga kita saat ini. Mengapa? Karena penulis luput melakukan riset kebahasaan dan akurasi historis. Penggunaan kosakata kasual modern (seperti “nggak” atau “bikin”) di tengah atmosfer masa lalu melahirkan anakronisme yang cukup fatal.

Kebebasan kreatif memang hak mutlak penulis. Namun, jika fiksi sejarah hanya dibangun dengan mencomot kepingan fakta tanpa direkatkan oleh akurasi peristiwa, maka cerita tersebut menjelma menjadi hidangan yang asal jadi–tidak matang dan tidak menggairahkan. Menulis cerita realis memang sulit, tetapi melarikan diri ke genre fantasi bukanlah jalan pintas yang lebih mudah. Fantasi tetap menuntut logika internal yang solid. Di sisi lain, kenikmatan membaca sering kali terganggu karena penulis menghabiskan terlalu banyak porsi untuk memperkenalkan silsilah tokoh. Jika garis keturunan, nama lengkap, atau filosofi nama tidak fungsional terhadap plot, simpanlah detail itu untuk dirimu sendiri. Kita dapat berkaca pada cerpen berjudul (H)aji Soleh Bertemu Tuhan. Karakter tersebut memiliki urgensi mengapa ia dipanggil Haji Soleh, dan nama itu melekat secara organik pada watak, pesan, serta konflik yang dibangun. Sederhana, mudah dipahami, tetapi fungsional.

Dari sisi tematis, spektrum yang disuguhkan para penulis kali ini jauh lebih kaya. Tema mengenai “kebebasan”, misalnya, berhasil dirombak dari sesuatu yang sepele menjadi sangat bertenaga. Kita diajak melihat perjuangan tokoh untuk bebas dari lingkungan kerja yang beracun (toxic relationship), jerat domestik keluarga yang manipulatif, hubungan personal yang rumit, hingga gugatan terhadap posisi negara di mata warganya. Sebagai juri, sudah menjadi tugas saya untuk menyimak dan menghargai setiap muatan pesan tersebut. Sayangnya, masih banyak penulis yang mengidap gejala “tidak percaya pada pembaca”, sehingga mereka merasa perlu menjejalkan maksud dan pesan moral secara terang-terangan (preachy) di akhir cerita. Percayalah, tidak ada pesan yang terlalu sepele jika dikemas dengan magis. Ingat pula bahwa tafsir pembaca adalah wilayah merdeka yang tidak bisa dikontrol oleh penulis. Agar cerita tersampaikan, penulis harus mulai memercayai pembacanya dengan cara; membangun dialog antar-tokoh yang taktil dan natural, mengerucutkan fokus konflik pada satu peristiwa krusial, dan memperhalus alur transisi cerita. Setelah itu, asah teknik mendasar dimulai dari penulisan kalimat yang efektif. Sebuah tema dan premis yang menarik sering kali runtuh seketika akibat eksekusi kebahasaan yang berantakan.

Cerpen berjudul Map adalah contoh naskah yang berhasil menyampaikan pesan besarnya dengan cara yang sunyi. Konflik yang memanas diteropong secara apik melalui sudut pandang seorang anak. Penulis membiarkan pembaca mencari kebenaran dan isinya sendiri tanpa memaksa kita untuk berpihak. Ceritanya singkat, matang secara tujuan, dan mengalir memikat tanpa perlu tumpukan catatan kaki untuk menjelaskan istilah tertentu–meski aspek ketelitian suntingan masih perlu ditingkatkan. Pada akhirnya, panjang atau pendeknya halaman akan menjadi nomor dua jika penulis sudah tahu ke mana arah ceritanya akan berlabuh.

Terakhir, saya ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pencerita yang telah dengan tekun dan giat merawat imajinasinya. Menulis adalah sebuah keterampilan (skill), yang berarti ia bisa dilatih, dipupuk, dan dikembangkan. Pencerita yang baik tidak lahir dalam semalam. Di samping mengasah urusan teknis kebahasaan, seorang penulis juga dituntut untuk mengasah sensitivitas kemanusiaannya. Di era limpahan informasi saat ini, kita bahkan bisa menuliskan pengalaman yang tidak pernah kita alami secara langsung di dunia nyata. Namun, kita harus tahu posisi etis yang jelas dari cerita yang kita lahirkan.

