Catatan Juri

Sebagaimana penyelenggaraan sebelumnya, sayembara menulis puisi tulis.me tahun ini pun membagi seluruh puisi yang masuk ke dalam 3 (tiga) kloter. Masing-masing juri memegang satu kloter, artinya masing-masing juri membaca puisi-puisi yang berbeda. Dari tiap kloter yang dipegang, juri (diminta) memilih 100 (seratus) puisi terbaik. Hasilnya: semua juri tak bisa mencapai angka tersebut. Puisi yang layak tak sampai seratus.

Tentu tidak semua peserta mengikuti sayembara dengan semangat kompetitif. Situasi tersebut wajar-wajar saja. Sebagai analogi, sulit membayangkan dalam sebuah lomba lari marathon yang diikuti ribuan orang, semua pesertanya kompetitif sehingga menjelang garis finish ribuan orang itu berjejal-jejal untuk menjadi yang paling dulu sampai. Pemandangan macam begitu tak mungkin terjadi di dunia nyata, meski dapat kita bayangkan terjadi dalam sebuah fiksi spekulatif yang ditulis seorang pengarang yang agak edan dan tak ambil peduli dengan pesan moral.

Semua orang boleh menulis puisi meski tak semua orang bisa menulis puisi. Menulis membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, dan untuk bisa memiliki pengetahuan dan keterampilan orang mesti belajar dan berlatih dalam tempo yang panjang.

Ratusan puisi dalam kloter saya kebanyakan berbicara perilah cinta-(cintaan), suasana malam, kesendirian, langkah-langkah menjalani kehidupan, atau seru-seruan protes. Hampir semua dikerjakan tanpa keterampilan memadai. Saya (cuma) bisa memilih 75 (tujuh puluh lima) puisi, itu pun dengan sekian kompromi.

Setelah semua juri rampung memilih, puisi-puisi unggulan disatukan, lalu semua juri membaca kembali untuk menentukan para pemenang, artinya di tahap kedua ini semua juri membaca puisi-puisi yang sama.

Dalam rapat penentuan pemenang, yang dipimpin dengan efektif dan cermat oleh host kita: Innezdhe Marhaeni, setiap puisi unggulan dibicarakan satu-persatu. Pendapat bisa bersilang arah, meski tetap memiliki irisan.

Setelah sekian argumen, para juri memutuskan puisi “Bertahun-tahun di Hamparan Duka Kita” menjadi Pemenang I (pertama). Puisi ini berbicara tentang kaum eksil. Dengan menggunakan pronomina orang kedua, sang narator merajut hubungan dekat dengan subjeknya. Siasat ini membuat simpati dan empati jadi lebih dalam, sebab sang narator sekaligus meletakkan dirinya di posisi pembaca. Jukstaposisi dimainkan dengan apik, silangan antara yang konkrit dan yang abstrak membuat pengalaman jadi otentik (musim yang gigil, dingin di sendi-sendi hidupmu yang lelah; suara lonceng menyeka hatimu yang basah). Puisi ini juga memberi pemaknaan bahwa menjadi seorang eksil bukan cuma berurusan dengan jarak tempat, melainkan juga dengan situasi mental. Ia mengartikulasikan makna “jarak”, dalam konteks eksil, dengan baris yang tepat: Jauh di ufuk yang tak terpandang. Kata “terpandang’, alih-alih “terlihat”, memberi aras mental bagi situasi sang subjek. Kecuali itu, meski hampir sepenuhnya berisi suara sedih dan lelayu, puisi ini juga tak kurang harapan (Kau memeram keputusasaan dalam kata-kata penuh harap, di hamparan duka, musibah ini milik kita bersama.).

Sebagai Pemenang II (kedua) para juri sepakat memilih puisi “Nausicaä”. Barangkali ini puisi yang paling “otonom”, kecuali bahwa ia meminjam sosok dari Odyssey karya Homer. Otonom dalam hal ini berarti ia tak acuh terhadap komentar sosial, berpaling dari aras sosiologis puisi. Meski begitu, ia berhasil menggerakkan sifat penting puisi, yakni defamiliarisasi, baik dalam baris-barisnya (melalui perangkat jukstaposisi) maupun dalam strukturnya (banyak lapisan atau tikungan yang muncul tiba-tiba). Walau jadi tampak obskur, polanya cukup konsisten dan kode-kode yang dipergunakan tak bergerak sembarangan sehingga aspek komunikasinya tetap terjaga.

