Catatan Juri

Di Tengah Tumpukan Kisah Cinta yang Tiada Habis-Habisnya: Sebuah Catatan Penjurian

Dari ratusan naskah yang dikirim panitia tulis.me, saya diminta memilih 100 naskah. Begitu juga kedua juri lainnya.

Harus diakui, membaca naskah sebanyak itu memerlukan waktu tersendiri. Untuk itu, saya mengubah jadwal harian saya dan memberi durasi lebih banyak untuk membaca naskah-naskah tersebut dalam rentang waktu yang sudah disepakati. Setiap selesai membaca beberapa naskah, saya mengambil jeda: mendengarkan satu-dua nomor musik; berdiri di beranda sembari menatap langit hampa atau; berbaring saja sembari memejamkan mata.

Dari pembacaan terhadap naskah-naskah tersebut, saya menyimpulkan beberapa kecenderungan, dan kecenderungan-kecenderungan itu dapat pula dilihat sebagai ukuran bagi tingkat pengalaman masing-masing penulis.

***

Pertama, jenis naskah yang tampaknya menganggap cerpen sama dengan “bercerita”, atau sama dengan buku harian. Dalam naskah seperti itu, biasanya tokoh memperkenalkan diri (atau diperkenalkan oleh narator) dengan nama lengkap sekaligus nama panggilan, beserta sifat-sifat kepribadiannya. Struktur cerita biasanya seperti diary, lengkap dengan petunjuk waktu yang sering selalu tepat (misal, tepat pkl. 08:00). Kisahannya di seputar percintaan remaja, atau relasi pertemanan, atau problem keluarga, dengan akhiran bahagia. Sering pula ditemukan adanya surat seorang karakter ke karakter lainnya.  

Kedua, jenis naskah yang bertendensi fantasi dan/atau fiksi-ilmiah. Naskah jenis ini cukup banyak, meski tak sebanyak dari jenis pertama. Dalam naskah seperti ini latar cerita memang seperti umumnya dalam cerita fantasi (entah di mana, tapi selalu berkesan ada di Eropa, terutama dari pemilihan nama-nama tokoh). Kisahannya, secara umum, juga tak lepas dari percintaan atau pengkhianatan. Untuk naskah yang bertendensi fiksi ilmiah, nyaris selalu ada twist di akhir cerita; twist yang sayangnya sudah bisa ditebak sejak paragraf-paragraf awal. 

Ketiga, jenis naskah yang memilih latar cerita di manca negara, terutama Jepang dan Korea. Kisahannya tak jauh-jauh dari percintaan juga, terutama bagaimana cinta sejati akhirnya ditemukan, meski insan-insan yang terlibat di dalamnya tak selalu bisa bersama.

Keempat, jenis naskah berupa cerita detektif atau cerita kriminal. Naskah seperti ini sebetulnya potensial, sayangnya nyaris tidak ada yang cukup cekatan dan sabar menggunakan strategi-strategi yang dibutuhkan untuk jenis cerita semacam ini.

Kelima, jenis naskah yang mengambil referensi sejarah. Biasanya yang diambil adalah kerangka besar sejarah yang sudah umum, atau kalaupun mengambil topik kecilnya, (lagi-lagi) tak jauh pula dari kisah percintaan.

Keenam, jenis naskah yang bertumpu pada “lokalitas”. Tumpuan itu terutama ditandai dengan adanya percakapan menggunakan bahasa lokal. Jenis naskah seperti ini sering hanya menjadikan “lokalitas” sebagai atribut; pakaian untuk tema yang tak spesifik.

***

Selain keenam kecenderungan tadi, ada juga naskah-naskah dengan kecenderungan lain, terutama dalam tema; lingkungan, relasi kuasa, gender, atau agama. Ada juga naskah yang tampak tak terlalu memperhatikan tema populis, dan terbangun semata sebagai “fiksi murni” yang bertumpu pada kepengerajinan.

