Catatan Juri
Dari Jakarta ke Moonlight Sonata: Catatan Penjurian
Oleh Kiki Sulistyo
Mekanisme penjurian sayembara menulis puisi yang diadakan Tulis.me untuk ke-18 kalinya ini dibagi ke dalam tiga tahap.
Tahap pertama: seluruh karya peserta, yang sudah lulus syarat administrasi, ditempatkan dalam 3 (tiga) kloter. Masing-masing juri membaca 1 (satu) kloter, artinya: masing-masing juri membaca naskah yang berbeda dan darinya diharapkan tiap-tiap juri memilih 100 (seratus) puisi terbaik.
Di tahap ini saya tidak dapat memenuhi permintaan panitia. Meski sudah membaca dan mengamat-amati dengan cermat seluruh karya dalam kloter saya, tetap saja jumlah yang saya dapatkan kurang dari jumlah yang diminta panitia. Saya hanya memilih 48 puisi. Aspek pertama yang saya nilai adalah komposisi (pendayagunaan bahasa, penggunaan perangkat-perangkat puitika, upaya defamiliarisasi ungkapan seraya menjaga komunikasi tetap jernih); selanjutnya topik dan tema (bagaimana keduanya menghasilkan cara pandang dan/atau wacana yang tidak banyak dikerjakan peserta lainnya); dan yang terakhir: relevansi pilihan komposisi serta topik dan tema tersebut dengan kekinian kita, baik dalam konteks puisi maupun dalam konteks sosial. Kenyataannya, masih banyak karya yang ditulis tanpa upaya sungguh-sungguh. Karya-karya tersebut hadir ala kadarnya, dengan cara ungkap yang cenderung klise. Tema-tema cinta, situasi bangsa, keadaan spiritual manusia, pengalaman sehari-hari, atau karya-karya yang mengangkut sejarah faktual, mitos, kosmologi, kultur lokal, atau kisah-kisah besar banyak saya temukan. Kesemuanya sesungguhnya potensial seandainya digarap dengan kesadaran dan kewaspadaan yang baik akan daya bahasa, serta kemauan untuk masuk ke dalam pengalaman sehingga sampai pada penghayatan akan kenyataan.
Tahap kedua: semua puisi yang sudah dipilih masing-masing juri dikumpulkan kemudian dibaca kembali oleh semua juri. Artinya, di tahap ini, semua juri membaca naskah yang sama, dan darinya diharapkan tiap-tiap juri memilih 20 (duapuluh) puisi terbaik. Lagi-lagi saya tidak dapat memenuhi permintaan panitia. Akan tetapi, kali ini, dengan situasi sebaliknya. Jika pada tahap pertama jumlah puisi pilihan saya kurang dari yang diharapkan panitia, pada tahap kedua jumlahnya malah lebih. Saya memilih lebih dari 20 puisi. Namun, karena harus memilih 20 puisi saja, maka saya menyimpan sejumlah puisi lainnya untuk saya persiapkan menuju tahap ketiga.
Tahap ketiga adalah tahap terakhir. Tahap penentuan para pemenang serta penentuan puisi-puisi yang akan masuk ke dalam buku. Semua juri bertemu secara daring. Di sini kami menggunakan cara yang paling moderat: mencari irisan di antara puisi-puisi yang sudah kami pilih. Seakan sudah ditakdirkan, hanya ada 3 (tiga) puisi yang diunggulkan oleh ketiga juri. Puisi-puisi tersebut adalah Kartu-Kartu Pos dari Jakarta, Menggali Surga dari Bara Neraka, dan Di Ujung Selat Rupat. Otomatis ketiga puisi tersebut yang menjadi kandidat utama tiga peringkat teratas.
Setelah membaca kembali; setelah sejumlah baku argumen, kami memutuskan memilih puisi Kartu-Kartu Pos dari Jakarta sebagai pemenang I (pertama). Puisi ini terdiri atas 14 bagian; puisi yang cukup panjang. Komposisinya solid, tapi tidak monoton. Ditulis dengan gaya surat, atau separuh surat, yang berisi potret sekian tempat, sekian pertemuan, sekian renungan, sekian pertanyaan, dari manusia yang dihantam kenyataan dan ingin lenyap sejenak saja. Puisi ini berhasil membicarakan Jakarta bukan sekadar sebagai kota, melainkan juga sebagai penanda keterasingan manusia. Situasi sosial dan mental personal saling menangkap dan melepaskan.
