Catatan Juri

Dari Jakarta ke Moonlight Sonata: Catatan Penjurian
Oleh Kiki Sulistyo

Mekanisme penjurian sayembara menulis puisi yang diadakan Tulis.me untuk ke-18 kalinya ini dibagi ke dalam tiga tahap.

Tahap pertama: seluruh karya peserta, yang sudah lulus syarat administrasi, ditempatkan dalam 3 (tiga) kloter. Masing-masing juri membaca 1 (satu) kloter, artinya: masing-masing juri membaca naskah yang berbeda dan darinya diharapkan tiap-tiap juri memilih 100 (seratus) puisi terbaik.

Di tahap ini saya tidak dapat memenuhi permintaan panitia. Meski sudah membaca dan mengamat-amati dengan cermat seluruh karya dalam kloter saya, tetap saja jumlah yang saya dapatkan kurang dari jumlah yang diminta panitia. Saya hanya memilih 48 puisi. Aspek pertama yang saya nilai adalah komposisi (pendayagunaan bahasa, penggunaan perangkat-perangkat puitika, upaya defamiliarisasi ungkapan seraya menjaga komunikasi tetap jernih); selanjutnya topik dan tema (bagaimana keduanya menghasilkan cara pandang dan/atau wacana yang tidak banyak dikerjakan peserta lainnya); dan yang terakhir: relevansi pilihan komposisi serta topik dan tema tersebut dengan kekinian kita, baik dalam konteks puisi maupun dalam konteks sosial. Kenyataannya, masih banyak karya yang ditulis tanpa upaya sungguh-sungguh. Karya-karya tersebut hadir ala kadarnya, dengan cara ungkap yang cenderung klise. Tema-tema cinta, situasi bangsa, keadaan spiritual manusia, pengalaman sehari-hari, atau karya-karya yang mengangkut sejarah faktual, mitos, kosmologi, kultur lokal, atau kisah-kisah besar banyak saya temukan. Kesemuanya sesungguhnya potensial seandainya digarap dengan kesadaran dan kewaspadaan yang baik akan daya bahasa, serta kemauan untuk masuk ke dalam pengalaman sehingga sampai pada penghayatan akan kenyataan.

Tahap kedua: semua puisi yang sudah dipilih masing-masing juri dikumpulkan kemudian dibaca kembali oleh semua juri. Artinya, di tahap ini, semua juri membaca naskah yang sama, dan darinya diharapkan tiap-tiap juri memilih 20 (duapuluh) puisi terbaik. Lagi-lagi saya tidak dapat memenuhi permintaan panitia. Akan tetapi, kali ini, dengan situasi sebaliknya. Jika pada tahap pertama jumlah puisi pilihan saya kurang dari yang diharapkan panitia, pada tahap kedua jumlahnya malah lebih. Saya memilih lebih dari 20 puisi. Namun, karena harus memilih 20 puisi saja, maka saya menyimpan sejumlah puisi lainnya untuk saya persiapkan menuju tahap ketiga.   

Tahap ketiga adalah tahap terakhir. Tahap penentuan para pemenang serta penentuan puisi-puisi yang akan masuk ke dalam buku. Semua juri bertemu secara daring. Di sini kami menggunakan cara yang paling moderat: mencari irisan di antara puisi-puisi yang sudah kami pilih. Seakan sudah ditakdirkan, hanya ada 3 (tiga) puisi yang diunggulkan oleh ketiga juri. Puisi-puisi tersebut adalah Kartu-Kartu Pos dari Jakarta, Menggali Surga dari Bara Neraka, dan Di Ujung Selat Rupat. Otomatis ketiga puisi tersebut yang menjadi kandidat utama tiga peringkat teratas.

Setelah membaca kembali; setelah sejumlah baku argumen, kami memutuskan memilih puisi Kartu-Kartu Pos dari Jakarta sebagai pemenang I (pertama). Puisi ini terdiri atas 14 bagian; puisi yang cukup panjang. Komposisinya solid, tapi tidak monoton. Ditulis dengan gaya surat, atau separuh surat, yang berisi potret sekian tempat, sekian pertemuan, sekian renungan, sekian pertanyaan, dari manusia yang dihantam kenyataan dan ingin lenyap sejenak saja. Puisi ini berhasil membicarakan Jakarta bukan sekadar sebagai kota, melainkan juga sebagai penanda keterasingan manusia. Situasi sosial dan mental personal saling menangkap dan melepaskan.  