Setelah masing-masing juri memilih 100 naskah, terkumpul 300 naskah yang mesti dibaca kembali untuk dipilih menjadi 20 besar. Masing-masing juri menentukan 20 besar versinya, lalu dikomparasikan satu sama lain. Dari 300 naskah yang saya baca kembali, secara pribadi (terlepas dari penilaian juri lain), saya menganggap ada sekitar 50 naskah yang pantas dipertimbangkan. Untuk itu saya berupaya meluaskan spektrum penilaian dengan sebisa mungkin memberi peluang bagi setiap pilihan gaya dan tema tanpa mengabaikan faktor-faktor obyektif dalam penilaian karya fiksi.

Pada sesi ini pekerjaan menjadi lebih berat dan sulit; selera pribadi sebisa mungkin dikesampingkan dan saya berupaya lebih fokus menimbang aspek-aspek yang membuat suatu karya fiksi menjadi lengkap: kemampuan berbahasa, strategi plot, struktur penceritaan, penokohan, konflik, sampai pilihan tema dan isu yang diangkat.

Dari 20 besar naskah yang dipilih masing-masing juri, ada sejumlah naskah yang sama. Mekanismenya: naskah-naskah yang sama tersebut (artinya yang dinominasikan oleh ketiga juri) otomatis menjadi kandidat pemenang utama. Dalam hal ini, ada 6 (enam) naskah:

Naskah “Akuarium”. Tema kerusakan lingkungan (dalam hal ini: laut) yang digarap dengan cara yang jauh dari klise. Plot berselingan antara mimpi dan kenyataan membuka ruang tafsir yang lebih luas atas tema. Di dalam mimpi laut hitam-tercemar; di dalam kenyataan sebuah akuarium besar dibangun. Pada satu titik, untuk suatu harapan akan penyelamatan, mimpi dan kenyataan bersilang. Akan tetapi harapan tersebut jadi tampak utopis ketika apa-apa yang hendak diselamatkan di dalam kenyataan, tak bisa lagi diselamatkan, sekalipun di dalam mimpi.

Naskah “Persembahan untuk Paulus”. Suatu cerita tentang racun maskulinitas dalam keluarga. Disusun secara efektif dengan plot yang memperkuat motif karakter; yang satu berupaya mempertahankan maskulinitas (palsu)-nya, yang satu lagi meletuskan maskulinitasnya setelah sekian lama ditimbun paksa. Secara esensial, cerita ini mengingatkan saya pada film The Power of the Dog (Jane Campion, 2021).

Naskah “Cerobong Merlot”. Ini termasuk naskah yang menggunakan latar manca negara. Suatu momen dalam perjalanan beberapa peneliti di Siberia. Ini juga termasuk naskah yang tampaknya tak bertumpu pada tema, bahkan tak bertumpu pada cerita, melainkan pada adegan-adegan. Ada tertangkap kesan bahwa cerita dalam naskah ini merupakan fragmen dari cerita yang lebih luas, sejumlah informasi disamarkan sebagai “inside-conversation”, sehingga berkesan minimalis. Akan tetapi, citraan-citraan yang dihadirkan begitu hidup sehingga merangsang indera.

Naskah “Apa-apa yang Tersisa Setelah Jakarta Tenggelam dan Garis Pantai Berpindah ke Cinere”. Distopia pasca-bencana. Menarik, sebab, apabila umumnya bayangan tentang masa depan adalah kehidupan dalam kuasa teknologi, di naskah ini masa depan digambarkan terbentuk oleh bencana alam, dan manusia kembali ke dalam peradaban purba.

Naskah “Gurauan Para Pembisik”. Naskah ini menghadirkan desas-desus sebagai penyebab tindakan tokoh, yang sekaligus menyebabkan hadirnya peristiwa. Pilihan profesi karakter, yang membangun latar tokoh, serta mengesankan wilayah domestik, berkait-kelindan dengan permasalahan yang melingkupi tokoh utama.

Naskah “Parang Jahanam Sulamin”. Kisah seorang pemburu harimau yang sudah pensiun, tapi oleh suatu situasi terpaksa harus kembali beraksi. Kisahan cukup menarik, sayang jembatan antar plot tampak goyah, dan tokoh-tokoh tak hadir secara seimbang, selain juga beberapa kekeliruan tata bahasa.