Untuk pemenang II (kedua), kami memilih puisi Menggali Surga dari Bara Neraka. Puisi ini merupakan ode yang dipersembahkan kepada Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka. Dari aspek komposisi, puisi ini juga solid. Objek-objek yang dipakai seturut dengan latar peristiwa sekaligus dapat bekerja sebagai metafora. Topik yang diangkat bisa disebut subversif terhadap narasi arus utama, meski jangkauan daya tarik topik ini jelas terbatas.
Karena hanya 3 (tiga) puisi yang dipilih oleh semua juri, maka pemenang III (ketiga) otomatis diberikan kepada puisi Di Ujung Selat Rupat. Puisi ini mengandung ode sekaligus balada perihal sosok Darwis Moh. Saleh, penjaga hutan mangrove di pesisir Dumai. Dengan anasir sejarah kolonial, melalui nama-nama macam Afonso de Albuquerque atau Tome Pires, serta kutipan-kutipan latin dari Marcus Aurelius, puisi ini merangkai rajutan peradaban manusia yang pada akhirnya berpusat pada situasi kekinian, di mana persoalan manusia dengan (kerusakan) alam kembali mengemuka.
Setelah memilih tiga pemenang utama, kami kembali ke makanisme irisan dan mengumpulkan puisi-puisi yang setidaknya dipilih oleh dua orang juri, untuk mengisi peringkat-peringkat berikutnya. Ada 9 (sembilan) puisi yang terpilih; 5 (lima) puisi mengangkat anasir-anasir lokal (tabu dan mitos yang diartikulasikan dengan cukup jernih dalam puisi Madu Segara; warisan kultural yang berupaya dipertahankan dalam puisi Cegak; gastronomi lokal dalam puisi Bertandang ke Kampung Talang: Balada Mak Itam dalam Rempah Sotindang; pandangan romantik yang lirih dalam puisi Kayu Tangan; serta metafora dari musim dan flora-fauna dalam puisi Mangsa Kapat); 3 (tiga) puisi, yakni Seperti Pengantin, Kulacino Anima Mundi, serta Adenito Sayonara, menawarkan gaya ungkap berupa lompatan-lompatan, atau persandingan, kata yang tak terduga; menghasilkan tema “psikedelik”, meski kadang di beberapa bagian kehilangan komunikasinya; serta 1 (puisi), yakni Kedaluwarsa, yang bernada satir yang menggerakkan analogi dari kehidupan sehari-hari.
Setelah beres dengan mekanisme irisan, sekarang tinggal memilih 8 (puisi) lain untuk melengkapi jumlah 20 (duapuluh). Di tahap ini saya menjagokan 3 (tiga) puisi, yakni Sestina: Jalan Pulang di Tengah Hutan Belantara, Malam Hujan, serta Denang Tak Tenang, Nan Payah Asah. Saya memilih ketiganya karena masing-masing hadir dengan ke-lain-annya. Puisi Sestina: Jalan Pulang di Tengah Hutan Belantara menerapkan dengan baik bentuk kompleks sestina (puisi enam bait + satu envoi) dengan kata akhir yang berulang dalam berbagai kombinasinya. Puisi Malam Hujan ditulis dengan repetisi yang meyakinkan, memberi kesan gema, menebalkan suasana hujan dan badai, baik dalam pengertian harfiah, maupun metaforis. Sedang puisi Denang Tak Tenang, Nan Payah Asah, memanfaatkan kembali gaya perpuisian era Pujangga Baru dengan kesadaran sampai di aspek tema, yakni hubungan orangtua dan anak.
Setelah jumlah 20 (duapuluh) terpenuhi selesailah pekerjaan kami. Kami sepakat menempatkan puisi Moonlight Sonata sebagai penutup. Ini puisi pendek, dua baris, yang cukup mampu membuka ruang makna antara komposisi musik dengan bayang-bayang kematian. Puisi pendek, tulis Sutardji Calzoum Bachri, seperti bingkai yang di dalamnya kita bisa membayangkan lukisan.
