Catatan Juri
Hanya ada kurang dari 2% puisi cukup berbobot dari seluruh naskah yang masuk ke folder panitia. Sisanya adalah puisi-puisi dengan mutu “di bawah garis kemiskinan”. Situasi ini sepertinya banyak dipengaruhi oleh tidak bertumbuhnya wawasan penulisnya tentang perkembangan puisi. Dengan demikian, faktor utama kejumudan tersebut bersumber dari pertanyaan: Seberapa rajin seorang penyair membaca dan mengikuti perkembangan, paling tidak, puisi Indonesia?
Akhirnya, puisi-puisi peserta jatuh menjadi kamar curhat untuk menumpahkan persoalan pribadi, panggung gugat atas kondisi sosial, dan mihrab doa bagi yang ingin menggapai asa. Tentu tak ada masalah dengan konten puisi semacam itu. Persoalannya, puisi-puisi tersebut tidak disulam dengan kreativitas memadai. Keadaan ini meringankan kerja juri, tapi berat bagi kesuburan penyair-penyair berkualitas tinggi.
Di antara yang bermutu lumayan, tak sedikit puisi memotret ulang sejarah, epos, dan legenda. Seringkali puisi-puisi intertekstual ini ditulis rada panjang, tapi ngos-ngosan. Juga minim ekplorasi tafsir atas narasi yang sudah tersedia itu, entah sekadar menjadikannya puisi parodi, sajak karikatur, atau bahkan mendistorsinya sehingga membuahkan inovasi pemaknaan.
Kami memutuskan “Kado untuk Jelita” sebagai Juara Harapan III. Di antara berjubelnya puisi “rindu”, karya Andiny Nurulsyifa tersebut lolos dari jebakan klise yang kerap menghantui sajak-sajak bertema serupa. Puisi “kangen” ini dirangkai dengan kata-kata bersahaja, tapi di beberapa bagian kita menjumpai kejutan-kejutan ungkapan. Sayang, puisi ini kurang disunting dengan saksama sehingga di sejumlah bagian yang lain kita juga diganggu oleh kesalahan ejaan.
Posisi Juara Harapan II berhasil diduduki karya Yohan Fikri Mu’tashim. Membaca “Nafsu Nafas Kelima”, kita berhadapan dengan sebuah puisi yang bersolek. Kisahnya mengangkat tragedi asmara berlatar konflik politik rezim Amangkurat di negara Mataram Islam. Yohan sukses memberi bobot emosi dengan nuansa megah pada cerita cinta yang disinggung Babad Tanah Jawa itu. Namun, puisi ini tak berhasil menyamarkan sidik jari para penyair pendahulu sehingga autentisitasnya redup. Andai pengaruh penyair-penyair tersebut dikelola dengan kreatif, “Nafsu Nafas Kelima” berpotensi menjadi puisi elegan.
Adapun “Di Ranjang Ini” kami tempatkan sebagai Juara Harapan I. Ditulis dengan rapi dan tak membiarkan ada cacat bahasa, puisi Dzikron Rachmadi merupakan personifikasi dari reaksi kimia antara api dan gaharu di atas sebuah mabkhara. “Di Ranjang Ini” memiliki warna serupa dengan “Nafsu Nafas Kelima”, tetapi digarap dengan aksi bahasa tak berlebihan sehingga terasa pas dan cenderung aman. Namun, kesederhanaan ini jugalah yang membuat puisi ini hampir hambar. Penyairnya terkesan kurang gigih bergulat dengan majas sehingga tamsil-tamsil yang dihadirkan tampak semenjana.
Sementara itu, sejumlah kelemahan juga tak luput dihindari “Kalvari yang Perkasa” yang kami tetapkan sebagai Juara III, seperti pemborosan elemen-elemen linguistik (terutama pada aspek morfologis, fonologis, dan sintaksis) serta kualitas bait yang cenderung naik-turun. Puisi ini mengeksplorasi situasi psikis sosok antagonis yang menjadi muasal penyaliban Sang Juru Selamat: Yudas Iskariot. Di wilayah peristiwa traumatis inilah puisi tersebut beroperasi hingga masuk ke dalam problem teologis. Untungnya, penyair tidak kehabisan potongan-potongan momen yang mampu menjembatani pembuka dan koda sehingga puisi hadir dengan keutuhan yang tetap terjaga.
Ketimbang naskah peserta kebanyakan, “Celiana” yang menyabet Juara II mengambil jalan lain. Karya Muhammad Ridwan Tri Wibowo ini memajankan cerita sureal. Puisi tersebut nyaris tidak bermain-main dengan bahasa figuratif. Tapi puisi ini menghadirkan kejutan melalui kejadian-kejadian absurd dan gaduh yang menggerakkan peristiwa. Lalu situasi ingar dan absurd itu mendadak lirih dan metaforis di bagian akhir. Alih-alih timpang, dua babak kontras tersebut bersisian dengan harmonis dan saling menggenapi.