Perlu saya sampaikan secara terbuka bahwa beberapa naskah gugur dan tidak lolos ke dalam babak 120 besar dikarenakan ketidakmampuan penulis dalam merespons isu-isu sensitif secara bijak. Naskah-naskah yang masih melanggengkan objektifikasi terhadap perempuan atau kelompok rentan lainnya, tidak akan pernah mendapatkan ruang untuk lolos dalam proses penjurian saya. Hal ini menjadi catatan evaluasi yang mendesak. Sekalipun naskah tersebut berangkat dari trauma atau pengalaman personal–dan saya percaya hal personal memiliki nilai penting dalam sastra–penulis wajib melakukan edukasi diri terlebih dahulu sebelum melempar karyanya ke ruang publik. Jika tidak tahu, maka bertanyalah, lakukan riset yang jujur, dan perbanyaklah membaca karya-karya sastra yang sudah matang secara perspektif kemanusiaan.

Semoga catatan pertanggungjawaban ini tidak dibaca sebagai penghakiman, melainkan sebagai pemantik bagi kita semua untuk terus belajar, meriset, dan mempertajam pisau kepenulisan kita. Saya mengucapkan selamat kepada para penulis yang karyanya berhasil terpilih. Bagi para penulis yang belum lolos pada kesempatan kali ini, hormat dan terima kasih saya yang mendalam karena telah mempercayakan karya terbaik kalian untuk saya baca.

Jakarta, Mei 2026

Ng Lilis Suryani

Fasilitas Lomba

Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 14 Juni 2026. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.

Ikuti lomba menulis ke-23 karena semua peserta lomba ke-22 ini mendapatkan voucer diskon 20%.

Pengumuman Pemenang

Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-22. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.

Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.

Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-22 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.