Akahirnya, saya mesti menutup tulisan ini dengan pandangan umum berdasarkan hasil pembacaan saya. Dari sebagian karya-karya peserta yang tidak masuk dalam 20 (duapuluh) puisi pilihan, sungguh tampak potensi yang bisa terus dikelola. Apabila mereka yang telah menghasilkan puisi-puisi tersebut tak patah arang, tetap merawat hasrat pada kata dan bahasa, cakrawala perpuisian kita kelak akan beroleh sumbangan-sumbangan berharga.
Kiki Sulistyo
***
Salah satu kesenangan turut serta dalam penjurian ini adalah membaca banyak sekali puisi dengan
beragam tema dan berbagai macam cara ucap. Saya memilih untuk menerima dan mengapresiasi setiap
karya yang saya baca, merenungkannya sebagai proses menulis dan peristiwa puitik setiap peserta.
Puisi yang masuk memiliki kecenderungan yang terbaca sebagai curhat atau hal-hal yang akhirnya
kehilangan daya magisnya sebagai puisi. Meski begitu ada lebih dari 100 puisi (yang jika digabungkan
dengan naskah yang diterima juri lain) yang memiliki potensi untuk menjadi puisi yang kuat dari penyair
yang juga lihai “bermain” seni kata. Sementara 20 puisi pilihan sudah melalui kurasi bersama semua juri,
yang dipilah dan ditafsirkan bersama sehingga menemukan kesepakatan untuk dipilih.
Saya selalu percaya “Kata-kata tak pernah mengkhianati” begitu pun puisi. Kepada kawan-kawan yang
nasakahnya belum terpilih, percayalah bahwa puisi tak pernah tergesa-gesa. Satu larik, dua larik—pelan
saja, lakukan dengan hati senang dan jujur, puisi akan tersaji di hadapanmu dengan magis.
Ama Gaspar
Fasilitas Lomba
Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 18 Agustus 2024. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Kelas Menulis Daring direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 melalui aplikasi Zoom. Waktu pelaksanaan dan tautan Zoom akan dibagikan melalui chat Whatsapp.
Pengumuman Pemenang
Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Puisi ke-18. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.
Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.
Karya pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-18 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.
| Peringkat | Judul Puisi | Nama Penulis |
| 1 | Kartu-Kartu Pos dari Jakarta | Muhammad Irwan Aprialdy |
| 2 | Menggali Surga dari Bara Neraka | Ilham Nuryadi Akbar |
| 3 | Di Ujung Selat Rupat | WS. Djambak |
| 4 | Madu Segara | Daviatul Umam |
| 5 | Cegak | Muhammad Asqalani Eneste |
| 6 | Bertandang Ke Kampung Talang | Pusvi Defi |
| 7 | Kayu Tangan | Suharsono, S.Pd. |
| 8 | Mangsa Kapat | Umi Roisatul Mukaromah |
| 9 | Seperti Pengantin | Fani Yoga Pratama |
| 10 | Kulacino Anima Mundi | Moh. Ahsanul Umam |
| 11 | Adenito Sayonara | Mara Uliyah |
| 12 | Kedaluwarsa | Aprini Hasanah |
| 13 | Sestina: Jalan Pulang di Tengah Hutan Belantara | Tegar Perkasa |
| 14 | Malam Hujan | Darwanto |
| 15 | Kehilangan Catatan Belanja | Darwanto |
| 16 | Dari Warga Hanya Saja Kepada Rezim Kira-Kira | Fakhrurrazi M. Qasim |
| 17 | Swalayan Tua di Jalan Pahlawan | Darwanto |
