Catatan Juri
Di Tengah Tumpukan Kisah Cinta yang Tiada Habis-Habisnya: Sebuah Catatan Penjurian
Dari ratusan naskah yang dikirim panitia tulis.me, saya diminta memilih 100 naskah. Begitu juga kedua juri lainnya.
Harus diakui, membaca naskah sebanyak itu memerlukan waktu tersendiri. Untuk itu, saya mengubah jadwal harian saya dan memberi durasi lebih banyak untuk membaca naskah-naskah tersebut dalam rentang waktu yang sudah disepakati. Setiap selesai membaca beberapa naskah, saya mengambil jeda: mendengarkan satu-dua nomor musik; berdiri di beranda sembari menatap langit hampa atau; berbaring saja sembari memejamkan mata.
Dari pembacaan terhadap naskah-naskah tersebut, saya menyimpulkan beberapa kecenderungan, dan kecenderungan-kecenderungan itu dapat pula dilihat sebagai ukuran bagi tingkat pengalaman masing-masing penulis.
***
Pertama, jenis naskah yang tampaknya menganggap cerpen sama dengan “bercerita”, atau sama dengan buku harian. Dalam naskah seperti itu, biasanya tokoh memperkenalkan diri (atau diperkenalkan oleh narator) dengan nama lengkap sekaligus nama panggilan, beserta sifat-sifat kepribadiannya. Struktur cerita biasanya seperti diary, lengkap dengan petunjuk waktu yang sering selalu tepat (misal, tepat pkl. 08:00). Kisahannya di seputar percintaan remaja, atau relasi pertemanan, atau problem keluarga, dengan akhiran bahagia. Sering pula ditemukan adanya surat seorang karakter ke karakter lainnya.
Kedua, jenis naskah yang bertendensi fantasi dan/atau fiksi-ilmiah. Naskah jenis ini cukup banyak, meski tak sebanyak dari jenis pertama. Dalam naskah seperti ini latar cerita memang seperti umumnya dalam cerita fantasi (entah di mana, tapi selalu berkesan ada di Eropa, terutama dari pemilihan nama-nama tokoh). Kisahannya, secara umum, juga tak lepas dari percintaan atau pengkhianatan. Untuk naskah yang bertendensi fiksi ilmiah, nyaris selalu ada twist di akhir cerita; twist yang sayangnya sudah bisa ditebak sejak paragraf-paragraf awal.
Ketiga, jenis naskah yang memilih latar cerita di manca negara, terutama Jepang dan Korea. Kisahannya tak jauh-jauh dari percintaan juga, terutama bagaimana cinta sejati akhirnya ditemukan, meski insan-insan yang terlibat di dalamnya tak selalu bisa bersama.
Keempat, jenis naskah berupa cerita detektif atau cerita kriminal. Naskah seperti ini sebetulnya potensial, sayangnya nyaris tidak ada yang cukup cekatan dan sabar menggunakan strategi-strategi yang dibutuhkan untuk jenis cerita semacam ini.
Kelima, jenis naskah yang mengambil referensi sejarah. Biasanya yang diambil adalah kerangka besar sejarah yang sudah umum, atau kalaupun mengambil topik kecilnya, (lagi-lagi) tak jauh pula dari kisah percintaan.
Keenam, jenis naskah yang bertumpu pada “lokalitas”. Tumpuan itu terutama ditandai dengan adanya percakapan menggunakan bahasa lokal. Jenis naskah seperti ini sering hanya menjadikan “lokalitas” sebagai atribut; pakaian untuk tema yang tak spesifik.
***
Selain keenam kecenderungan tadi, ada juga naskah-naskah dengan kecenderungan lain, terutama dalam tema; lingkungan, relasi kuasa, gender, atau agama. Ada juga naskah yang tampak tak terlalu memperhatikan tema populis, dan terbangun semata sebagai “fiksi murni” yang bertumpu pada kepengerajinan.
Setelah masing-masing juri memilih 100 naskah, terkumpul 300 naskah yang mesti dibaca kembali untuk dipilih menjadi 20 besar. Masing-masing juri menentukan 20 besar versinya, lalu dikomparasikan satu sama lain. Dari 300 naskah yang saya baca kembali, secara pribadi (terlepas dari penilaian juri lain), saya menganggap ada sekitar 50 naskah yang pantas dipertimbangkan. Untuk itu saya berupaya meluaskan spektrum penilaian dengan sebisa mungkin memberi peluang bagi setiap pilihan gaya dan tema tanpa mengabaikan faktor-faktor obyektif dalam penilaian karya fiksi.