***

Selain keenam naskah di atas, ada sejumlah naskah lain yang menarik perhatian dan kemudian dinominasikan, setidaknya, oleh dua orang juri. Dari perspektif saya naskah-naskah tersebut, antara lain:

Naskah “Hikayat Halimun Alimunda”. Kisah anti-hero yang mendekonstruksi kesakralan. Narasinya bernas. Meski begitu beberapa partisi cerita tak cukup dikuatkan.

Naskah “Luwak Kepala Hitam”, sebuah contoh naskah dengan gaya realis yang bersih dan rapi. Latar serta konflik yang muncul dalam cerita terbilang spesifik. Relasi kuasa dalam nalar ekonomi-industri selalu menjadikan penghuni dasar piramid sebagai korban. Meski begitu, adegan-adegan suspens luput ditajamkan.

Naskah “Kursus Mengumpat”. Sarkastis. Di beberapa bagian agak berlebihan. Kecuali kemungkinan imajinatif serta perasaan jengah yang dimunculkan, sugesti kemarahan dan keputusasaan kurang berhasil digarap lantaran sibuk dengan gambaran perihal teknik mengumpat.

Naskah “Di Tepi Malam”. Kisah tentang sepasang bocah dengan persoalan keluarga masing-masing. Karakter-karakternya dibangun dengan baik serta dibuat kontras untuk menghasilkan tingkat ketajaman tertentu. 

Naskah “Hikayat Rungkad dan Langit Edvard Munch”. Ganjil, seganjil gaya narasinya. Menunjukkan peran bahasa yang bukan sekadar pengantar cerita.

Naskah “Karakter-karakter yang Dibunuh Naratornya”. Satir, lucu, dan cuek. Sayangnya terkesan sesak karena terlalu banyak karakter.

***

Pengalaman membaca ratusan naskah dalam sayembara ini, selain memberi saya pemandangan di sekitar topik-topik percintaan yang masih jadi pilihan banyak penulis, juga memberi saya suatu pemandangan lain, bahwa naskah-naskah dalam sayembara ini banyak yang tak hendak menjauhkan diri dari isu-isu populis, seakan-akan teks fiksi selalu ingin melibatkan diri dalam isu-isu tersebut. Selain itu, terlintas pula, berkali-kali, suatu kesan bahwa banyak naskah dalam sayembara ini yang tampaknya ditulis dengan bayangan akan adegan film. Seakan-akan naskah-naskah itu ditulis sembari dibayangkan sebagai adegan di dalam film.

Pemandangan-pemandangan dan kesan seperti itu seperti menandakan adanya tekanan ilmu sosial/budaya (melalui isu populis) dan kebudayaan massa (melalui film) dalam teks fiksi yang diproduksi belakangan ini.

Meski begitu, selalu terasa menyenangkan setiap kali ada naskah yang menarik, yang sanggup memberi dan memperkaya pengalaman artistik saya. Apalagi jika naskah seperti itu saya temukan di antara naskah yang ditulis di bawah tekanan-tekanan yang saya sebut di atas, juga di tengah tumpukan kisah cinta yang tiada habis-habisnya. Hopla!

Kiki Sulistyo

 

 

Sepanjang membaca ratusan naskah lomba menulis Tulis.me, saya menemukan berbagai jenis karya dengan kecenderungan tertentu. Hal ini sudah tertandai sejak pembukaan cerpen. Kebanyakan karya-karya peserta lomba dibuka dengan perkenalan diri menyebutkan nama tokoh, umur, jenis kelamin, latar belakang keluarga, hobi, nama saudara serta sahabatnya, dan segala macam. Tokoh-tokoh mereka rata-rata dibangunkan oleh ‘jam weker’ dan ‘kokok ayam’, seolah ingin memberitahu bahwa semua masalah atau konflik yang akan terjadi selalu dimulai di pagi hari. Setting rumah dan sekolah mewarnai juga sebagian besar cerpen-cerpen peserta. Masalah keseharian, keluarga, romansa, hingga topik yang membidik ke isu-isu lingkungan, politik, gender, kemiskinan, mitos, lokalitas dengan berbagai wadah genre realis, surealis, absurd, fantasi, dongeng, fiksi sejarah, fiksi ilmiah.