Akhirnya, “Menggugat Geliat Tubuh” kami angkat sebagai Juara I. Karya Saefudin Muhammad ini mengartikulasikan ulang legenda Tangkuban Perahu dalam puisi liris yang berfokus pada sudut pandang Sangkuriang. Penyair berhasil memampatkan mitologi Sunda tersebut dengan bahasa yang hemat dan jernih. Kadar isi dan bentuk ditakar dengan proporsional. Pada segi penggarapan cerita, puisi ini menempatkan putra si Tumang dalam situasi problematis yang membenturkan cinta dan tabu. Sedangkan pada aspek komposisi, sajak tersebut berupaya mengaktifkan komponen-komponen puitik dengan optimum: Permainan frasa, persamaan bunyi, dan atraksi kalimat dilanggamkan melalui gaya yang memesona. Dengan seluruh ikhtiar itu, “Menggugat Geliat Tubuh” sukses menjadi puisi yang indah dalam kecukupannya.
Royyan Julian
“Puisi bukan sekadar kata-kata”, kalimat itu sering tak sengaja saya gumamkan tiap kali selesai membaca beberapa naskah Lomba Menulis Puisi Tulis Me. Gumaman yang begitu saja meluncur seolah menjadi pantulan pembacaan atas ratusan naskah puisi [meski tak semuanya bisa dikatakan sebagai “puisi” dalam kriteria tertentu] yang diikutkan dalam Lomba Menulis ke 16 Tulis Me kali ini. Tentu puisi bukan sekadar kata-kata. Namun pada kenyataannya masih banyak yang menganggap puisi cuma semburan kata-kata yang dipoles dengan pemenggalan tak terukur, semata agar bentuknya tampil sebagai bait-bait. Bisa dikatakan hampir keseluruhan naskah yang diikutkan pada lomba kali ini menganggap puisi adalah wadah kata-kata yang tak melewati penyaringan, tak berdiri dalam perangkat-perangkat puitika seperti pilihan diksi; citraan; metafora; fungsi rima; fungsi repetisi; aspek komunikasi; sudut pandang atas tema; ruang semantik. Sebab tak memperhatikan dengan cermat kepengerajinan berbahasa, keluasan imajinasi, dan perspektif khusus atas suatu tema maka yang menumpuk di meja juri kebanyakan adalah naskah-naskah yang remuk, cacat, yang sekujur tubuh teksnya menyiksa saraf tiap kali dilakukan pembacaan terhadapnya.
Hanya segelintir saja yang berhasil sebagai “puisi”. Puisi-puisi yang berhasil pada lomba ini adalah puisi-puisi yang berhasil menghindar dari sengkarut klise. Tentu saja bagi yang melihat puisi sekadar kata-kata maka ia terjebak dan berpusar-pusar dalam lubang klise yang sudah dapat ditandai sejak dari pemilihan judul maupun larik pertama. Bila ditilik dari segi topik, dapat dipetakan kecenderungan-kecenderungan yang paling terlihat ialah:
Pertama, naskah yang membicarakan cinta, rindu, kekasih. Jumlah naskah jenis ini sangat melimpah ruah. Bila sudah menyertakan kata cinta, rindu, dan kekasih maka yang dominan muncul adalah aku-lirik yang merana, yang suka sekali meratap diri dan meminta-minta airmata pembaca. Seolah dunia hampir kiamat dan yang tersisa hanyalah sedu sedan. Tak ada kesungguhan dalam memilih diksi, apalagi mengolah pengalaman cinta dalam kerangka yang personal. Padahal setiap orang merasakan luka maupun sukacita yang berbeda-beda dalam pengalaman romansanya. Namun mengapa ketika dituangkan ke dalam tulisan hasilnya tak jauh dari ungkapan-ungkapan yang seragam dan mudah tertebak arahnya? Barangkali memang benar ucapan salah seorang penyair bahwa yang bisa menulis puisi cinta dengan baik adalah orang yang benar-benar patah hati dan benar-benar jatuh cinta. Bila tak sungguh-sungguh mengalami keduanya sudah dapat dipastikan hasilnya akan terjerumus ke dalam kubangan lumpur. Barangkali karena alasan itu pula kita sering dinasihati untuk menghindari menulis puisi-puisi bertema cinta dan kekasih apabila kita baru mulai belajar menulis puisi.