Untuk pemenang II (kedua), kami memilih puisi Menggali Surga dari Bara Neraka. Puisi ini merupakan ode yang dipersembahkan kepada Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka. Dari aspek komposisi, puisi ini juga solid. Objek-objek yang dipakai seturut dengan latar peristiwa sekaligus dapat bekerja sebagai metafora. Topik yang diangkat bisa disebut subversif terhadap narasi arus utama, meski jangkauan daya tarik topik ini jelas terbatas.

Karena hanya 3 (tiga) puisi yang dipilih oleh semua juri, maka pemenang III (ketiga) otomatis diberikan kepada puisi Di Ujung Selat Rupat. Puisi ini mengandung ode sekaligus balada perihal sosok Darwis Moh. Saleh, penjaga hutan mangrove di pesisir Dumai. Dengan anasir sejarah kolonial, melalui nama-nama macam Afonso de Albuquerque atau Tome Pires, serta kutipan-kutipan latin dari Marcus Aurelius, puisi ini merangkai rajutan peradaban manusia yang pada akhirnya berpusat pada situasi kekinian, di mana persoalan manusia dengan (kerusakan) alam kembali mengemuka.

Setelah memilih tiga pemenang utama, kami kembali ke makanisme irisan dan mengumpulkan puisi-puisi yang setidaknya dipilih oleh dua orang juri, untuk mengisi peringkat-peringkat berikutnya. Ada 9 (sembilan) puisi yang terpilih; 5 (lima) puisi mengangkat anasir-anasir lokal (tabu dan mitos yang diartikulasikan dengan cukup jernih dalam puisi Madu Segara; warisan kultural yang berupaya dipertahankan dalam puisi Cegak; gastronomi lokal dalam puisi Bertandang ke Kampung Talang: Balada Mak Itam dalam Rempah Sotindang; pandangan romantik yang lirih dalam puisi Kayu Tangan; serta metafora dari musim dan flora-fauna dalam puisi Mangsa Kapat);  3 (tiga) puisi, yakni Seperti Pengantin, Kulacino Anima Mundi, serta Adenito Sayonara, menawarkan gaya ungkap berupa lompatan-lompatan, atau persandingan, kata yang tak terduga; menghasilkan tema “psikedelik”, meski kadang di beberapa bagian kehilangan komunikasinya; serta 1 (puisi), yakni Kedaluwarsa, yang bernada satir yang menggerakkan analogi dari kehidupan sehari-hari.

Setelah beres dengan mekanisme irisan, sekarang tinggal memilih 8 (puisi) lain untuk melengkapi jumlah 20 (duapuluh). Di tahap ini saya menjagokan 3 (tiga) puisi, yakni Sestina: Jalan Pulang di Tengah Hutan Belantara, Malam Hujan, serta Denang Tak Tenang, Nan Payah Asah. Saya memilih ketiganya karena masing-masing hadir dengan ke-lain-annya. Puisi Sestina: Jalan Pulang di Tengah Hutan Belantara menerapkan dengan baik bentuk kompleks sestina (puisi enam bait + satu envoi) dengan kata akhir yang berulang dalam berbagai kombinasinya. Puisi Malam Hujan ditulis dengan repetisi yang meyakinkan, memberi kesan gema, menebalkan suasana hujan dan badai, baik dalam pengertian harfiah, maupun metaforis. Sedang puisi Denang Tak Tenang, Nan Payah Asah, memanfaatkan kembali gaya perpuisian era Pujangga Baru dengan kesadaran sampai di aspek tema, yakni hubungan orangtua dan anak.

Setelah jumlah 20 (duapuluh) terpenuhi selesailah pekerjaan kami. Kami sepakat menempatkan puisi Moonlight Sonata sebagai penutup. Ini puisi pendek, dua baris, yang cukup mampu membuka ruang makna antara komposisi musik dengan bayang-bayang kematian. Puisi pendek, tulis Sutardji Calzoum Bachri, seperti bingkai yang di dalamnya kita bisa membayangkan lukisan.   

Akahirnya, saya mesti menutup tulisan ini dengan pandangan umum berdasarkan hasil pembacaan saya. Dari sebagian karya-karya peserta yang tidak masuk dalam 20 (duapuluh) puisi pilihan, sungguh tampak potensi yang bisa terus dikelola. Apabila mereka yang telah menghasilkan puisi-puisi tersebut tak patah arang, tetap merawat hasrat pada kata dan bahasa, cakrawala perpuisian kita kelak akan beroleh sumbangan-sumbangan berharga.