Di tengah tawaran beragam topik dan genre itu, masih banyak yang penggarapannya luput dalam hal teknis dasar seperti tata kalimat dan tanda baca yang benar. Di sisi lain, ada banyak juga narasi-narasi yang rapi namun diliputi penyelesaian cerita yang terburu-buru, cenderung klise, pembangunan karakter yang tidak kokoh serta kurang memiliki keterhubungan dengan konteks tertentu. Sebagai juri, dalam proses pembacaan saya tak menyerah memburu naskah-naskah lain yang bisa memenuhi kriteria. Proses ini seperti mengarungi belantara hutan hingga tibalah saya pada naskah-naskah unggulan. Naskah-naskah unggulan ini bisa dibilang memenuhi kriteria cerpen yang lengkap. Baik dari segi teknis dasar yang sudah beres maupun gaya penceritaan yang menarik dan menawarkan sudut pandang berbeda.

Melalui rapat juri, keputusan tiba pada dua puluh besar naskah unggulan. Para juri memiliki penilaian yang kurang lebih sama terhadap dua puluh naskah ini sehingga bisa dikatakan layak dibukukan dalam antologi. Adapun tiga besar naskah yaitu cerpen berjudul Akuarium, kedua Persembahan untuk Paulus, dan ketiga Cerobong Merlot. Masing-masing dengan keunggulannya yang mampu memikat juri.

Akuarium menggunakan teknik penceritaan yang rapi dengan pembagian sama rata antara dunia mimpi dan dunia kenyataan. Isu lingkungan seputar pencemaran laut dibawa melalui mata seorang anak tanpa ada tendensi didaktis atau orasi perihal isu yang cukup populer itu. Keasyikan bolak-balik antara dunia mimpi dan dunia nyata menghadirkan nuansa sureal, dialog-dialog yang mengambang, dengan sentuhan unik di sana-sini yang cukup menangkap perhatian pembaca.

Persembahan untuk Paulus adalah cerpen yang begitu padat dengan jalinan cerita. Baik masa lalu dan masa kini para tokohnya berbaur tanpa sekat, juga topik-topik yang disertakan seputar dampak pola asuh orangtua, toksik maskuliniti, warisan, gender, semuanya berpadu dalam ikatan cerita yang kokoh. Di tengahnya diisi oleh luapan emosi dan riuh pikiran tokoh yang membuat nada penceritaan begitu intens.

Cerobong Merlot sepanjang penceritaannya mendatangkan nuansa yang ganjil dan diselimuti misteri dari awal hingga akhir. Apa yang sebenarnya terjadi di antara tokoh-tokohnya bahkan tak terungkap hingga cerita ditutup. Deskripsinya dipenuhi pengalaman indrawi yang berlangsung bertahap-tahap. Suasana tempat maupun karakter tokohnya dibangun dengan baik. Cerpen ini seperti bagian dari sebuah cerita yang lebih besar. Meski tak menemukan inti cerita, namun gaya kisahan yang diusung cerpen ini sanggup mengantar pembaca sampai ke bagian penutup. Saya jadi merasa penasaran dengan kelanjutannya. Sepertinya akan sangat menarik bila membaca versi yang lebih panjang dari cerpen ini.

Akhirnya saya ucapkan selamat bagi para pemenang dan peserta yang naskahnya masuk unggulan. Semoga setelah mengikuti lomba ini bisa semangat terus menulis karya-karya baru. Menulis seperti jalan panjang yang kemahiran melalui jalan itu akan teruji seiring waktu. Jadi semoga tak berhenti sampai di sini. Bagi para peserta yang naskahnya belum terpilih semoga tidak terlalu berkecil hati. Lomba menulis hanya salah satu jalan untuk menguji kualitas karya kita. Jalan-jalan lain masih terbentang cukup lebar selama kita masih terus konsisten menulis dan meningkatkan kemampuan kita dalam menulis. Dimulai dengan banyak membaca lagi. Sebab membaca bagaikan menyediakan tinta untuk kita melahirkan karya-karya yang lebih baik. Membaca karya-karya yang baik, melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar, selalu bersikap awas demi bisa menangkap bahan-bahan yang bisa diolah ke dalam tulisan, lapang dada menerima kritik dan saran, dan tentu saja tetap fokus dengan tujuan.