Kedua, naskah yang membicarakan sosok entah itu sosok Ibu, Ayah, Guru, maupun tokoh-tokoh terkenal. Naskah jenis ini seringnya juga terwujud dalam penyajian yang seragam. Setiap orang memiliki Ibu dan Ayah yang berbeda-beda, dengan karakter personal yang berbeda-beda, dan membawa kesan yang sudah jelas akan berbeda. Namun naskah dengan topik ini juga tak jauh dari penyajian yang klise. Kelemahan naskah yang suka menuliskan tentang suatu “sosok” adalah betapa seragamnya gambaran sosok yang dihadirkan. Tak punya ciri khusus maupun suara personal.
Ketiga, naskah yang berisi kritik sosial, ketimpangan, dan protes. Naskah jenis ini seolah sudah menampakkan seringainya sejak larik pertama. Dengan tangan yang suka menuding, suara emosional, seakan adu cekcok dilibatkan di sana, sangat otoriter, tak menyisakan ruang untuk berdialog. Apa yang disuarakan lebih sering tinggal sebagai bentuk yang meniru wacana-wacana populis. Sangat mudah kita temukan berseliweran di media massa.
Keempat, naskah tentang alam. Entah mengapa para peserta begitu memfavoritkan senja dan hujan sebagai gambaran alam yang megah. Terutama senja. Ada apa dengan senja? Mengapa ia selalu diseret dalam laku khidmat perenungan akan alam yang lagi-lagi cuma berakhir pada tumpukan senja yang kelewat klise? Semata hadir sebagai pengibaratan dari gundah-gulana sang aku-lirik. Saking seringnya ditampilkan dalam bentuk yang klise, senja itu pun membusuk. Sama sekali tak seindah seperti yang diterakan lewat kacamata aku-lirik.
Kelima, naskah interteks. Sumber-sumbernya biasa berasal dari legenda, mitologi, epos, dan sejarah. Yang diambil masih cenderung kerangka besarnya. Tak jauh berbeda dengan puisi-puisi pendahulu yang memiliki perhatian serupa. Terjebak sekadar ingin berkisah tanpa menghadirkan pemaknaan lain. Ada juga yang terlalu terpaku pada bentuk, menyisakan bagian-bagian ekslusif yang seakan untuk menikmatinya pembaca perlu mengetahui konteks di belakang setiap larik sehingga pemaknaannya pun begitu kabur.
Keenam, naskah yang berisi pengalaman personal, cenderung remeh-temeh dari dunia yang banal dan tidak santun. Sebenarnya ini bahan yang bagus untuk diolah sebab perhatiannya bisa dalam bentuk menghadirkan ironi dari suatu yang remeh-temeh itu. Beberapa ada yang berhasil dan mengingatkan juri dengan puisi-puisi mbeling. Namun banyak juga yang cuma sekadar bergurau tanpa menghadirkan ironi maupun tensi apalagi pemaknaan yang dapat meluas.
Mencermati sekian kecenderungan tersebut, syukurlah ada beberapa naskah yang bisa dipinang meski jumlahnya sangat bisa dihitung dengan jari. Dengan mempertimbangkan variasi tema, komposisi, dan gaya ucap, maka ketiga juri sepakat menentukan 20 besar. Meski yang terpilih pun tak lantas lepas begitu saja dari kekurangan, namun pilihan 20 besar ini setidaknya mewakili kriteria yang disepakati oleh ketiga juri dalam Rapat Juri yang digelar bersama Tulis Me via zoom pada 11 Agustus lalu.
Sesudah melewati tahapan menjuri tingkat pertama di mana masing-masing juri memeriksa ratusan naskah, kemudian masing-masing memilih 100 besar lalu dipangkas lagi menjadi 80 besar hingga terkumpul 240 naskah. Masing-masing juri menetapkan 25 besar versinya. Kemudian di malam Rapat Juri masing-masing dari 25 versi pilihan juri dikomparasikan satu sama lain untuk dilihat mana judul-judul naskah yang dinominasikan oleh ketiga juri yang otomatis menjadi kandidat pemenang enam besar.
Penentuan enam besar ini tentu tak mudah sebab melewati tahap pembacaan ulang, didiskusikan berkali-kali, dan tak sekali-dua pula diperdebatkan. Tiba pada keputusan enam besar berikut terlampir judul dan ulasan singkat perihal puisi-puisi terpilih.
Naskah “Menggugat Geliat Tubuh”. Puisi ini mengambil legenda Sangkuriang sebagai isi yang disajikan dalam larik-larik ringkas, padat, pemenggalan yang pas, begitu dinamis dari awal hingga akhir, dengan ungkapan-ungkapan yang segar. Dibandingkan puisi-puisi yang menjadikan legenda maupun mitologi sebagai sumber penciptaan, naskah “Menggugat Geliat Tubuh” tampil dengan gaya ucap yang berbeda. Bait-bait yang masih tertinggal dalam benak paling menonjol bagi saya ada di dua bait terakhir: saat tunggul pohon itu/merakit dirinya sebagai perahu,/& kau hancurkan/dengan dosa-dosa cinta// serta bait ini: sebagaimana bumi pukul 4 pagi/yang kau khianati/menciptakan pusaran/kesedihan begitu deras//.