Pada sesi ini pekerjaan menjadi lebih berat dan sulit; selera pribadi sebisa mungkin dikesampingkan dan saya berupaya lebih fokus menimbang aspek-aspek yang membuat suatu karya fiksi menjadi lengkap: kemampuan berbahasa, strategi plot, struktur penceritaan, penokohan, konflik, sampai pilihan tema dan isu yang diangkat.
Dari 20 besar naskah yang dipilih masing-masing juri, ada sejumlah naskah yang sama. Mekanismenya: naskah-naskah yang sama tersebut (artinya yang dinominasikan oleh ketiga juri) otomatis menjadi kandidat pemenang utama. Dalam hal ini, ada 6 (enam) naskah:
Naskah “Akuarium”. Tema kerusakan lingkungan (dalam hal ini: laut) yang digarap dengan cara yang jauh dari klise. Plot berselingan antara mimpi dan kenyataan membuka ruang tafsir yang lebih luas atas tema. Di dalam mimpi laut hitam-tercemar; di dalam kenyataan sebuah akuarium besar dibangun. Pada satu titik, untuk suatu harapan akan penyelamatan, mimpi dan kenyataan bersilang. Akan tetapi harapan tersebut jadi tampak utopis ketika apa-apa yang hendak diselamatkan di dalam kenyataan, tak bisa lagi diselamatkan, sekalipun di dalam mimpi.
Naskah “Persembahan untuk Paulus”. Suatu cerita tentang racun maskulinitas dalam keluarga. Disusun secara efektif dengan plot yang memperkuat motif karakter; yang satu berupaya mempertahankan maskulinitas (palsu)-nya, yang satu lagi meletuskan maskulinitasnya setelah sekian lama ditimbun paksa. Secara esensial, cerita ini mengingatkan saya pada film The Power of the Dog (Jane Campion, 2021).
Naskah “Cerobong Merlot”. Ini termasuk naskah yang menggunakan latar manca negara. Suatu momen dalam perjalanan beberapa peneliti di Siberia. Ini juga termasuk naskah yang tampaknya tak bertumpu pada tema, bahkan tak bertumpu pada cerita, melainkan pada adegan-adegan. Ada tertangkap kesan bahwa cerita dalam naskah ini merupakan fragmen dari cerita yang lebih luas, sejumlah informasi disamarkan sebagai “inside-conversation”, sehingga berkesan minimalis. Akan tetapi, citraan-citraan yang dihadirkan begitu hidup sehingga merangsang indera.
Naskah “Apa-apa yang Tersisa Setelah Jakarta Tenggelam dan Garis Pantai Berpindah ke Cinere”. Distopia pasca-bencana. Menarik, sebab, apabila umumnya bayangan tentang masa depan adalah kehidupan dalam kuasa teknologi, di naskah ini masa depan digambarkan terbentuk oleh bencana alam, dan manusia kembali ke dalam peradaban purba.
Naskah “Gurauan Para Pembisik”. Naskah ini menghadirkan desas-desus sebagai penyebab tindakan tokoh, yang sekaligus menyebabkan hadirnya peristiwa. Pilihan profesi karakter, yang membangun latar tokoh, serta mengesankan wilayah domestik, berkait-kelindan dengan permasalahan yang melingkupi tokoh utama.
Naskah “Parang Jahanam Sulamin”. Kisah seorang pemburu harimau yang sudah pensiun, tapi oleh suatu situasi terpaksa harus kembali beraksi. Kisahan cukup menarik, sayang jembatan antar plot tampak goyah, dan tokoh-tokoh tak hadir secara seimbang, selain juga beberapa kekeliruan tata bahasa.
***
Selain keenam naskah di atas, ada sejumlah naskah lain yang menarik perhatian dan kemudian dinominasikan, setidaknya, oleh dua orang juri. Dari perspektif saya naskah-naskah tersebut, antara lain:
Naskah “Hikayat Halimun Alimunda”. Kisah anti-hero yang mendekonstruksi kesakralan. Narasinya bernas. Meski begitu beberapa partisi cerita tak cukup dikuatkan.
Naskah “Luwak Kepala Hitam”, sebuah contoh naskah dengan gaya realis yang bersih dan rapi. Latar serta konflik yang muncul dalam cerita terbilang spesifik. Relasi kuasa dalam nalar ekonomi-industri selalu menjadikan penghuni dasar piramid sebagai korban. Meski begitu, adegan-adegan suspens luput ditajamkan.