Salam.

Iin Farliani

 

 

Dalam segi Bahasa, para penulis masih mengabaikan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) seperti penggunaan huruf kapital pada awal kalimat, penggunaan tanda baca yang tidak sesuai seperti titik, koma, petik, dan sebagainya. Penulis mesti mencermati kembali bagaimana EBI yang baik dan benar. Sementara itu, dalam segi eksplorasi penggunaan bahasa, banyak penulis yang berani melakukan eksperimen dengan mencantumkan istilah-istilah yang masih jarang terdengar. Sebagian berhasil menyusun kalimat yang indah, sebagian lagi cenderung agak berlebihan dan justru mengikis makna dan keindahan bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk mempelajari juga penggunaan istilah-istilah maupun kata-kata baru dengan menyesuaikan konteks yang ada. Misalnya saja dalam menggunakan kata tirta, netra, dan jumantara. Alih-alih fokus memamerkan pengetahuan bahasa dan sebanyak apa diksi yang diketahui, ada baiknya penulis juga turut mengeksplorasi gaya penceritaan yang runtut dan tidak bertela-tele.

Secara keseluruhan, penulis telah berani melakukan eksplorasi ide-ide cerita meski masih banyak didominasi dengan cerita cinta remaja maupun cerpen-cerpen bernuansa islami yang hanya merepetisi panduan-panduan agama serta cenderung menggurui. Banyak cerpen-cerpen fantasi yang sebenarnya potensial tetapi sayangnya penulis masih menjadikan referensi barat dalam mengeksekusi tulisannya. Ada banyak sekali sebenarnya kearifan lokal yang bisa diangkat dalam cerita-cerita fantasi tanpa harus meniru cerita-cerita Barat. Beberapa cerpen telah mengadopsi lokalitas dan berhasil menerjemahkannya secara kontekstual. Menjadikan Barat sebagai referensi tentu bukan jadi masalah besar. Namun perlu digarisbawahi bahwa banyak cerita fantasi yang merujuk referensi barat tanpa melakukan riset sehingga justru banyak plothole dalam cerpen tersebut.

Sebagian besar cerpen religi terlalu fokus untuk memberikan ceramah dan petuah sehingga justru menghilangkan esensi penting dari cerita itu sendiri, yakni bercerita. Ada baiknya penulis fokus dalam mengeksekusi proses cerita dari awalan hingga akhir alih-alih menitikberatkan pada “pesan moral” yang ingin disampaikan. Ide-ide cerita cinta remaja juga perlu eksplorasi lebih mendalam. Misalnya saja dengan menajamkan kompleksitas isu yang dihadapi anak-anak remaja saat ini.

Salah satu keunggulan dari karya-karya para penulis pada kompetisi kali ini adalah banyaknya penulis yang berhasil mengemas isu-isu lokal beserta kearifannya dengan baik tanpa berusaha meromantisasi. Bagaimana penulis menuturkan kisahnya dengan baik sehingga dapat memberikan gambaran jelas tentang situasi serta penggunaan bahasa lokal yang disertakan dilakukan dengan pas.

Banyak penulis yang juga sudah berani menampilkan latar di luar Indonesia seperti Jepang dan Prancis. Akan tetapi, dalam mengeksplorasi latar luar negeri, penulis masih terlalu fokus meromantis suasana latar alih-alih mencoba menunjukkan sisi human interest yang juga tak kalah penting. Namun demikian, karya-karya penulis telah menunjukkan bahwa banyak penulis baru yang sangat potensial mengisi khazanah sastra Indonesia. Antusiasme ini tentu harus dipupuk agar penulis terus belajar dengan terus membaca dan menulis.

Lamia Putri Damayanti

Fasilitas Lomba

Kepada seluruh peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 15 April 2023. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.

Kelas Menulis Daring akan diinformasikan waktu pelaksanaannya melalui story dan higlihght IG @tulis.me. Harap selalu memantaunya ya!