PeringkatJudul CerpenNama Penulis
1(H)aji Soleh Bertemu TuhanMayla Fitri Azzahra
2MapNicodemus Sihaloho
3Aku Membawa Katapel Hari ItuVidya Qory Ramadhani
4Kami Menenun KebisuanMarissa Rui
5MaskumambangRoisah Ma’shumah
6Kesaksian Sebelum Hari KetujuhBaron Yudo Negoro
7Lubuk LaranganAnggi Gayatri Purba
832 Cara Menghadapi KegagalanBoiman Manik
9Agama sebagai CanduAizul Rafdi Denanda
10Anjing KembarEdo Arnanda
11Rumah yang Tidak Pernah Kami BakarMuhammad Rasyid Setyadi Dwi Putra
12Pergilah Selalu BersamakuNathanio Chris Maranatha Bangun
13Teror Timor TimurAkmal Jamalullail
14Istri Dukun dan AsapBin Murarka
15Janji AsiongPetrus Setiawan
16Kamus Kecil IbuRiny Yunita
17Menilik Mimpi di Riak Sungai PusuPusvi Defi
18Hidup Basino Tinggal Satu Tahun Lagi, Apa Rencananya Kali Ini?Anov
19Warisan Merah SepiaFathurrozi Nuril Furqon
20Lantai Dua BelasEmha Daffa
21Cita-Cita JunedZeribhuana
22Apakah Kita Sudah Merdeka?Im.Faziu
23Menjelang AkadLarasati Oktaviora Ramadianti
24Tanah Bakumpai adalah ObatShafi’i
25Sepasang Sandal di Depan PintuFifit Darmayanti
26Tetangga SebelahMuhammad Ibrahim
27Kota Ini Periuk, Kita DagingnyaIde
28Api di Rak CórdobaAqlam Azzarqa
29Penganyam SuaraKayla Untara
30Log #01Sba
31Garis Sunyi HujanDimitri Nugrahadi
32Perjamuan Jati TerakhirEki Putranto Wibowo
33100 Jam Selepas BerdukaAfina Iskandar
34Langkah yang Tak Pernah Salah ArahRiny Yunita
35Kebisingan dalam SunyiRahayu Nia Saputri
36Di Belakang KatedralNathanio Chris Maranatha Bangun
37Anak JadahKhaira Azzahra
38Hal-Hal yang Kita Simpan Setelah IniAnindita Buyung Pribadi
39Non NatusYohanes Paulus Gekeng Koting
40Krayon HijauNurhayati
41Menyulam PilihanIvonne Martin
42DuplikMat Salik
43Menutup Usia dalam Toples-Toples KacaMawar Puspadiana
44Lampu Lima Watt Remang-RemangAnjelia Panggabean
45KalutI Gusti Agung Agus Mahendra
46Elegi Kata yang PulangEki Putranto Wibowo
47Lelaki yang Menelan CakrawalaFaldha Pebrianti Pangke
48Matahari yang Dibungkus CelemekAis Ulya Nafisah
49DewasaPuan Ratu Safiera Munaji
50Malam di Tengah Debu LogikaFriska Oktavia
51Menembus Batas Samudra KeragamanGracea Lovelia
52Lima DetikChoco Manggo
53Dua WaktuSiti Nurmaya
54Duka Cita Si DatokGabriella Keisha
55Akar Luka di Tanah JawaCharlotte Frances
56Kereta KelanaPrana Yuda
57Kaleng Biskuit di Sudut Kelas EnamYuli Yulianti Nurjannah
58Kematian MahalJermia Joshua
59Gerbang TamanM. Rafa Aqeela Mirza
60Keluarga SirkusDhuriyah Siti Handaroh
61Insentif Gangguan JiwaMula Kala
62Keluarga HartonoHildalina Nur Sebrina
63Bajing dan Kalebun SappakZainul Muttaqin
64LuisaAde Chyntia
65Harsa dalam Dua RasaJagat Maulana Tirta Chandra
66Legenda Dewa KetiadaanGema Surya Hendrawan
67Hilang di AssengngengAr&Dy
68Layar Tancap: Pantulkan BiasHelda
69Amorfati De LunaLumescaa
70Ayah Tak Pernah TuliAnifatul Safitri
71Siapa MonsternyaTania Syafutri
72Si Lelaki dengan KucingWS. Djambak
73Secangkir Yin Yue Tea untuk NikoDiaz Wahyu
74Hutan Mendengar Lebih DalamTeguh Sakti Pratama
75Makan Malam BrutalAzaryn Kalani
76Elegi di Titik NadirDhayu Fatika Rahmani
77Ekosistem KaryaAliza
78KarminArti Rahardjo
79Kakek Hitamysk
80Only You, Always You: yang Tersisa dari KitaIndra Cahya Pujarama
81Matahariku Padam, Rembulanku RedupDeris Arista Saputra
82Ivory PutihRindi Puji Meidina
83Masih Adakah Waltz Yang Tersisa?Jiro Danusastro
84Elegi Kediaman ValtameriElvina Fiorenza Muhtadi
85Segelas Teh dan KamuNafisa Syaheeda Yussi Al Kahfi
86Dosa Besar di Tengah Konflik ToleransiTristan Permana Kartadisastra
87Tayangan dari TuhanHaya Nur Syahla
88Dua Batas MimpiCloudstarry
89Rahim yang Tak Pernah MembenciKayla Aulia
90Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan KisahAnugerah Bagus Ibrahim
91Kepergian yang BergemaRei
92BelatungGaluh Ginanti
93Pulang Sebelum FajarDewi Yusuf
94Our Happy EndingNanda Oktaviani Puspa Dewi
95Anatomi Surat-Surat Tak BertuanArvelia
96Monster Vs PredatorAmalia Ali Putri
97Nilai 100 Untuk DoniStepanus Rico
98MiskinZenitheya Ollie
99AibHarris Syaus
100Malam Perayaan Tanpa Tepuk TanganMuhammad Imaduddien Abdurrahim
101Penghisap DarahHafid Wahyu Ramadhan
102505: Help CenterAzalealea