Naskah “Kursus Mengumpat”. Sarkastis. Di beberapa bagian agak berlebihan. Kecuali kemungkinan imajinatif serta perasaan jengah yang dimunculkan, sugesti kemarahan dan keputusasaan kurang berhasil digarap lantaran sibuk dengan gambaran perihal teknik mengumpat.
Naskah “Di Tepi Malam”. Kisah tentang sepasang bocah dengan persoalan keluarga masing-masing. Karakter-karakternya dibangun dengan baik serta dibuat kontras untuk menghasilkan tingkat ketajaman tertentu.
Naskah “Hikayat Rungkad dan Langit Edvard Munch”. Ganjil, seganjil gaya narasinya. Menunjukkan peran bahasa yang bukan sekadar pengantar cerita.
Naskah “Karakter-karakter yang Dibunuh Naratornya”. Satir, lucu, dan cuek. Sayangnya terkesan sesak karena terlalu banyak karakter.
***
Pengalaman membaca ratusan naskah dalam sayembara ini, selain memberi saya pemandangan di sekitar topik-topik percintaan yang masih jadi pilihan banyak penulis, juga memberi saya suatu pemandangan lain, bahwa naskah-naskah dalam sayembara ini banyak yang tak hendak menjauhkan diri dari isu-isu populis, seakan-akan teks fiksi selalu ingin melibatkan diri dalam isu-isu tersebut. Selain itu, terlintas pula, berkali-kali, suatu kesan bahwa banyak naskah dalam sayembara ini yang tampaknya ditulis dengan bayangan akan adegan film. Seakan-akan naskah-naskah itu ditulis sembari dibayangkan sebagai adegan di dalam film.
Pemandangan-pemandangan dan kesan seperti itu seperti menandakan adanya tekanan ilmu sosial/budaya (melalui isu populis) dan kebudayaan massa (melalui film) dalam teks fiksi yang diproduksi belakangan ini.
Meski begitu, selalu terasa menyenangkan setiap kali ada naskah yang menarik, yang sanggup memberi dan memperkaya pengalaman artistik saya. Apalagi jika naskah seperti itu saya temukan di antara naskah yang ditulis di bawah tekanan-tekanan yang saya sebut di atas, juga di tengah tumpukan kisah cinta yang tiada habis-habisnya. Hopla!
Kiki Sulistyo
Sepanjang membaca ratusan naskah lomba menulis Tulis.me, saya menemukan berbagai jenis karya dengan kecenderungan tertentu. Hal ini sudah tertandai sejak pembukaan cerpen. Kebanyakan karya-karya peserta lomba dibuka dengan perkenalan diri menyebutkan nama tokoh, umur, jenis kelamin, latar belakang keluarga, hobi, nama saudara serta sahabatnya, dan segala macam. Tokoh-tokoh mereka rata-rata dibangunkan oleh ‘jam weker’ dan ‘kokok ayam’, seolah ingin memberitahu bahwa semua masalah atau konflik yang akan terjadi selalu dimulai di pagi hari. Setting rumah dan sekolah mewarnai juga sebagian besar cerpen-cerpen peserta. Masalah keseharian, keluarga, romansa, hingga topik yang membidik ke isu-isu lingkungan, politik, gender, kemiskinan, mitos, lokalitas dengan berbagai wadah genre realis, surealis, absurd, fantasi, dongeng, fiksi sejarah, fiksi ilmiah.
Di tengah tawaran beragam topik dan genre itu, masih banyak yang penggarapannya luput dalam hal teknis dasar seperti tata kalimat dan tanda baca yang benar. Di sisi lain, ada banyak juga narasi-narasi yang rapi namun diliputi penyelesaian cerita yang terburu-buru, cenderung klise, pembangunan karakter yang tidak kokoh serta kurang memiliki keterhubungan dengan konteks tertentu. Sebagai juri, dalam proses pembacaan saya tak menyerah memburu naskah-naskah lain yang bisa memenuhi kriteria. Proses ini seperti mengarungi belantara hutan hingga tibalah saya pada naskah-naskah unggulan. Naskah-naskah unggulan ini bisa dibilang memenuhi kriteria cerpen yang lengkap. Baik dari segi teknis dasar yang sudah beres maupun gaya penceritaan yang menarik dan menawarkan sudut pandang berbeda.
Melalui rapat juri, keputusan tiba pada dua puluh besar naskah unggulan. Para juri memiliki penilaian yang kurang lebih sama terhadap dua puluh naskah ini sehingga bisa dikatakan layak dibukukan dalam antologi. Adapun tiga besar naskah yaitu cerpen berjudul Akuarium, kedua Persembahan untuk Paulus, dan ketiga Cerobong Merlot. Masing-masing dengan keunggulannya yang mampu memikat juri.