Pengumuman Pemenang

Berikut daftar peringkat 200 besar Lomba Menulis Cerpen ke-15 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan cerpen terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama. Karya pemenang dapat dibaca dalam e-book antologi lomba ke-15. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

PeringkatJudul CerpenPenulis
1AkuariumIona Stella
2Persembahan untuk PaulusPetrus Nandi
3Cerobong MerlotAxella Hartono
4Apa-Apa yang Tersisa Setelah Jakarta Tenggelam dan Garis Pantai Berpindah ke CinereFaris Al Furqon
5Gurauan Para PembisikYanto Purwanto
6Parang Jahanam SulaminBudi Saputra
7Hikayat Halimun AlimundaMuhammad Daffa
8Luwak Kepala HitamTjak S Parlan
9Kursus MengumpatAliurridha
10Di Tepi MalamRima Cahaya Febrina
11Hikayat Rungkad dan Langit Edvard MunchAlbyan Azhar Abdillah
12Aku Melihat Mas BagasR. A. Kharisma
13Bapakku TuliSanti Setya Jayaningsih
14Kali dan Pusa AngenJuniaro
15Kuburan KucingPuitika Aisyah Aini
16Karakter-Karakter yang Dibunuh NaratornyaDewanto Amin Sadono
17Seorang Lelaki yang Kupanggil KamalRayhan Aulia Prakoso
18BelatungFrisko Samudra Novarista Permata Martiyan
19Sialan, Kau, Bastet, Aku Ini MenyayangimuYuri S. Ostrovsky
20Wanita Pembeli KerandaYudha Pradina
21Tangis Bayi yang Disamarkan PeluitWindy Marthinda Windari
22Dialog dengan AsmaraTiar Inas Shabrina
23Seminaris, Vesper, dan Perempuan Berambut JeramiMas Gamblang
24Sepasang Kucing di Kampung ParfumHaryas Subyantara Wicaksana
25Keberuntungan Satu Daun SemanggiResti Tri Ayu Lestari
26PITONAri Basuki
27PulangNura Ningsih
28Saksi MataRikard Diku
29Kelebatan Kematian di Mata Sang KiaiJohanes Arya Amandu 
30Pelarian Biru GelapBlue
31Sisa-Sisa AsaRicardo Marbun
32The Great of Wolfeart’s ShoesZuria Benesh
33Saya Guru MatematikaJoni Sadarlah Halawa
34CuppangMuhammad Zulkifli
35Angin Beranda dan Monyet MalangJospram
36Ampong dan Mutiara Huma BetangKarno
37Barang Peninggalan BapakDhimas Bima Shofyanto 
38Balada Cinta AmangkuratAde Mulyono
39GemaMey Thaniuss
40BiruAmelia Indraswari
41Lamunan Seorang Tukang BecakNicko Kharisma Gunawan
42ClairvoyanceAri Basuki
43Benang WaktuJessica Tisha Immanuel
44Manusia, Bumi dan AngkasaKayla Ramadhani Darussalam
45Dilema SuhitaJenny Seputro
46Bung PresidenDesmira Feri Susanti
47Imam dari MombasaNico Pratama Ramadhan
48Pertunjukan Teater BerdarahAzka Sora Aprillia
49Kyai Yunus dan Biruh Deun FavoritnyaRayhan Aulia Prakoso
50Suatu Malam di Kediaman Keluarga ParkZahra Nafisa Abidah
51Di Balik Bilik 218Ventino Alexsandra
52Kakus dan Lilitan Kain BatikNandita Malahati Shabrina
53Awan HitamMadd Hazen
54Setengah MilBayu Pratama
55Orang-orang yang Memilih Api di Tangan MuradMustofa
56Upacara di Tengah HutanA. Warits Rovi
57Tukang Sampah dan Anjing-anjing GilaAmelia Indraswari
58Tikus dalam SaungTuti Rusnawati
59Suara-Suara dari TimurAfifah Nada Putri Ramadhani
60Ikan LaranganBudi Saputra
61*#06#Miclyra Ersha