Untuk penentuan Pemenang III (ketiga) berlangsung debat agak sengit, sebab kandidatnya lebih dari dua puisi. Setelah membaca dan menimbang kembali, para juri memutuskan puisi “Pikiranku Berlari Terus di Trotoar Kota Ketika Tubuhku Letih Pulang Kerja”. Puisi ini mengambil topik spesifik: suara dari subjek urban yang ditindas kerja. Beragam istilah dari dunia kerja menyelip di antara keluhan putus asa. Topik ini menarik, dan relevan dengan situasi kini. Hanya saja, penulisnya tak cukup sabar menyaring kata untuk memasuki pengalaman lebih dalam. Ada baris yang ambiguitasnya (sebagai satu sifat puisi) tidak kokoh dan bisa tergelincir menjadi inkonsistensi.

Setelah memutuskan tiga pemenang utama, tugas selanjutnya adalah memilih 7 (puisi) untuk melengkapi 10 (sepuluh) besar.

Puisi “Matahari di Punggung Ibu, Bayang di Pundak Bangsa” kami letakkan di urutan keempat. Puisi ini dengan ringan menggunakan “Ibu”, beserta kerja-kerja domestiknya, sebagai metafora kritis bagi makna-makna yang telanjur diamini mentah-mentah, perihal bangsa, sejarah, kemerdekaan, dan seterusnya. Paralelisasi ini melahirkan lontaran-lontaran pertanyaan yang menggugah kesadaran. Alusi atas satu hadits perihal Ibu, dengan membongkar konteks agamanya dan meluaskan spektrumnya—bukan cuma posisi Ibu dengan Ayah, melainkan juga dengan tanah dan pemimpin—adalah suara yang penting di tengah gebalau krisis belakangan ini.

Puisi “Pujian untuk Pujaan” kami letakkan di posisi kelima. Gaya dan tema puisi ini bisa disebut “klasik”; pukau dari perasaan Cinta yang melimpah-limpah. Meski ungkapan-ungkapan dalam puisi ini sudah “sewajarnya” dipergunakan dalam puisi bergaya seperti itu, ia tetap menunjukkan pengetahuan dan keterampilan tertentu.

Di posisi keenam kami memilih puisi “Menumbuhkan Bahasa”. Puisi ini imajinatif, ditulis dengan semangat parodi, perihal kekacauan bahasa (seperti kisah Menara Babel). Meski begitu, sebagai puisi, ia luber-tumpah, dan kadang menggunakan ungkapan-ungkapan berlebihan.

Di posisi ketujuh ada puisi “Sapiens Menggugat”, suatu gugatan sarkas atas isu Palestina, berkait-kelindan dengan soal mitos, agama, sains, dan teknologi. Watak sarkas tak membuat ungkapan-ungkapannya jadi klise, sebab penulisnya cukup cekatan menjahit tanda demi tanda.

Puisi “Rumah di Hulu” kami letakkan di posisi kedelapan. Puisi ini menghadirkan selintas pemandangan dalam satu momen di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Sebagai pemandangan, ia liris dan cukup jernih. Hanya saja, karena di dalam pemandangan itu ada peristiwa, ia terlalu ringkas sehingga tak sempat memberi gema panjang.

Dua puisi terakhir dalam urutan sepuluh besar adalah puisi “Berbenah” dan “Laki-Laki Biasa di Bulan Desember”. “Berbenah” berkesan personal, perihal situasi mental sang subjek. Ia mem-benda-kan emosi-emosi abstrak sehingga bisa mulus masuk ke struktur peristiwa merapikan rumah. Meski personal, pengolahan emosinya masih umum, belum mencapai pengalaman otentik. Sementara “Laki-Laki Biasa di Bulan Desember” berwatak balada (atau setengah balada). Meski punya potensi, penggarapannya tanggung dan terburu-buru (kata-kata tak disaring dengan baik), sehingga pembaca kehilangan tautan dengan sang subjek.

Demikianlah urutan para pemenang, sekaligus sepuluh besar.