Akuarium menggunakan teknik penceritaan yang rapi dengan pembagian sama rata antara dunia mimpi dan dunia kenyataan. Isu lingkungan seputar pencemaran laut dibawa melalui mata seorang anak tanpa ada tendensi didaktis atau orasi perihal isu yang cukup populer itu. Keasyikan bolak-balik antara dunia mimpi dan dunia nyata menghadirkan nuansa sureal, dialog-dialog yang mengambang, dengan sentuhan unik di sana-sini yang cukup menangkap perhatian pembaca.
Persembahan untuk Paulus adalah cerpen yang begitu padat dengan jalinan cerita. Baik masa lalu dan masa kini para tokohnya berbaur tanpa sekat, juga topik-topik yang disertakan seputar dampak pola asuh orangtua, toksik maskuliniti, warisan, gender, semuanya berpadu dalam ikatan cerita yang kokoh. Di tengahnya diisi oleh luapan emosi dan riuh pikiran tokoh yang membuat nada penceritaan begitu intens.
Cerobong Merlot sepanjang penceritaannya mendatangkan nuansa yang ganjil dan diselimuti misteri dari awal hingga akhir. Apa yang sebenarnya terjadi di antara tokoh-tokohnya bahkan tak terungkap hingga cerita ditutup. Deskripsinya dipenuhi pengalaman indrawi yang berlangsung bertahap-tahap. Suasana tempat maupun karakter tokohnya dibangun dengan baik. Cerpen ini seperti bagian dari sebuah cerita yang lebih besar. Meski tak menemukan inti cerita, namun gaya kisahan yang diusung cerpen ini sanggup mengantar pembaca sampai ke bagian penutup. Saya jadi merasa penasaran dengan kelanjutannya. Sepertinya akan sangat menarik bila membaca versi yang lebih panjang dari cerpen ini.
Akhirnya saya ucapkan selamat bagi para pemenang dan peserta yang naskahnya masuk unggulan. Semoga setelah mengikuti lomba ini bisa semangat terus menulis karya-karya baru. Menulis seperti jalan panjang yang kemahiran melalui jalan itu akan teruji seiring waktu. Jadi semoga tak berhenti sampai di sini. Bagi para peserta yang naskahnya belum terpilih semoga tidak terlalu berkecil hati. Lomba menulis hanya salah satu jalan untuk menguji kualitas karya kita. Jalan-jalan lain masih terbentang cukup lebar selama kita masih terus konsisten menulis dan meningkatkan kemampuan kita dalam menulis. Dimulai dengan banyak membaca lagi. Sebab membaca bagaikan menyediakan tinta untuk kita melahirkan karya-karya yang lebih baik. Membaca karya-karya yang baik, melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar, selalu bersikap awas demi bisa menangkap bahan-bahan yang bisa diolah ke dalam tulisan, lapang dada menerima kritik dan saran, dan tentu saja tetap fokus dengan tujuan.
Salam.
Iin Farliani
Dalam segi Bahasa, para penulis masih mengabaikan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) seperti penggunaan huruf kapital pada awal kalimat, penggunaan tanda baca yang tidak sesuai seperti titik, koma, petik, dan sebagainya. Penulis mesti mencermati kembali bagaimana EBI yang baik dan benar. Sementara itu, dalam segi eksplorasi penggunaan bahasa, banyak penulis yang berani melakukan eksperimen dengan mencantumkan istilah-istilah yang masih jarang terdengar. Sebagian berhasil menyusun kalimat yang indah, sebagian lagi cenderung agak berlebihan dan justru mengikis makna dan keindahan bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk mempelajari juga penggunaan istilah-istilah maupun kata-kata baru dengan menyesuaikan konteks yang ada. Misalnya saja dalam menggunakan kata tirta, netra, dan jumantara. Alih-alih fokus memamerkan pengetahuan bahasa dan sebanyak apa diksi yang diketahui, ada baiknya penulis juga turut mengeksplorasi gaya penceritaan yang runtut dan tidak bertela-tele.