Naskah “Celiana”. Puisi ini terdiri dari dua panel di mana panel pertama bait pertama sudah sangat menggugah di pembacaan awal. Sejak larik: “Ibumu memasang seratus kembang api dalam kamarnya...”dan seterusnya pembaca disuguhkan berbagai imaji yang saling berkejaran. Dipertebal oleh fitur-fitur dari dunia populis yang saling bersanding menciptakan suasana yang saling tarik-menarik. Loncatan imaji yang menghamparkan pemandangan visual yang menarik.
Naskah “Kalvari yang Perkasa”. Puisi ini menafsir ulang kisah alkitab dengan daya ungkap yang segar. Ungkapan-ungkapan yang meluaskan imaji misalnya terdapat pada panel pertama bait keenam dan ketujuh: Gemerincing kepingan perak tak ubahnya desis ular/Bawah kursi, desis panjangnya lantang menantang/Pedang pasukan kerub dan serafim//. Bait ketujuh: Bibirnya hitam kelu mengunyah jelaga/Sewaktu ia mengira kematian akan/Berbagi berkat dengan jembar kuburnya/Tapi jubah putih tak pernah/Disulam untuk pengkhianat berlidah suci//. Pemilihan diksi maupun pengibaratan di dalamnya mengikat nuansa yang utuh. Selain itu puisi ini juga memperhatikan bentuk dengan membedakan jumlah bait dan panjang-pendek larik di setiap panel. Panel pertama narasi agak cair, panel kedua lebih padat, panel ketiga lebih ringkas lagi, lalu ditutup panel keempat yang hanya terdiri dari satu bait. Puisi ini adalah contoh yang baik bagi puisi-puisi yang menjadikan ‘teks mapan’ sebagai sumber penciptaan yang tak terjebak sekadar mengisahkan ulang belaka, namun turut menghadirkan semesta yang berbeda.
Naskah “Di Ranjang Ini”. Sebab tertulis ‘mabkhara’ di bawah judul maka timbul tafsir bahwa aku-lirik ialah sang kayu gaharu dan kekasihnya adalah api. Puisi yang rapi secara penyusunan dan pembagian bait. Meletupkan nuansa spiritual yang sering saya temukan di puisi-puisi penyair Madura. Penyairnya pandai membuat ungkapan-ungkapan yang menarik seperti pada bait berikut: tapi aku keharuman gaharu, yang terus kautabur/menuju langit seperti kautabur bunga pada selembar/kafan dalam ingatanmu, yang membungkus segala/sesuatu tentangku.tentangku!//
Naskah “Nafsu Nafas Kelima”. Puisi yang panjang dan sabar dalam berkisah. Namun sebenarnya variasi ini pun tak mengalami perluasan sebab masih tak jauh dari kisah cinta dengan pengibaratan yang itu-itu saja di mana posisi perempuan tak imbang dalam hubungannya dengan laki-laki. Gaya ucapnya masih sangat terpengaruh dengan puisi-puisi pendahulu sehingga kelemahan yang paling terlihat yakni kurang mampu mengolah keterpengaruhan tersebut. Meski begitu puisi ini cukup baik menggambarkan kisahan dari awal hingga akhir dengan mengupayakan ada dua suara berbeda di dalamnya.
Naskah “Kado untuk Jelita”. Setelah dibombardir oleh naskah-naskah bertema “Rindu” yang klisenya minta ampun, akhirnya bertemu puisi “Rindu” yang digarap dengan pendekatan yang berbeda. Gaya ungkapnya renyah. Memakai perbandingan yang sederhana dan lucu: “teh menjadi vanilla, pisang goreng berubah menjadi croissant, rumah yang dirasa tiba-tiba berpindah ke Prancis.” Bait ini menyiratkan orang yang dirindukan sedang berada di negeri yang sangat jauh dan aku-lirik menalikan diri dengan orang yang dirindukan tersebut melalui fitur-fitur yang berangkat dari “semesta tempat” di mana si orang yang dirindukan itu berada. Saya suka puisi ini. Mengingatkan saya dengan puisi penyair era lama tahun 70-an yang menggarap tema-tema kecil, tentang rindu dan kekasih. Bait-bait selanjutnya juga diikuti oleh pendekatan yang personal dan terasa dekat imajinya.