| 18 | Bajang di Pohon Tuba | Ananda Pramesti Regitha Cahyani |
| 19 | Denang Tak Tenang, Nan Payah Asah | Sebastian Raditya Warih Laksono |
| 20 | Moonlight Sonata | Bakri |
| 21 | Montase Bahagia | Muh. Nasrul Evendi |
| 22 | Robohnya Ludah Basudewa | M. Arif Rahman Hakim |
| 23 | Kronik Burung Kedasih | Dimarifa Dy |
| 24 | Mengapa Namaku Karna? | Suryo Kusumo |
| 25 | Ada Luka Abadi di Kepalaku | I Ketut Denis Sastradi |
| 26 | Mabuk Laut | Galih Agus Santoso |
| 27 | Orang-Orang Surgawi | Agung Nur Ikhsan |
| 28 | Garis Bantu | Paudi Ismet |
| 29 | Fovere | Att Mahatma |
| 30 | Filosofi Kacip Tepak Sirih | Nyayu Agustina Dewi |
| 31 | Biarkan Aku Menjadi Jam | Muhammad Gibrant Aryoseno |
| 32 | Resital Piano | Novia Rika Perwitasari |
| 33 | Mesias | Muhammad Gibrant Aryoseno |
| 34 | Mimpi Aneh | Galih Agus Santoso |
| 35 | Waktu Mati, Kata-Kata Abadi | Bageur Al Ikhsan |
| 36 | Mengenang Tragedi Lapar | Fauziah Nuraini |
| 37 | Turis Lokal | Seira Gita |
| 38 | Serangkai Ibu | Delrilya Arifiella |
| 39 | Surat dari Gadis Bulan Ini | Herlangga Juniarko |
| 40 | Pada Sebuah Restoran | Dika Agusta |
| 41 | Semicolon | Senja Vee |
| 42 | Dalam Peti Mati | Devira Yoana Putri |
| 43 | Violet | Deni Ristiyan |
| 44 | Hantu Berwajah Tuhan | Esti Rusia |
| 45 | Di Ujung Pralaya | Fina Nurhidayah |
| 46 | Doa Berhias | Syaqrah Karara Azzen |
| 47 | Goresan Derita Tak Berujung | Jundighifari |
| 48 | Kode Program yang Tidak Dapat Dipahami | Berliana Ovelia |
| 49 | Tumbuh | Halwa Khairani |
| 50 | Segelas Riak Manusia | Zabilla Ardha Ramadani |
| 51 | Rumah Pada Kalender Itu | Yazid Ibnu Bashory |
| 52 | Ini Puisi Alin | Triana Ananda Rustam |
| 53 | Lilitan Kematian | Fiyya Nayla Maulayya |
| 54 | Debu | David Christian Aldo Panggabean |
| 55 | Tepian Eden | Astri Marshall |
| 56 | Membuka Memori Mangunwijaya | Robertus Priatmoko |
| 57 | Panggung Bunga Kertas | Casia Wu |
| 58 | Uluran Tangan Segenggam Tanah untuk Segumpal Darah | Meyka Zahra Kayyisa |
| 59 | Janabijanaku, Nagari Bahari | Adrian Mailoor |
| 60 | Pelupuk Surga | Nisia Hellal |
| 61 | Hari Raya Kegagalan Pada Kalender Tuhan | Ara Hernanda |
| 62 | Nasi Hangat | Pratita Saraswati |
| 63 | Requiem di Tengah Malam | Muhammad Rifan Prianto |
| 64 | Memoria Passionis, Musim-Musim Memercik Api | Sulfiza Ariska |
| 65 | Terbunuhnya Ikan Paus | Aprini Hasanah |
| 66 | Marcy | Tegar Perkasa |
| 67 | Ajarkan Aku Cara Membuka Jendela | Ainina Nurarifa |
| 68 | Nokap | Ita Lusia |
| 69 | Opus | Ahmad Choirul Amri |
| 70 | L: Membaca Seorang Detektif dalam Death Note | Muh. Nasrul Evendi |
| 71 | Sial, Tidak Ada Salmon di Brantas | Bryan Repha Kusuma |
| 72 | Mataya Kedok | Zaini Athaillah P. |
| 73 | Pompeii dari Timur | Novia Rika Perwitasari |
| 74 | Kalau Nanti Kau Melupakanku | Mahyu Sari |
| 75 | Ruang Rindu di Pojok Itu | Dea Asti Widia |
| 76 | Cerita Seorang Dokter Gigi yang Memutuskan Belajar Bahasa Isyarat | Herlangga Juniarko |
| 77 | Berapakah Harga yang Pantas Dibayarkan untuk Menebus Sebuah Janji? | Devy Rianita Hanifah |