103Kepulangan yang Tak DiharapkanMicky Jo
104Pesan Pak TuaRebeca Kakokur Uropmabin
105JakartaAthaya Wafi Andaka
106Hotel AsmaradantaGalang Bagus Satria
107Sepeda Roda Tiga ImpianAshiba Itamara
108Sang PenyelamatBubung Dantyo Prakoso
109Tempat Penitipan KepalaListiya Suci Ramadhani
110Cara Menghabiskan KeabadianSalma Auliannissa
111Spektrum di Kedai TerakhirDewi Wulansari
112AblikLian Rosella
113Simfoni Sunyi di Ujung Ladang GandumAruna Raissa Margoeto Putri
114Gema Di Balik Ruang KerjaAbdul Zahir
115Siaran TerakhirAnabel Karolina Pasaribu
11608:02Putri Caroline Widjaja
117Laut RindukuIts Sha
118Ada Apa Denganku?Kang Rezza
119Satu Hari di TendaAisyah Nur Syarifah
120Burung yang Enggan MenangisKasih Mentari Azwar
121Sampai Mereka PulangJisara
122Canteen GhostHanindya Alula Pramesty
123Salimah Enggan PulangRani Ramdayani
124Ariana dan ArdanAnjas Dala
125Rekuiem untuk Bejana BernyawaRicher Mozart
126Cinta Sewangi OpakMarni Amoy
127Rasa Manis di Tengah LukaNizar Nasiqbillah Lesmana
128Di Balik Kabin MerahAde Chrisnanda R
129Purnama di Negeri LangitChelsea Kirana Ramadina
130Dia, Khitan, dan KhatamYusmaridi M
131Perpustakaan Pinggir KotaEllen Aprilia
132Eksistensi MarionnetteFaris Alfarisy
133Pagi yang Bahagia, Sore yang MenyedihkanCatherine Fellicia
134Hirotaka-SamaYati Khalala
135Warisan Luka dalam Satu NadiZizah Nurra
136Kabar AnginQiara
137JejakMuhammad Fahri Nur Raihan
138Ketika Satu Kakiku Pergi BersamamuCristy Popon
139Kembang SoreVerena Indreswari
140Usai Tanpa MemulaiNur Muhrianti Hamrih
141Kode yang Tak Pernah SelesaiMega Destyani Butar Butar
142YozukaAskabestie
143Enam Butir TelurRisty Fadjar Kirani
144AdirakaRana Zharifah Haya
1450u;tro TujuhZya Zura
146Sang Gadis dan Roh Ekor SembilanRayana Meifiliani
147Anomali Lidah Cik AnnaRayhan Aulia Prakoso
148Revolusi Seinci di Atas TelingaBg Khayyam
149Anomali Pukul 08.15 MalamMuhammad Muhtaruddin Rais
150Hide and SeekNikita Yuana
151Anyelir di Perjumpaan KeempatKarmila
152Penyakit yang Tak Pernah Diberi NamaAldi Hidayat
153AsingNabila Tara Alifia
154Perempuan dan Tabung KosongImar Dahlan
155Pagi yang BisingNur Rizqa Aulia
156Buku Panduan Menjadi Orang SuksesSaiffatah Hamas Izzahudin
157Dari Tangan yang SamaZaneta Azalia Herviana
158Dua Centang BiruCaramellatte
159Dua PemburuArif Apriyana
160Misteri Rumah KosongSulaiman
161Dunia di Mata yang BesarRitoruraita
162Empat Sampai NolWuulalkaa
163Fanderson dan Sebiji Kacang PolongEirine A. S
164DelusiLeonardo Doherty
165Topeng PurnamaRindu Aksara
166Jejak yang DihilangkanRavlia Putri Pramudita
167RumpangJudistia
168GentingYiruma Ai
169Ruang Muram di Antara KepulanganAfifah Nabil Hasna Aisy
170Geografis MemoriArya Gilang Pamungkas
171Neraka dan Petir KesetiaanJJ Prakoso
172Gadis JangganRismawati Puri Anggraini
173Tanah KarmaArya Adhikara Pradipta
174Sembilu IbuLadon Dolinius
175Makan Malam Apa Hari Ini?Muhammad Dawam Nofal
176Tanda Semanggi di Atas MimpiOkcaviana Dwi Yanti
177Jebakan Karya VivaldiAmira Reswara
178Museum KemiskinanHaifa Abdillah
179Nama-Nama yang Tidak Diizinkan DisebutMuhammad Rasyid Setyadi Dwi Putra
180Jumat Setengah Lima di Bukit RhemaKrisnaldo Triguswinri
181Pulang ke Tanah TimahEike Ervika
182Pergi untuk Pulang, Pulang untuk PergiNisrina Salma Rosyidah
183Sagara dalam SajadahQonita Naurin Qolbi
184Sebilah Tubuh dalam Pintu KayuAulia Nur Latifah
185Dua Mangkuk BaksoDian Sartika Kurniawaty
186Satu Banding SeribuDylan Nicholas
187Fajar yang TenggelamNadia Rahmawati
188Surat KalengFajarmana
189Pulung GantungMella Pramesti
190Penjaga MakamAfriza Yuan Ardias
191Melepas Bayang-Bayang JupiterMiftahul Jannah
192Human vs BotLatifa Iswandari
193Kita Pernah Jatuh Cinta di Kota yang Tak Pernah AdaD. Hardi
194Kesan KasanKhrisko Suprastiwara
195Lipatan KertasKhairunnisa
196He Rewrites My MorningAmarta Shandy
197RasolanMoh. Tsabit Husain
198Sepetak Bumi Tak BernamaJenny Seputro
199Jangan Kau Ceritakan Penglihatan ItuDominikus Wimpie Fernandez
200The RadioNisa Amabel A.

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,

Tulis.me

Tentang Tulis.me

Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.