Secara keseluruhan, penulis telah berani melakukan eksplorasi ide-ide cerita meski masih banyak didominasi dengan cerita cinta remaja maupun cerpen-cerpen bernuansa islami yang hanya merepetisi panduan-panduan agama serta cenderung menggurui. Banyak cerpen-cerpen fantasi yang sebenarnya potensial tetapi sayangnya penulis masih menjadikan referensi barat dalam mengeksekusi tulisannya. Ada banyak sekali sebenarnya kearifan lokal yang bisa diangkat dalam cerita-cerita fantasi tanpa harus meniru cerita-cerita Barat. Beberapa cerpen telah mengadopsi lokalitas dan berhasil menerjemahkannya secara kontekstual. Menjadikan Barat sebagai referensi tentu bukan jadi masalah besar. Namun perlu digarisbawahi bahwa banyak cerita fantasi yang merujuk referensi barat tanpa melakukan riset sehingga justru banyak plothole dalam cerpen tersebut.
Sebagian besar cerpen religi terlalu fokus untuk memberikan ceramah dan petuah sehingga justru menghilangkan esensi penting dari cerita itu sendiri, yakni bercerita. Ada baiknya penulis fokus dalam mengeksekusi proses cerita dari awalan hingga akhir alih-alih menitikberatkan pada “pesan moral” yang ingin disampaikan. Ide-ide cerita cinta remaja juga perlu eksplorasi lebih mendalam. Misalnya saja dengan menajamkan kompleksitas isu yang dihadapi anak-anak remaja saat ini.
Salah satu keunggulan dari karya-karya para penulis pada kompetisi kali ini adalah banyaknya penulis yang berhasil mengemas isu-isu lokal beserta kearifannya dengan baik tanpa berusaha meromantisasi. Bagaimana penulis menuturkan kisahnya dengan baik sehingga dapat memberikan gambaran jelas tentang situasi serta penggunaan bahasa lokal yang disertakan dilakukan dengan pas.
Banyak penulis yang juga sudah berani menampilkan latar di luar Indonesia seperti Jepang dan Prancis. Akan tetapi, dalam mengeksplorasi latar luar negeri, penulis masih terlalu fokus meromantis suasana latar alih-alih mencoba menunjukkan sisi human interest yang juga tak kalah penting. Namun demikian, karya-karya penulis telah menunjukkan bahwa banyak penulis baru yang sangat potensial mengisi khazanah sastra Indonesia. Antusiasme ini tentu harus dipupuk agar penulis terus belajar dengan terus membaca dan menulis.
Lamia Putri Damayanti
Fasilitas Lomba
Kepada seluruh peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 15 April 2023. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Kelas Menulis Daring akan diinformasikan waktu pelaksanaannya melalui story dan higlihght IG @tulis.me. Harap selalu memantaunya ya!
Pengumuman Pemenang
Berikut daftar peringkat 200 besar Lomba Menulis Cerpen ke-15 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan cerpen terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama. Karya pemenang dapat dibaca dalam e-book antologi lomba ke-15. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
| Peringkat | Judul Cerpen | Penulis |
| 1 | Akuarium | Iona Stella |
| 2 | Persembahan untuk Paulus | Petrus Nandi |
| 3 | Cerobong Merlot | Axella Hartono |
| 4 | Apa-Apa yang Tersisa Setelah Jakarta Tenggelam dan Garis Pantai Berpindah ke Cinere | Faris Al Furqon |
| 5 | Gurauan Para Pembisik | Yanto Purwanto |
| 6 | Parang Jahanam Sulamin | Budi Saputra |
| 7 | Hikayat Halimun Alimunda | Muhammad Daffa |
| 8 | Luwak Kepala Hitam | Tjak S Parlan |