| 78 | Mengutuk Rindu Jadi Batu | Agus Sanjaya |
| 79 | Masyarakat Stroberi | Heru Santoso (HAS) |
| 80 | Bonafiditas Aidem Luyahkat | Moh. Ahsanul Umam |
| 81 | Alkoholik dan Ruang Kotak | Seryu |
| 82 | Namaku Mendut | Mara Uliyah |
| 83 | Kemarau Bulan Juni | Edgar El-Rumi |
| 84 | Laki-Laki Itu Tak Tahu Cara Menamatkan Perkabungan | M. Habib Syafa’at |
| 85 | Akhir dari Sang Tokoh Utama | Muhammad Irham Almadani Nugraha |
| 86 | Seseorang yang Mati dalam Kidungnya | Muhammad Ali Zulfikar |
| 87 | Kerinduan Semesta | Fariz Nurul Hidayat |
| 88 | Wanita Di Balik Warna | Naura Todano |
| 89 | Surat Kasih untuk Tubuhku | R Salwa Azizah Nurfatma |
| 90 | Menjulurkan Lidah (Cita Rasa) | I Wayan Ivan Zenatmaja |
| 91 | Pulanglah | Nida |
| 92 | Kabar Jakarta Hari Ini | Rizky Aulia Nurrahmah |
| 93 | Sumpah Ironi | Anaaabluu |
| 94 | Berita Buruk yang Kau Buat Sendiri | Achmad Afifuddin |
| 95 | Selebrasi Dharma | Indah Widia Sari |
| 96 | Tukang Balon | Muh. Andika Arya Dwi Pratama |
| 97 | Yang Ada di Kantong Saya | Thariqism |
| 98 | Harapan Memecah Derita | Dhimas Pangeswara |
| 99 | Menyunting Kesepian | Aulia Noor Andriyani |
| 100 | Jejak Rumah Tua | Arnol Goleo |
| 101 | Gentayang Bayang | I Gede Indra Abhirama Putra |
| 102 | Nenek Tua yang Dipangku Harapan | Muhammad Latief Azhar |
| 103 | Sandal | Hasan Faizin |
| 104 | Hikayat Anak Pegunungan | Asip Abdu Azis Sopian |
| 105 | Perahu Karat | Dismas Angkasa Sephira Juang |
| 106 | Mendengar Noctrune 20 Pada C Sharp Minor | Bima Yuswa |
| 107 | Affandi Koesoema: Reliku Warna Pelukis Kerbau | Gilang Ihsan N |
| 108 | Socotra, Corpus Porta Vox: Tu(h)an | M. Rifdal Ais Annafis |
| 109 | Avonturir | Rustam, S.Pd. |
| 110 | Akun Media Sosial untuk Sekumpulan Anak Ayam | Sherlynn Yuwono |
| 111 | Kesibukan Minggu Pagi | Taufik Rizaldi Hata |
| 112 | Bapak | Adrian Mailoor |
| 113 | Manunggal | Serigala Tunggal |
| 114 | Keluh Tungku Pada Api | Gilang Tresna Sanubari |
| 115 | Wanita di Perbatasan | Yesy Bangkit Forma |
| 116 | Rempah-Rempah | Vanityas Yunita Hastuti |
| 117 | Rumah Pohon Ruka | Suara Arkais |
| 118 | Sandiwara Luka | Diah Ayu Setianingrum |
| 119 | Kisah Ikan Sebelah | Retno Tri Handayani |
| 120 | Siluet | Nunoaldian |
| 121 | Kota Tarim | M Royyan Hidayatullah |
| 122 | For Alexandra | Ivo Galang |
| 123 | Tanpa Peta | Arti Rahardjo |
| 124 | Gerimis, Tak Reda | Nailatul Insyiroh |
| 125 | Manusia Tanpa Kasta | Ifda Ridlwana |
| 126 | Melalui Puisi (Sebuah Doa) | Semata Wayang |
| 127 | Jejak Waktu | Arief Bakri |
| 128 | Ekaristi | Ibrahim Hanifan |
| 129 | Teruntuk Aku | Alifa Batrisyia Nariswari |
| 130 | Gusar Pun Tertahan | Carisa Salsabila |
| 131 | Sarwa Duaja | Saditeena |
| 132 | Separuh Kisah | Nadiakamila |
| 133 | Bunga Liar | Vika Novia |
| 134 | Rahwana | Nofal Riandra Ramadani Alfaldy |
| 135 | Polaris | Prima Nizary |
| 136 | Topeng Merenung | Nadine Lee |
| 137 | Menentang Waktu | Muhammad Fadhil |
| 138 | Memikul Juang | Elvandra Aurellia Radisty |
| 139 | Titik Semu | Diva Bunga Febrianti |