Akhirnya saya ucapkan selamat bagi para pemenang dan para peserta yang naskahnya masuk unggulan. Semoga usai mengikuti lomba ini dapat terpantik semangat baru untuk menulis puisi-puisi dengan beragam percobaan bentuk atau menakar tema dengan sudut pandang yang segar. Bagi para peserta yang belum beruntung semoga tak lantas menyerah sebab dalam perlombaan selalu ada ukuran-ukuran yang berangkat dari kesepakatan para juri dalam memberikan penilaian. Membaca puisi-puisi yang baik, bersuntuk di dalamnya, lalu berlatih menulis tak kenal lelah, itulah saya kira ajakan yang akan selalu terdengar. Terlebih lagi bila ada target besar yang ingin dicapai ke depannya. Saran yang takkan lelah untuk diulang yakni membaca, membaca dan membaca, lalu menulis. Demi mencapai target tak hanya tersedia satu jalan [lomba menulis], melainkan banyak jalan lain terbentang untuk menguji karya kita. Semoga semakin membaik dari waktu ke waktu.
Salam.
Iin Farliani
Ketika membaca puisi-puisi dari peserta, kami mencatat dua hal utama yang seakan seperti dua sisi mata uang, pertama: antusias yang besar dari peserta lomba. Itu terlihat dari kuantitas peserta yang tidak pernah surut dari tahun ke tahun. Artinya, semangat orang menulis puisi itu selalu ada dan tetap tumbuh. Mereka terlihat berbondong mengikuti perlombaan menulis puisi ini. Kedua, jumlah yang banyak tidak diimbangi dengan kualitas puisi yang bagus. Setidaknya ada kisaran 95% persen puisi dibuat di bawah standar, dan sebagian dibuat secara acak-acakan. Hanya sepersekian persen puisi yang kami rasa baik. Artinya, ada perbedaan cukup tajam antara puisi-puisi tersebut.
Puisi-puisi yang masuk dalam 20 besar, adakalanya di isi oleh lebih dari 1 orang. Karena beberapa karya yang mereka kirim, memang dirasa layak duduk bertengger di posisi tersebut. Hal ini juga berbanding terbalik dengan beberapa penulis lain yang turut mengirim puisi lebih dari 1, tetapi terkesan mubazir karena kualitasnya jauh di bawah standar. Tentu kami juga mempertimbangkan puisi lain yang dianggap setara kualitasnya dengan karya penulis yang sudah lolos di 20 besar, sehingga ada slot untuk penulis yang belum masuk di urutan tersebut.
Puisi-puisi yang bertengger di 6 besar pada hakikatnya diisi oleh puisi-puisi yang diwakili oleh tema-tema yang berbeda. Setiap tema tertentu, bisa diwakili oleh setiap puisi yang duduk dalam baris urutan tersebut. Ada juga puisi yang kami rasa kuat dan layak masuk di dalam kategori 3 besar, tetapi karena kekurangtelitiannya mengurus tata bahasa, typo, dsb—yang menyebabkan pemaknaan jadi rancu dan kacau—kemudian berhasil digeser oleh puisi lain. Sekalipun mungkin, secara kualitas, layak duduk di posisi tersebut.
Dalam penjurian, tentu saja kami berdikusi dan berdebat untuk memilih karya terbaik. Tapi pada hakikatnya, kami sepakat untuk memilih juara pertama sebagai pemenang di lomba ini tanpa ada perdebatan yang berarti.
Indra Intisa
Fasilitas Lomba
Kepada seluruh peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 27 Agustus 2023. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Kelas Menulis Daring direncanakan akan dilaksanakan pada Jumat, 18 Agustus 2023 pukul 20.00 melalui aplikasi Zoom. Tautan Zoom akan dibagikan melalui chat Whatsapp.
Pengumuman Pemenang
Berikut daftar peringkat 200 besar Lomba Menulis Puisi ke-16 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan puisi terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.
Karya pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-16 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.