| 9 | Kursus Mengumpat | Aliurridha |
| 10 | Di Tepi Malam | Rima Cahaya Febrina |
| 11 | Hikayat Rungkad dan Langit Edvard Munch | Albyan Azhar Abdillah |
| 12 | Aku Melihat Mas Bagas | R. A. Kharisma |
| 13 | Bapakku Tuli | Santi Setya Jayaningsih |
| 14 | Kali dan Pusa Angen | Juniaro |
| 15 | Kuburan Kucing | Puitika Aisyah Aini |
| 16 | Karakter-Karakter yang Dibunuh Naratornya | Dewanto Amin Sadono |
| 17 | Seorang Lelaki yang Kupanggil Kamal | Rayhan Aulia Prakoso |
| 18 | Belatung | Frisko Samudra Novarista Permata Martiyan |
| 19 | Sialan, Kau, Bastet, Aku Ini Menyayangimu | Yuri S. Ostrovsky |
| 20 | Wanita Pembeli Keranda | Yudha Pradina |
| 21 | Tangis Bayi yang Disamarkan Peluit | Windy Marthinda Windari |
| 22 | Dialog dengan Asmara | Tiar Inas Shabrina |
| 23 | Seminaris, Vesper, dan Perempuan Berambut Jerami | Mas Gamblang |
| 24 | Sepasang Kucing di Kampung Parfum | Haryas Subyantara Wicaksana |
| 25 | Keberuntungan Satu Daun Semanggi | Resti Tri Ayu Lestari |
| 26 | PITON | Ari Basuki |
| 27 | Pulang | Nura Ningsih |
| 28 | Saksi Mata | Rikard Diku |
| 29 | Kelebatan Kematian di Mata Sang Kiai | Johanes Arya Amandu |
| 30 | Pelarian Biru Gelap | Blue |
| 31 | Sisa-Sisa Asa | Ricardo Marbun |
| 32 | The Great of Wolfeart’s Shoes | Zuria Benesh |
| 33 | Saya Guru Matematika | Joni Sadarlah Halawa |
| 34 | Cuppang | Muhammad Zulkifli |
| 35 | Angin Beranda dan Monyet Malang | Jospram |
| 36 | Ampong dan Mutiara Huma Betang | Karno |
| 37 | Barang Peninggalan Bapak | Dhimas Bima Shofyanto |
| 38 | Balada Cinta Amangkurat | Ade Mulyono |
| 39 | Gema | Mey Thaniuss |
| 40 | Biru | Amelia Indraswari |
| 41 | Lamunan Seorang Tukang Becak | Nicko Kharisma Gunawan |
| 42 | Clairvoyance | Ari Basuki |
| 43 | Benang Waktu | Jessica Tisha Immanuel |
| 44 | Manusia, Bumi dan Angkasa | Kayla Ramadhani Darussalam |
| 45 | Dilema Suhita | Jenny Seputro |
| 46 | Bung Presiden | Desmira Feri Susanti |
| 47 | Imam dari Mombasa | Nico Pratama Ramadhan |
| 48 | Pertunjukan Teater Berdarah | Azka Sora Aprillia |
| 49 | Kyai Yunus dan Biruh Deun Favoritnya | Rayhan Aulia Prakoso |
| 50 | Suatu Malam di Kediaman Keluarga Park | Zahra Nafisa Abidah |
| 51 | Di Balik Bilik 218 | Ventino Alexsandra |
| 52 | Kakus dan Lilitan Kain Batik | Nandita Malahati Shabrina |
| 53 | Awan Hitam | Madd Hazen |
| 54 | Setengah Mil | Bayu Pratama |
| 55 | Orang-orang yang Memilih Api di Tangan Murad | Mustofa |
| 56 | Upacara di Tengah Hutan | A. Warits Rovi |
| 57 | Tukang Sampah dan Anjing-anjing Gila | Amelia Indraswari |
| 58 | Tikus dalam Saung | Tuti Rusnawati |
| 59 | Suara-Suara dari Timur | Afifah Nada Putri Ramadhani |
| 60 | Ikan Larangan | Budi Saputra |
| 61 | *#06# | Miclyra Ersha |
| 62 | Tuhan tak Pernah Merestui Pembunuhan | Wahyu Setiaji |
| 63 | Bingar Tanpa Suara | Miranti Rahmani |
| 64 | Warung Telepon Tengah Malam | Fidella Athalia |
| 65 | Mimpi Obituari | Iona Stella |
| 66 | Tertangkapnya Psikopat Negara | Neng Nur Fitriyani Solehah |
| 67 | Nyi Surni | Ane Putri Marciesyah |
| 68 | Ode Bunga Desember | Mashdar Zainal |
| 69 | Tokyo Tidak Melantun Bohong | Khalisah Oktavia |
| 70 | So Long, Mr. Mailman | Bulu Biru |
| 71 | Dosa Besar Ratu Shareva | Dosa Besar Ratu Shareeva |
| 72 | The Last One | S. Herianto |