| 140 | Tanah yang Kita Panggil Rumah | Sahbuddin Dg. Palabbi |
| 141 | Pejuang Tangguh | Dahrina Hi Musa |
| 142 | Kemanusiaan | Cristina Marpaung |
| 143 | Perayaan 1 Cangkir Untukku | Ahmad Nur Saputra |
| 144 | Belenggu Hati | Khuirun Yulianti |
| 145 | Keluarga | Tria Wijayanti |
| 146 | Hidup Atau Mati | Meyzira |
| 147 | Saat Garis Garis Halus Melebur di Bawah Sinar Malam | Ruby Lily |
| 148 | Karma Hitam | Sigit Mulyoseno |
| 149 | Di Bawah Langit yang Sama | Tania Ratna |
| 150 | Ziarah | Fatkhurrohman Zakaria Abdillah |
| 151 | Di Kitab Astronomi | Abdul Mannan Nashir Dza Hilmin |
| 152 | Cincin Kawat | Lidya Wulandari |
| 153 | Sinema di Bulan November | Pondra Nur Sholiqin |
| 154 | Sudut Sunyi | Lacuna Lara |
| 155 | Rintik Hujan Peneduh Jiwa yang Riuh | Erdianto |
| 156 | Diam yang Sebenarnya | Siar7 |
| 157 | Dalam Kubangan Air | Nafisah Putri |
| 158 | Menemanimu | Suci Ilhami Nurul Hidayah |
| 159 | Merentang Asa | Santi Ratna |
| 160 | Senandika | Tutik Ratna Ningtyas |
| 161 | Pegunungan Sewu | Afin Burhan Prapsita |
| 162 | Perempuan di Kepalamu | Bolpoin Biru |
| 163 | Sibuk | Kei Kurnia |
| 164 | Dari La Mancha | Almasnanda Mu’Thiya Sajid |
| 165 | Tinta Merah dari Laut | Cayla Stevie Iskandar |
| 166 | Kepalaku | Mahaparana Al Latif |
| 167 | Dalam Delusi | Firman Alfarizi Putra |
| 168 | Surat Cinta Seorang Politisi Kepada Kekasihnya | Jean Rivaldo Mansa |
| 169 | Gandalia | Zakiyyatul Fuadah |
| 170 | Dalang | Annisa Ulfitri |
| 171 | Meraba Tafsir Persaksian | Abdul Rohman |
| 172 | Kelereng Terakhir di Kantong | Eka Putri Rahayu |
| 173 | Patriot Berdendang | Maria Yohana Kristyadewi |
| 174 | Libur Panjang | Bellaria Angkasa |
| 175 | Lara Milik Rawagede | Naila Syifa Azzahra |
| 176 | Angkutan Anak Buruh | Ferisa Julianti |
| 177 | Lembah yang Tak Kunjung Usai Kuarungi | Apfia Edenia Putri |
| 178 | Malam Terakhir | Ayu Intan Nursanjaya |
| 179 | Asa Cinta | Sri Maharustin |
| 180 | Tandan Berduri | Itang Prayoga |
| 181 | Tersisih Dalam Bahagia | Sangidah Rofi’ah, S.Ag.,M.S.I |
| 182 | Pojok Senja | Gabriela Bean Bone |
| 183 | Bayangan Jingga | Dwi Kurnia Putri |
| 184 | Sayap-Sayap Harapan | Ahmad Rozali |
| 185 | Geram Berdendang | Salma Adhwa Nazhifah |
| 186 | Tak Layak Bagimu | Ni Putu Sucita Ratih Cahyani WP |
| 187 | Pergilah Rindu | Candra P. Pusponegoro |
| 188 | Langit, Trauma, dan Puisi | Ahmad Hidayat |
| 189 | Abadilah dalam Keasingan | Ratnasari Sitanggang |
| 190 | Ibu, Semestaku | Santri Nurhafni |
| 191 | Dialog Hati | Fina Mawahib |
| 192 | Refleksi Rindu | Firmankazur |
| 193 | Rumah | Meidina Anggraeni |
| 194 | Tamak | Afifah Khairunnisa |
| 195 | Menanti | Putri Widha Febriantari |
| 196 | Matemacinta | Huda Nurrohman |
| 197 | Kesempurnaan | R.M.A.Romadhoni |
| 198 | Fragmen Melodi Tak Terjamah | Melsa Oktapiansyah |
| 199 | Pulang | Sri Yulistiani |
| 200 | Jalan Ninjaku | BW |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: GPI Jalan Bougenville II, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