Kiki Sulistyo

***

Salah satu kesenangan turut serta dalam penjurian ini adalah membaca banyak sekali puisi dengan
beragam tema dan berbagai macam cara ucap. Saya memilih untuk menerima dan mengapresiasi setiap
karya yang saya baca, merenungkannya sebagai proses menulis dan peristiwa puitik setiap peserta.
Puisi yang masuk memiliki kecenderungan yang terbaca sebagai curhat atau hal-hal yang akhirnya
kehilangan daya magisnya sebagai puisi. Meski begitu ada lebih dari 100 puisi (yang jika digabungkan
dengan naskah yang diterima juri lain) yang memiliki potensi untuk menjadi puisi yang kuat dari penyair
yang juga lihai “bermain” seni kata. Sementara 20 puisi pilihan sudah melalui kurasi bersama semua juri,
yang dipilah dan ditafsirkan bersama sehingga menemukan kesepakatan untuk dipilih.
Saya selalu percaya “Kata-kata tak pernah mengkhianati” begitu pun puisi. Kepada kawan-kawan yang
nasakahnya belum terpilih, percayalah bahwa puisi tak pernah tergesa-gesa. Satu larik, dua larik—pelan
saja, lakukan dengan hati senang dan jujur, puisi akan tersaji di hadapanmu dengan magis.

Ama Gaspar

Fasilitas Lomba

Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 18 Agustus 2024. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.

Kelas Menulis Daring direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 melalui aplikasi Zoom. Waktu pelaksanaan dan tautan Zoom akan dibagikan melalui chat Whatsapp.

Pengumuman Pemenang

Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Puisi ke-18. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.

Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.

Karya pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-18 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.