| Peringkat | Judul Puisi | Nama Penulis |
| 1 | Menggugat Geliat Tubuh | Saefudin Muhamad |
| 2 | Celiana | Muhammad Ridwan Tri Wibowo |
| 3 | Kalvari yang Perkasa | Michael Djayadi |
| 4 | Di Ranjang Ini | Dzikron Rachmadi |
| 5 | Nafsu Nafas Kelima | Yohan Fikri Mu’tashim |
| 6 | Kado untuk Jelita | Andiny Nurulsyifa |
| 7 | Perbincangan di Beranda | Ramadhan Ega |
| 8 | Selamat Ulang Tahun (Mampus Kau, Perempuan) | Muhammad Dzaky Abdullah |
| 9 | Batarakala | Daviatul Umam |
| 10 | Tarung | Saefudin Muhamad |
| 11 | Menyeberang | Muhammad Gibrant Aryoseno |
| 12 | Athena dan Parikesit, Bersulang! | Ananda Pramesti Regitha Cahyani |
| 13 | Tricontinental Sorrow [Untuk Amilcar Cabral] | Muhammad Dzaky Abdullah |
| 14 | Demoskratein Archipelago | Amirotu Juliana |
| 15 | Tubuh Ibu | Miftahzururi |
| 16 | Aad | Agus Sanjaya |
| 17 | Sadran | M. Habib Syafa’at |
| 18 | Telur | Mey Thaniuss |
| 19 | Samsara | Dhimas Bima Shofyanto |
| 20 | Tiga Saka Gerbang Dunia Ke Lima | Zainur Rahman |
| 21 | Dunia Lama | Muhammad Dzaky |
| 22 | Apiun Merah | Daud Ibrahim |
| 23 | Toko Topeng Ladira | Muhammad Ridwan Tri Wibowo |
| 24 | Perih Menamsilkan Kehilangan | M. Habib Syafa’at |
| 25 | Tertawan Gema di Tengah Ampun dan Dendam | M. Habib Syafa’at |
| 26 | Menghafal Tubuhmu | Saefudin Muhamad |
| 27 | Perempuan-Perempuan Buta dan Tuli | Indah Puspitasari |
| 28 | Jam Lima Sore Milik Jelita | Andiny nurulsyifa |
| 29 | Menafsir Dalamnya Laut di Hati Puan | Devy Rianita Hanifah |
| 30 | Kata, Kita dan Ingatan | Ahmad Khairuddin |
| 31 | Lembaran Fotoku yang Keluar dari CCTV | Muhammad Ridwan Tri Wibowo |
| 32 | Gugur | Roy Andika |
| 33 | Surabaya yang Berjalan | Adnan Guntur |
| 34 | Amis pada Puisi dan Kencing | Juanadr |
| 35 | Rumah Kaca | Tegar Novanto |
| 36 | Lembaran yang Terlepas dari Ranjang | Dwi Retno Wati |
| 37 | Hakikat | Tegar Novanto |
| 38 | Toples Kenangan | Ibnu Khairi Alfarisi |
| 39 | Matamu: Lautan Lepas | Aletheia |
| 40 | Judul Tidak Ingat | Yumasarroh |
| 41 | Rindu | Aletheia |
| 42 | Di Batas Ruang Jam 10 Malam | Daud Ibrahim |
| 43 | Lurus ke Garis Langit | Daud Ibrahim |
| 44 | Sorai | Andiny Nurulsyifa |
| 45 | Jemuran di Rumah Kos Campur | Mandira |
| 46 | Hyang Giri Tohlangkir Caka 1884 | Nityasa Wijaya |
| 47 | Cap Besi | Annisa Izzati Firdaus |
| 48 | Sembahyang Seorang Demonstran | Ogilvie Daut |
| 49 | Bangunan Hubungan Jauh | Prihariyanda |
| 50 | Panjang Umur Si Hebat | Dilsa Fahila Hi. Adam |
| 51 | Panorama dari Perut Marmut | Rediva Novalisty |
| 52 | Jakarta | Odelia Yulita |
| 53 | Secangkir Kopi Hangat | Mandira |
| 54 | Mimpi di Pengujung Hari | Ahmad Khairuddin |
| 55 | Membatalkan Garis Lurus | Prihariyanda |
| 56 | Ketika Kamu | Odelia Yulita |
| 57 | Pertengahan Juni 2012 | Nurti |
| 58 | Kesepakatan dalam Lapang | Ahmad Khairuddin |
| 59 | Sudah Gersang | Tomi Paulus |
| 60 | Laki-Laki yang Mengharapkan Jala | Mihardiani Andaba La Uri |
| 61 | Puisiku | Fathan Mubin Hasri |
| 62 | Berkebun Aksara | Yumasarroh |
| 63 | Cerita di Sebuah Kertas | Devan Ardiansyah Romadhon |
| 64 | Merindu | Karbelani Aulia |
| 65 | Santap Malam Terkutuk | Suara Arkais |
| 66 | Arak-arakan Hujan Sabtu Pagi | Dwi Retno Wati |
| 67 | Semoga Kamu | RueLia |