| 73 | Orang Mardika dan Mitos Para Peri | Sarita Rahel Diang Kameluh |
| 74 | Kenangan Surga dan Lau | Jessica Tisha Immanuel |
| 75 | Jurnal Keselamatan Sang Hantu | Rania Alma Adiva |
| 76 | Pembunuh yang Tiada | Nur Azizi Juliansyah |
| 77 | Time Out | Rania Puspita Ardyanti |
| 78 | Aku Bersama Koper Berisi Mayat Emi Salide | Rahmad Alam |
| 79 | Jangan Menikahiku karena Cinta, Drun | Farah Illiyana |
| 80 | Tren Wajah | Denny Lumban Gaol, S.Pd. |
| 81 | Kesetiaan Seekor Anjing | Juliana |
| 82 | Yume: Hanabi | Aldy Senathan |
| 83 | Tik | Cdalf |
| 84 | Pelukis di Rumah Tua | Abhati |
| 85 | Beranilah Ondae | Jean Rivaldo Mansa |
| 86 | Peluit | Fernanda Kristian Vidia Putra |
| 87 | Kronik yang Hilang | Jospram |
| 88 | Surat-Surat dari Melbourne | Umi Maslikah |
| 89 | Mahakarya Terakhir | Adnan Fadhil |
| 90 | The Bright Side | Meryllia Sasikirana Dharma |
| 91 | Si Anak Laut | Slamet |
| 92 | Desa Lembah Gunung | Samudra Kaeng |
| 93 | White Daisy | Putri Anggia Pramuditha |
| 94 | Rejected The Happiness Drugs | Charajia Synoir |
| 95 | Monolog | Zabrina Mahardika Putri |
| 96 | Lukrative, Kemanusiaan Versus Kapitalisme | Aisyah Rahmania Novrianti |
| 97 | Wasiat Lelaki Paruh Baya yang Selalu Bertelanjang Dada | Sahbuddin Dg. Palabbi |
| 98 | Ketika Cahaya Lampu Rumah Padam | Nadhia SK Muhinda Putri |
| 99 | Second Chance | Cinta Anindya Aulia |
| 100 | Keliru | Poppy Cynthia Devi |
| 101 | Kenangan Fana | Aida Farhani Raiyatunnisa Aleyandra |
| 102 | Nyawa Sepuluh Hari | Rediva Novalisty |
| 103 | Surga Dunia | Ni Putu Sucita Ratih Cahyani WP |
| 104 | Terbenam | Kenny Keitaro Budiman |
| 105 | Fitnah | Muzakki Bashori |
| 106 | Tipuan Fatamorgana | Cucank |
| 107 | Fenomena | Ayle Haf |
| 108 | Orang-orang Sekampung | Hendrikus Balsano Bani |
| 109 | Cucu Kesepuluh Kakek | Fatah Hidayatullah |
| 110 | Tempat Pertama | Adriansyah Kusuma Wardani |
| 111 | Tiga Gadis dan Karya Seni | Dhea Febrian |
| 112 | Prasangka | YeongYoon |
| 113 | Album Cokelat Itu | Anisa Nurwidia Akbari |
| 114 | Tak Semua Langit Malam Gelap Kelam | Seta Rali Taslima |
| 115 | Suatu Hari di Dalam Bilik | Wulan Riyadiyanti |
| 116 | The Real Lie Detector | Tia Dianingratri |
| 117 | Balada di Balik Semangkok Ronde | Muhammad Aidul Bakri |
| 118 | Puppeteer of Hate | Kurenai Mikazuki |
| 119 | Anjing Tuan Markoez | Wahoo ray |
| 120 | Daisies | Nayla Fitria Ramadhani |
| 121 | Re-Inka | Vashti Trisawati |
| 122 | Ketika Ayah Menangis | Yelloween |
| 123 | Anna | Alika Syabina Putri |
| 124 | Hantu | Fedora Lay |
| 125 | Sang Penguasa Durjana | Linda Ulfianah |
| 126 | Theodora Bafoe dan Hadiah Pemberian Ibu | Mas Gamblang |
| 127 | Aku, Robot Aneh, dan Masa Lalu | Alliya Sonya Azarena |
| 128 | Serpihan Memori | Fransiska MD |
| 129 | Arloji Mana yang Perlu Kuperbaiki | Saban Maya |
| 130 | Tears and Memories | Hafsa Ashalina |
| 131 | Elips Berdiameter 144 Tahun | Naia Haura Shadiqah |
| 132 | Mengubur Bidadari Pulau Gapi | WDGafoer |
| 133 | Backside | Geshifah |
| 134 | The Company’s Secret Agenda | Sahda Farras Althafunnisa |
| 135 | Buana Amerta | Fidelia Priell Olympia Widjaya |
| 136 | Pertemuan Tak Terduga | Epafras Gondang Pasaribu |
| 137 | Gagak yang Terkutuk | Chocomochinon |
| 138 | Ahli Benang Kusut | Gia |
| 139 | Sepenggal Kisah Myrta | Diah Mitawati |