PeringkatJudul PuisiNama Penulis
1Kartu-Kartu Pos dari JakartaMuhammad Irwan Aprialdy
2Menggali Surga dari Bara NerakaIlham Nuryadi Akbar
3Di Ujung Selat RupatWS. Djambak
4Madu SegaraDaviatul Umam
5CegakMuhammad Asqalani Eneste 
6Bertandang Ke Kampung TalangPusvi Defi
7Kayu TanganSuharsono, S.Pd.
8Mangsa KapatUmi Roisatul Mukaromah
9Seperti PengantinFani Yoga Pratama
10Kulacino Anima MundiMoh. Ahsanul Umam
11Adenito SayonaraMara Uliyah
12KedaluwarsaAprini Hasanah
13Sestina: Jalan Pulang di Tengah Hutan BelantaraTegar Perkasa
14Malam HujanDarwanto
15Kehilangan Catatan BelanjaDarwanto
16Dari Warga Hanya Saja Kepada Rezim Kira-KiraFakhrurrazi M. Qasim
17Swalayan Tua di Jalan PahlawanDarwanto
18Bajang di Pohon TubaAnanda Pramesti Regitha Cahyani
19Denang Tak Tenang, Nan Payah AsahSebastian Raditya Warih Laksono
20Moonlight SonataBakri
21Montase BahagiaMuh. Nasrul Evendi
22Robohnya Ludah Basudewa M. Arif Rahman Hakim
23Kronik Burung KedasihDimarifa Dy
24Mengapa Namaku Karna?Suryo Kusumo 
25Ada Luka Abadi di KepalakuI Ketut Denis Sastradi 
26Mabuk LautGalih Agus Santoso
27Orang-Orang SurgawiAgung Nur Ikhsan
28Garis BantuPaudi Ismet
29FovereAtt Mahatma
30Filosofi Kacip Tepak SirihNyayu Agustina Dewi
31Biarkan Aku Menjadi JamMuhammad Gibrant Aryoseno
32Resital PianoNovia Rika Perwitasari
33MesiasMuhammad Gibrant Aryoseno
34Mimpi AnehGalih Agus Santoso
35Waktu Mati, Kata-Kata AbadiBageur Al Ikhsan
36Mengenang Tragedi LaparFauziah Nuraini
37Turis LokalSeira Gita
38Serangkai IbuDelrilya Arifiella
39Surat dari Gadis Bulan IniHerlangga Juniarko
40Pada Sebuah RestoranDika Agusta
41SemicolonSenja Vee
42Dalam Peti MatiDevira Yoana Putri
43VioletDeni Ristiyan
44Hantu Berwajah TuhanEsti Rusia
45Di Ujung PralayaFina Nurhidayah 
46Doa BerhiasSyaqrah Karara Azzen
47Goresan Derita Tak BerujungJundighifari
48Kode Program yang Tidak Dapat DipahamiBerliana Ovelia
49TumbuhHalwa Khairani
50Segelas Riak ManusiaZabilla Ardha Ramadani
51Rumah Pada Kalender ItuYazid Ibnu Bashory
52Ini Puisi AlinTriana Ananda Rustam
53Lilitan KematianFiyya Nayla Maulayya
54DebuDavid Christian Aldo Panggabean 
55Tepian EdenAstri Marshall
56Membuka Memori MangunwijayaRobertus Priatmoko
57Panggung Bunga KertasCasia Wu
58Uluran Tangan Segenggam Tanah untuk Segumpal Darah Meyka Zahra Kayyisa 
59Janabijanaku, Nagari BahariAdrian Mailoor
60Pelupuk SurgaNisia Hellal
61Hari Raya Kegagalan Pada Kalender TuhanAra Hernanda
62Nasi HangatPratita Saraswati
63Requiem di Tengah MalamMuhammad Rifan Prianto
64Memoria Passionis, Musim-Musim Memercik Api Sulfiza Ariska
65Terbunuhnya Ikan PausAprini Hasanah
66MarcyTegar Perkasa
67Ajarkan Aku Cara Membuka JendelaAinina Nurarifa
68NokapIta Lusia
69OpusAhmad Choirul Amri
70L: Membaca Seorang Detektif dalam Death NoteMuh. Nasrul Evendi
71Sial, Tidak Ada Salmon di BrantasBryan Repha Kusuma
72Mataya KedokZaini Athaillah P.
73Pompeii dari TimurNovia Rika Perwitasari
74Kalau Nanti Kau MelupakankuMahyu Sari 
75Ruang Rindu di Pojok ItuDea Asti Widia
76Cerita Seorang Dokter Gigi yang Memutuskan Belajar Bahasa IsyaratHerlangga Juniarko
77Berapakah Harga yang Pantas Dibayarkan untuk Menebus Sebuah Janji?Devy Rianita Hanifah
78Mengutuk Rindu Jadi BatuAgus Sanjaya
79Masyarakat StroberiHeru Santoso (HAS) 
80Bonafiditas Aidem LuyahkatMoh. Ahsanul Umam
81Alkoholik dan Ruang KotakSeryu
82Namaku MendutMara Uliyah
83Kemarau Bulan JuniEdgar El-Rumi
84Laki-Laki Itu Tak Tahu Cara Menamatkan PerkabunganM. Habib Syafa’at
85Akhir dari Sang Tokoh UtamaMuhammad Irham Almadani Nugraha 
86Seseorang yang Mati dalam KidungnyaMuhammad Ali Zulfikar
87Kerinduan SemestaFariz Nurul Hidayat 
88Wanita Di Balik WarnaNaura Todano
89Surat Kasih untuk TubuhkuR Salwa Azizah Nurfatma
90Menjulurkan Lidah (Cita Rasa)I Wayan Ivan Zenatmaja
91PulanglahNida 
92Kabar Jakarta Hari IniRizky Aulia Nurrahmah
93Sumpah IroniAnaaabluu
94Berita Buruk yang Kau Buat SendiriAchmad Afifuddin
95Selebrasi DharmaIndah Widia Sari
96Tukang Balon Muh. Andika Arya Dwi Pratama
97Yang Ada di Kantong SayaThariqism
98Harapan Memecah DeritaDhimas Pangeswara