62Tuhan tak Pernah Merestui PembunuhanWahyu Setiaji
63Bingar Tanpa SuaraMiranti Rahmani
64Warung Telepon Tengah MalamFidella Athalia
65Mimpi ObituariIona Stella
66Tertangkapnya Psikopat NegaraNeng Nur Fitriyani Solehah
67Nyi SurniAne Putri Marciesyah
68Ode Bunga DesemberMashdar Zainal
69Tokyo Tidak Melantun BohongKhalisah Oktavia
70So Long, Mr. MailmanBulu Biru
71Dosa Besar Ratu SharevaDosa Besar Ratu Shareeva
72The Last OneS. Herianto
73Orang Mardika dan Mitos Para PeriSarita Rahel Diang Kameluh
74Kenangan Surga dan LauJessica Tisha Immanuel
75Jurnal Keselamatan Sang HantuRania Alma Adiva
76Pembunuh yang TiadaNur Azizi Juliansyah
77Time OutRania Puspita Ardyanti
78Aku Bersama Koper Berisi Mayat Emi SalideRahmad Alam
79Jangan Menikahiku karena Cinta, DrunFarah Illiyana
80Tren WajahDenny Lumban Gaol, S.Pd.
81Kesetiaan Seekor AnjingJuliana
82Yume: HanabiAldy Senathan
83TikCdalf
84Pelukis di Rumah TuaAbhati
85Beranilah OndaeJean Rivaldo Mansa
86PeluitFernanda Kristian Vidia Putra
87Kronik yang HilangJospram
88Surat-Surat dari MelbourneUmi Maslikah
89Mahakarya TerakhirAdnan Fadhil
90The Bright SideMeryllia Sasikirana Dharma 
91Si Anak LautSlamet
92Desa Lembah GunungSamudra Kaeng
93White DaisyPutri Anggia Pramuditha
94Rejected The Happiness DrugsCharajia Synoir
95MonologZabrina Mahardika Putri
96Lukrative, Kemanusiaan Versus KapitalismeAisyah Rahmania Novrianti
97Wasiat Lelaki Paruh Baya yang Selalu Bertelanjang DadaSahbuddin Dg. Palabbi
98Ketika Cahaya Lampu Rumah PadamNadhia SK Muhinda Putri
99Second ChanceCinta Anindya Aulia
100KeliruPoppy Cynthia Devi
101Kenangan FanaAida Farhani Raiyatunnisa Aleyandra
102Nyawa Sepuluh HariRediva Novalisty
103Surga DuniaNi Putu Sucita Ratih Cahyani WP
104TerbenamKenny Keitaro Budiman
105FitnahMuzakki Bashori
106Tipuan FatamorganaCucank
107FenomenaAyle Haf
108Orang-orang SekampungHendrikus Balsano Bani
109Cucu Kesepuluh KakekFatah Hidayatullah 
110Tempat PertamaAdriansyah Kusuma Wardani
111Tiga Gadis dan Karya SeniDhea Febrian
112PrasangkaYeongYoon
113Album Cokelat ItuAnisa Nurwidia Akbari
114Tak Semua Langit Malam Gelap KelamSeta Rali Taslima
115Suatu Hari di Dalam BilikWulan Riyadiyanti
116The Real Lie DetectorTia Dianingratri
117Balada di Balik Semangkok RondeMuhammad Aidul Bakri
118Puppeteer of HateKurenai Mikazuki
119Anjing Tuan MarkoezWahoo ray
120DaisiesNayla Fitria Ramadhani 
121Re-InkaVashti Trisawati
122Ketika Ayah MenangisYelloween
123AnnaAlika Syabina Putri
124HantuFedora Lay
125Sang Penguasa DurjanaLinda Ulfianah
126Theodora Bafoe dan Hadiah Pemberian IbuMas Gamblang
127Aku, Robot Aneh, dan Masa LaluAlliya Sonya Azarena
128Serpihan MemoriFransiska MD 
129Arloji Mana yang Perlu KuperbaikiSaban Maya
130Tears and MemoriesHafsa Ashalina
131Elips Berdiameter 144 TahunNaia Haura Shadiqah
132Mengubur Bidadari Pulau GapiWDGafoer
133BacksideGeshifah
134The Company’s Secret AgendaSahda Farras Althafunnisa