| 140 | Siapa Ya Namanya? | Hiro Ohiro |
| 141 | Hujan Enggan Usai | Tsabina Dewi Faradhilah |
| 142 | The Last Three Days | Gnauvville |
| 143 | Gabe, Si Pencari Peri Kecil | Wibiana Hayuningtyas |
| 144 | Ranting Ajaib | M. Khamim Ma’ruf |
| 145 | Belladonna | Dita Ekawati |
| 146 | Alienate | Bayu Setiawan |
| 147 | Bertemu Kembali | Puspahua |
| 148 | Purnama Cahaya Kencana | Aloysius Limbon Narang |
| 149 | Cold Mechanic | Nurul Hasanah |
| 150 | Hati Kaca | Renren |
| 151 | 244: Fatamorgana | Azka Dayana Batrisya |
| 152 | Akhir Kita | Michelle Alexandra Samosir |
| 153 | Mak! Ikannya Dibalik! | Wulan Andiani |
| 154 | Aku, Kamu, dan Kisah yang Tidak Pernah Usai | Denny Lumban Gaol, S.Pd. |
| 155 | Agen Super | Visval |
| 156 | Pohon Musim Dingin | Shofi Syahada Ramadhani |
| 157 | Hadiah Pernikahan untuk Zeus dan Hera | Arami Kasih |
| 158 | Pesawat Biru | Tsabina Dewi Faradhilah |
| 159 | Aphrodite dan Sandiwara Eos di Paris | Soleiliona |
| 160 | Sejumput Keadilan untuk Alesha | Depp |
| 161 | Tangisan Misterius | Joanawidelia |
| 162 | Bising | Billy Yapananda Samudra |
| 163 | Pemimpin Negeri Zavard | Relis Villa Salsabila |
| 164 | Perkamen dari Amplop Hitam | Aldi Rahmadiansyah |
| 165 | Kungkung | Kenny Keitaro Budiman |
| 166 | Ilusi dan Kebebasan | I Gusti Ngurah Rizky Wicaksana |
| 167 | Kambuh | Sao Yufi |
| 168 | Rahasia Catacea | Anka Sekar Haryono |
| 169 | Hanya… Apa | Rise W. Shifa |
| 170 | Hasrat Kebebasan | Ringgo Syamdoval |
| 171 | Tarian Air Hujan | Purpleace |
| 172 | Imajinasi | Karisha Rifda Naila |
| 173 | Catatan Penyihir Atraksal | Loveisa Sudjito |
| 174 | Bulan, Bintang, dan Kontes Pencurian Kebahagiaan | Desya Elma Nizami |
| 175 | Teman di Belakangku | Injilina |
| 176 | Harapan Sang Bintang | Humaira Azmi Sulthony |
| 177 | The Forgotten | I Kadek Rizki Riswana |
| 178 | Cerita Pukul Dua Pagi | Na’ila Zahirah Herawan |
| 179 | “Siapa Pelakunya?” | Ahmad Dwi Rifani |
| 180 | Jejak Cincin Sang Penguasa | Galuh Mardina Fajar Rani |
| 181 | Abbe untuk Samira | Dasya Aurellia |
| 182 | Senja Kelabu | Muhammad Imaduddin Habiburrahman |
| 183 | Amukan Singa Mataram | Hikaru |
| 184 | Sesal | Daisy |
| 185 | Operasi Lalat Besi | Vortiger Bladeheart |
| 186 | Sirkus Keajaiban | Nadira Puti Ardelia |
| 187 | Hati Mendadak Mendidih | Muhammad Fikri Haikal Saragih |
| 188 | Surup | Dewi Aprilliyani |
| 189 | Aska dan Hantu Lantai 3 | Ayusita Naura A. |
| 190 | Teka-Teki Terakhir | Bima M |
| 191 | Benebabe | Rifaatul Fadilah |
| 192 | Jalan Pulang | Denis Daniswara |
| 193 | The Story Behind | Asri Nur Lestari |
| 194 | Keinginan Gus Azmi | Muhammad Miqdadul Anam |
| 195 | Pena Ajaib | Vallerie Leonora |
| 196 | Barangkali Nanti atau Beberapa Tahun Lagi | Felisitas Dhwani Wihangga |
| 197 | Senja dan Kisahnya | Thalia |
| 198 | Sepotong Rindu untuk Ayah | Yunis Kristana |
| 199 | Misteri Mayat di Gudang Sekolah | Ni Putu Hira Satwika Istarasmi |
| 200 | Celurit Emas Warisan Ayah | Shin Gaara |
Catatan: Tabel di atas ialah tabel peringkat 200 besar, bukan tabel nama semua peserta.
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Siap Jadi Pemenang Selanjutnya?






Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: GPI Jalan Bougenville II, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