| 68 | Mitologi Pemenang | Mahsus Auwabin |
| 69 | Kutemukan Puisimu | Farah Shofiyah |
| 70 | Ayasha | Ivo Galang |
| 71 | Pertemuan Yang Tak Terduga | Bagus Ananta Rizqi Jabbar |
| 72 | Masat Basat | Khairuz Zaman NT |
| 73 | Cerita Kaki | Yumasarroh |
| 74 | Pergi pulang | Patha |
| 75 | Topeng Manusia | Karbelani Aulia |
| 76 | Tuan dan Merpati-Merpati Mati | Ibnu Khairi Alfarisi |
| 77 | Hidup yang Hidup | Salsabilla Anglingsari |
| 78 | Serangan Penghidupan | Patha |
| 79 | Sekumpulan Tragedi dari Tahun 97 | MA. Fauzan Al Riyadh Panjaitan |
| 80 | Syair Ratapan (Bagi Syekh Ali Jaber) | Al Atmimah(ALvictory) |
| 81 | Silsilah Nelayan | Khairuz Zaman NT |
| 82 | Syair Tongkat Musa | Dirja Wiharja |
| 83 | Elegi Paling Moyang | Ilham Nuryadi Akbar |
| 84 | Kesah Nirsuara Adipati Karna | Budianto Sutrisno |
| 85 | Wajah yang Ragu | Bela Tri Lestari |
| 86 | Indonesia adalah Ibumu | Dirja Wiharja |
| 87 | Tali | Janya Tara |
| 88 | Koki di Kedai Keluarga | Shafa Dinda |
| 89 | Do You Still Love Me? | Marlina Joy |
| 90 | Alinea Pluvia | Dwi Retno Wati |
| 91 | Kelima Ribu Aksara | WDGafoer |
| 92 | Cermin Tari Eyang Didi | Anggraini Wulan Saputri |
| 93 | Kebumikan Aku di Sana | Aletheia |
| 94 | Tak Terbaca | Akhlum Nahsyard |
| 95 | Cengkram Erat Panji | Tsamarotul Fuadah |
| 96 | Balada Seorang Wanita dalam Kelambu | Soraya Naila Hasibuan |
| 97 | Bermukim di Tanjung Biru | Rustam |
| 98 | Sadar | Wahyu Hidayat |
| 99 | Bunga Kantil | Ani Willa |
| 100 | Eksplorasi Ruam dengan Cinta | Grisela Danica Shadelia Silaban |
| 101 | Balada Cinta Satu Malam | MA. Fauzan Al Riyadh Panjaitan |
| 102 | Sepeda Tua | Al Atmimah(ALvictory) |
| 103 | Mendekap Gelebah | Lyle Rivulet |
| 104 | Adakah yang Lebih Penting daripada Impian | Marlina Joy |
| 105 | Sembilan Gemuruh di Karang | Janya Tara |
| 106 | Filosofi Kloset | Atanasius Hardinus Roga |
| 107 | Mengenal Laut Dalam | MA. Fauzan Al Riyadh Panjaitan |
| 108 | Pelayaran Pemuda | Muhammad Sudi Andriano |
| 109 | Biografi Nabi Bulan Garam | M. Arif Rahman Hakim |
| 110 | Mariana; dalam doa dan renjana | Silvanus Fembriano Tagal |
| 111 | Habibi Ya Sayyidi | Siti Saudah |
| 112 | Setan | Elisabeth Morib |
| 113 | Berikan Mata kepada Angin | Syafina Dewi Mashitoh |
| 114 | Buta Tuli | Abdul Gias Moo |
| 115 | Saksi Bisu | Marlina Joy |
| 116 | Peluk Aku, Tuhan | Ari Triantini |
| 117 | Syair Dua Jiwa | Reki Sulistian |
| 118 | Emansipasi Birahi | Kadek Deva Agastya |
| 119 | Angin Lembut Menyapu Lembut Wajahku | Jasmine Raihanum Alawy |
| 120 | Jalan Paling Sunyi Menuju Annuqayah | Sriyatun |
| 121 | Menemui Nasrul Kecil | Muh. Nasrul Evendi |
| 122 | Wahai Penulis | Suara Arkais |
| 123 | Dosa | Ghifari Maulana |
| 124 | Dendam Harapan Yang Terus Berkobar | Lara-sya |
| 125 | Aku, Dirimu, dan Tuhan | Yeremia Junior |
| 126 | Nyanyi Sumbang Indonesia Raya | Sahbuddin Dg. Palabbi |
| 127 | Sebuah Kisah Keberanian dan Perselisihan Dicurahkan | Naila Anika Zakira |
| 128 | Puisi Pergumulan Sang Musafir | Adrian |
| 129 | Bunga Asing di Taman | Hardani abas |
| 130 | Beri Tahu Aku Cara Merindu | Linafe |
| 131 | Suar | Hilmy Pramudya Permana |
| 132 | Tidak Tahu Judulnya Apa | Salsabila Safitri |