135Buana AmertaFidelia Priell Olympia Widjaya 
136Pertemuan Tak TerdugaEpafras Gondang Pasaribu
137Gagak yang TerkutukChocomochinon
138Ahli Benang KusutGia
139Sepenggal Kisah MyrtaDiah Mitawati
140Siapa Ya Namanya?Hiro Ohiro
141Hujan Enggan UsaiTsabina Dewi Faradhilah
142The Last Three DaysGnauvville
143Gabe, Si Pencari Peri KecilWibiana Hayuningtyas
144Ranting AjaibM. Khamim Ma’ruf
145BelladonnaDita Ekawati
146AlienateBayu Setiawan
147Bertemu KembaliPuspahua
148Purnama Cahaya KencanaAloysius Limbon Narang
149Cold MechanicNurul Hasanah 
150Hati KacaRenren
151244: FatamorganaAzka Dayana Batrisya
152Akhir KitaMichelle Alexandra Samosir 
153Mak! Ikannya Dibalik!Wulan Andiani
154Aku, Kamu, dan Kisah yang Tidak Pernah UsaiDenny Lumban Gaol, S.Pd.
155Agen SuperVisval
156Pohon Musim DinginShofi Syahada Ramadhani
157Hadiah Pernikahan untuk Zeus dan HeraArami Kasih
158Pesawat BiruTsabina Dewi Faradhilah
159Aphrodite dan Sandiwara Eos di ParisSoleiliona
160Sejumput Keadilan untuk AleshaDepp
161Tangisan MisteriusJoanawidelia
162BisingBilly Yapananda Samudra
163Pemimpin Negeri ZavardRelis Villa Salsabila 
164Perkamen dari Amplop HitamAldi Rahmadiansyah
165KungkungKenny Keitaro Budiman
166Ilusi dan KebebasanI Gusti Ngurah Rizky Wicaksana
167KambuhSao Yufi
168Rahasia CataceaAnka Sekar Haryono
169Hanya… ApaRise W. Shifa
170Hasrat KebebasanRinggo Syamdoval
171Tarian Air HujanPurpleace
172ImajinasiKarisha Rifda Naila 
173Catatan Penyihir AtraksalLoveisa Sudjito
174Bulan, Bintang, dan Kontes Pencurian KebahagiaanDesya Elma Nizami
175Teman di BelakangkuInjilina
176Harapan Sang BintangHumaira Azmi Sulthony
177The ForgottenI Kadek Rizki Riswana 
178Cerita Pukul Dua PagiNa’ila Zahirah Herawan 
179“Siapa Pelakunya?”Ahmad Dwi Rifani
180Jejak Cincin Sang PenguasaGaluh Mardina Fajar Rani
181Abbe untuk SamiraDasya Aurellia
182Senja KelabuMuhammad Imaduddin Habiburrahman
183Amukan Singa MataramHikaru
184SesalDaisy
185Operasi Lalat BesiVortiger Bladeheart
186Sirkus KeajaibanNadira Puti Ardelia
187Hati Mendadak MendidihMuhammad Fikri Haikal Saragih
188SurupDewi Aprilliyani
189Aska dan Hantu Lantai 3Ayusita Naura A.
190Teka-Teki TerakhirBima M
191BenebabeRifaatul Fadilah
192Jalan PulangDenis Daniswara
193The Story BehindAsri Nur Lestari 
194Keinginan Gus AzmiMuhammad Miqdadul Anam
195Pena AjaibVallerie Leonora
196Barangkali Nanti atau Beberapa Tahun LagiFelisitas Dhwani Wihangga
197Senja dan KisahnyaThalia
198Sepotong Rindu untuk AyahYunis Kristana 
199Misteri Mayat di Gudang SekolahNi Putu Hira Satwika Istarasmi
200Celurit Emas Warisan AyahShin Gaara

Catatan: Tabel di atas ialah tabel peringkat 200 besar, bukan tabel nama semua peserta.

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,

Tulis.me

Siap Jadi Pemenang Selanjutnya?

Tentang Tulis.me

Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: GPI Jalan Bougenville II, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.