99Menyunting KesepianAulia Noor Andriyani
100Jejak Rumah TuaArnol Goleo
101Gentayang BayangI Gede Indra Abhirama Putra
102Nenek Tua yang Dipangku HarapanMuhammad Latief Azhar
103SandalHasan Faizin 
104Hikayat Anak PegununganAsip Abdu Azis Sopian
105Perahu KaratDismas Angkasa Sephira Juang
106Mendengar Noctrune 20 Pada C Sharp MinorBima Yuswa
107Affandi Koesoema: Reliku Warna Pelukis KerbauGilang Ihsan N
108Socotra, Corpus Porta Vox: Tu(h)anM. Rifdal Ais Annafis
109AvonturirRustam, S.Pd.
110Akun Media Sosial untuk Sekumpulan Anak AyamSherlynn Yuwono
111Kesibukan Minggu PagiTaufik Rizaldi Hata
112BapakAdrian Mailoor
113ManunggalSerigala Tunggal
114Keluh Tungku Pada ApiGilang Tresna Sanubari
115Wanita di PerbatasanYesy Bangkit Forma
116Rempah-RempahVanityas Yunita Hastuti
117Rumah Pohon Ruka Suara Arkais
118Sandiwara  LukaDiah Ayu Setianingrum 
119Kisah Ikan SebelahRetno Tri Handayani
120SiluetNunoaldian
121Kota TarimM Royyan Hidayatullah 
122For Alexandra Ivo Galang
123Tanpa PetaArti Rahardjo
124Gerimis, Tak RedaNailatul Insyiroh
125Manusia Tanpa KastaIfda Ridlwana
126Melalui Puisi (Sebuah Doa)Semata Wayang
127Jejak WaktuArief Bakri
128EkaristiIbrahim Hanifan 
129Teruntuk AkuAlifa Batrisyia Nariswari
130Gusar Pun TertahanCarisa Salsabila
131Sarwa Duaja Saditeena
132Separuh KisahNadiakamila
133Bunga LiarVika Novia
134RahwanaNofal Riandra Ramadani Alfaldy
135PolarisPrima Nizary
136Topeng MerenungNadine Lee
137Menentang WaktuMuhammad Fadhil
138Memikul JuangElvandra Aurellia Radisty
139Titik SemuDiva Bunga Febrianti
140Tanah yang Kita Panggil RumahSahbuddin Dg. Palabbi
141Pejuang TangguhDahrina Hi Musa
142KemanusiaanCristina Marpaung
143Perayaan 1 Cangkir UntukkuAhmad Nur Saputra
144Belenggu HatiKhuirun Yulianti
145KeluargaTria Wijayanti 
146Hidup Atau MatiMeyzira
147Saat Garis Garis Halus Melebur di Bawah Sinar MalamRuby Lily
148Karma HitamSigit Mulyoseno 
149Di Bawah Langit yang SamaTania Ratna
150ZiarahFatkhurrohman Zakaria Abdillah 
151Di Kitab AstronomiAbdul Mannan Nashir Dza Hilmin
152Cincin KawatLidya Wulandari
153Sinema di Bulan NovemberPondra Nur Sholiqin
154Sudut SunyiLacuna Lara
155Rintik Hujan Peneduh Jiwa yang RiuhErdianto
156Diam yang SebenarnyaSiar7
157Dalam Kubangan AirNafisah Putri
158MenemanimuSuci Ilhami Nurul Hidayah 
159Merentang AsaSanti Ratna 
160SenandikaTutik Ratna Ningtyas
161Pegunungan SewuAfin Burhan Prapsita
162Perempuan di KepalamuBolpoin Biru
163SibukKei Kurnia
164Dari La ManchaAlmasnanda Mu’Thiya Sajid
165Tinta Merah dari LautCayla Stevie Iskandar 
166KepalakuMahaparana Al Latif
167Dalam Delusi Firman Alfarizi Putra
168Surat Cinta Seorang Politisi Kepada KekasihnyaJean Rivaldo Mansa
169GandaliaZakiyyatul Fuadah
170DalangAnnisa Ulfitri
171Meraba Tafsir PersaksianAbdul Rohman
172Kelereng Terakhir di KantongEka Putri Rahayu 
173Patriot BerdendangMaria Yohana Kristyadewi
174Libur PanjangBellaria Angkasa
175Lara Milik RawagedeNaila Syifa Azzahra
176Angkutan Anak BuruhFerisa Julianti
177Lembah yang Tak Kunjung Usai KuarungiApfia Edenia Putri
178Malam TerakhirAyu Intan Nursanjaya
179Asa CintaSri Maharustin
180Tandan BerduriItang Prayoga
181Tersisih Dalam BahagiaSangidah Rofi’ah, S.Ag.,M.S.I
182Pojok SenjaGabriela Bean Bone
183Bayangan JinggaDwi Kurnia Putri
184Sayap-Sayap HarapanAhmad Rozali
185Geram BerdendangSalma Adhwa Nazhifah 
186Tak Layak BagimuNi Putu Sucita Ratih Cahyani WP
187Pergilah RinduCandra P. Pusponegoro
188Langit, Trauma, dan PuisiAhmad Hidayat
189Abadilah dalam KeasinganRatnasari Sitanggang 
190Ibu, SemestakuSantri Nurhafni
191Dialog HatiFina Mawahib
192Refleksi RinduFirmankazur
193RumahMeidina Anggraeni
194TamakAfifah Khairunnisa
195MenantiPutri Widha Febriantari
196MatemacintaHuda Nurrohman
197KesempurnaanR.M.A.Romadhoni
198Fragmen Melodi Tak TerjamahMelsa Oktapiansyah
199PulangSri Yulistiani
200Jalan NinjakuBW

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,

Tulis.me

Tentang Tulis.me

Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: GPI Jalan Bougenville II, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.