| 133 | Sang Penerjang Badai | Vaza Zuvarullutvan |
| 134 | Kidung Doa Pendosa | Putri Wahyuni Ningseh |
| 135 | Keinginan dalam hati | Mini Aster |
| 136 | Balada Dua Hati | Rausyan Fikri Muhammad Ilham |
| 137 | Marlina | Adlin Safira Alfiana |
| 138 | Luka Merpati Putih | Mazaya Syahida Yudhianto |
| 139 | Pesan Bapak | Shanjara |
| 140 | Ilalang dan Padi | Fitri Ani |
| 141 | Susuk Agraria | Ruhan Wahyudi |
| 142 | Harapan Si Kecil Anala | Iftah R. Safitri |
| 143 | Halo Protagonis | Charishma Devi Risty Mustaniroh |
| 144 | Rinduku di Andromeda | Redda Hasan |
| 145 | Khitam | Mayang Sari |
| 146 | Getir, Taksu, dan Pendekar | I Wayan Ivan Zenatmaja |
| 147 | Sebuah Bentuk | FlowersRlit |
| 148 | Aku Ingin Terbang | Bagas Maulana |
| 149 | Sedang Dicari | Zikrina Istigfarah |
| 150 | Langit Sunyi | Arni Sry Anti |
| 151 | Antara Hajun dan Kota Makkah | Hayatul Amna Sabri |
| 152 | Salah Waktu | Muhammad Khadafi |
| 153 | Cinta yang Bodoh | Wanita Pena |
| 154 | Pulanglah! | Debora Bea |
| 155 | Platonik | aiamthek |
| 156 | Anak Lampu Merah | Agil Ahmad Syamsudin |
| 157 | Layu | Aurora Vanda Jayanti |
| 158 | Apabila Aku Merindukanmu | India Haydha Pratiwi |
| 159 | Bahasa kalbu | Kandi Yandani |
| 160 | “Harus” Untukmu | Nita Lidia Deliyanti |
| 161 | Sang Pencipta Rindu | Vina khafifah |
| 162 | Mana Anakku? | Callista Camelia |
| 163 | Syukur | Rina Purwanti |
| 164 | Sececah Pesan | Dara Yasmin Warda |
| 165 | Tertunda | Putri Novi Rahmalia |
| 166 | Sang Penjaga Mimpi | Dini Cahya |
| 167 | Abhati Meresap Atma | Faishal Yazid Hibatullah |
| 168 | Senja Tanpa Gelas | MG Aryan |
| 169 | Sepucuk Ikrar di Tepi Sabana | Kombang Dewa Syah Putra |
| 170 | Ranjau Rantau | ~Ta. |
| 171 | Tanah Para Bajing Loncat | Nabiel Pambudi |
| 172 | Nyanyian Setan | Warno Warsono |
| 173 | Airmata Thermis | Tangkas Ihza Pratama Aji |
| 174 | Negeri Kita | Leni Yunia Sutardjo |
| 175 | Raut Wajah Sunyi | Danu Ady Setyawan |
| 176 | Bunga Krisan Putih | Deaz Iman Dermawan |
| 177 | Rindu Berzirah Doa | Adani Asri |
| 178 | Malam dan Sebotol Bir | Muhammad Achmar |
| 179 | Bermain | Adam Dhany Bahroli |
| 180 | Lahir di Yogya | Desra Eka Putri |
| 181 | Setitik Bermakna | Sisilia Renge Aleseleb MD |
| 182 | Di Balik Senyuman | Nesta Sutadiwangsa Rohanda |
| 183 | Akad | Agus Budi Utomo |
| 184 | Bilik Tiga Kali Dua | Ni Azalia |
| 185 | Loka Imajinasi | fleur |
| 186 | Luluh Lantak | Reva Gusni Ananda |
| 187 | Durhaka | Dewi Suryati |
| 188 | Menilap Raga Renjana | M.Ridwan Sugara |
| 189 | Warnaku Kamu | Arsi Septia Winata |
| 190 | Hirup Harap Sergap | Nunung Rahmawati |
| 191 | Pedagang Senyuman | Umi Robiatul Adawiyah |
| 192 | Diri yang Lelah | Parents Dream |
| 193 | Empat Musim | Lusia Anggreani |
| 194 | Excommunicado: Soliloqui Kematian | Albyan Azhar Abdillah |
| 195 | Di Balik Jerjak Ada Harapan | Paulus Watratan |
| 196 | Berlian Beku Narcissus | Agni Mada |
| 197 | Generasi Emas | Taffy Lyra |
| 198 | Sehelai Hujan | Satria Muhammad Khadafi |
| 199 | Merefleksikan Hidup | Mia Angriana Juniarti |
| 200 | Kota Si Pengais Upah | Wulandari Taradita |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: GPI Jalan Bougenville II, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