Setiap usai melaksanakan penjurian saya kerap merenung-renung. Dalam renungan itu, saya sering teringat pada banyak hal di dunia ini yang nyaris tak bisa dipahami sepenuhnya. Sebagai misal, penulis seperti Milan Kundera seumur hidupnya tak pernah mendapat hadiah Nobel, sementara penulis yang jauh muncul belakangan, misalnya Han Kang, sudah mendapat hadiah tersebut. Itu adalah bagian rahasia dari kehidupan. Meski begitu, ada hal-hal lain yang bisa direnungkan, terutama untuk diri saya yang fakir ini. Orang mestinya tidak menunggu kesempatan datang baru kemudian bersiap-siap, orang mestinya bersiap-siap terlebih dahulu, sehingga begitu kesempatan datang ia sudah benar-benar siap, mana tahu bagian rahasia dari kehidupan berpihak kepadanya—meski saya tetap tak bisa membayangkan di dunia nyata ada ribuan pelari marathon kompetitif berjejal-jejal di garis finish.*

Kiki Sulistyo

 

Banyak para penggemar puisi menganggap bahwa puisi adalah curahan perasaan yang begitu saja, seadanya, biasa dan mudah dimengerti oleh orang lain, sehingga apapun yang dipikirkan saat itu juga adalah ilham yang harius segera dituliskan. Sehingga jika dalam momentum itu, tertulis tiga lembar kalimat yang tersusun rapi dengan bentuk yang sudah dikenali sebagai puisi, dengan bait dan baris. Maka dia menganggap bahwa tulisan itu adalah puisi.

Padahal kita tahu, suara penyair adalah suara kenabian. Di dalam setiap kata dan kalimat yang dituliskan, dia bukan hasil dari peristiwa karang mengarang, tetapi ada sebuah dunia besar, tentang perjalanan hidup, tentang peristiwa, pengalaman, pengetahuan dan imajinasi yang mengendap begitu lama sehingga tempat yang disebut hati ataupun perasaan yang menjadi tampungan itu semua, menjelma telaga bening yang memberikan mata air, yang akan menjadi nadi, debaran dada dan detakan jantung kehidupan, dengan segenap nilai yang dimilikinya, jika terminum oleh orang lain, dia akan menjadi cahaya yang bersinar. Tentu saja untuk mencapai itu semua dibutuhkan keahlian berbahasa. Penyair adalah seseorang yang mampu menarikan kalimat, meliukkan kata, memukul dengan suasana dan membuat kegaduhan semesta.

Proses yang panjang itu, nyaris dilupakan oleh genzi sekarang ini, dalam menuliskan puisi, yang mereka pentingkan adalah, berkata dan berkata. Menuliskan dengan bentuk, dan susunan kata kalimat seperti puisi, dan kemudian selesai. Bahkan mereka mungkin tidak mengenali apa yang mereka tuliskan. Mereka hanya ingin tampil, menjadi ada dan menciptakan sesuatu yang akan membuat orang lain tertarik untuk memandangnya meski sejenak saja dan kemudian lupa. Sebuah ekspresi yang barangkali mereka yakini sebagai sebuah nilai, yang akan sanggup ditangkap oleh pembacanya, sebagai mahakarya.

Namun untuk mencapai itu semua, seseorang memerlukan daya cinta yang luar biasa pada puisi. Genzi telah mencoba mengakrabi dan menjadikan puisi sebagai lengan kuat untuk mencatat serta berteguh hati untuk terus menabuh setiap kata-kata yang dipahami, dengan keyakinan cinta untuk tetap mengakrabinya dengan luar biasa, apapun yang akan terjadi.

Selamat untuk semua puisi yang terpilih, satu pintu sudah dibuka dan siapkan puisi-puisi selanjutnya untuk hadir dengan daya pikat yang lebih memesona.

Evi Idawati

 

Membaca ratusan puisi yang dikirimkan oleh panitia jelas merupakan pekerjaan ekstra—melelahkan, ya, tetapi juga memberi harapan. Banyaknya karya yang masuk menandakan bahwa puisi masih menjadi medium pilihan bagi banyak penulis untuk mengeksplorasi spektrum perasaan dan pengalaman dalam medium bahasa. Ini, setidaknya, adalah pertanda baik.

Namun, sebagaimana hidup, tidak semua pertanda baik berakhir pada hasil yang baik pula.

Meski tema “bebas” telah diberikan sepenuhnya kepada para peserta—dengan harapan mereka dapat menulis dari kedalaman gagasan dan pengalaman masing-masing—sayangnya, kebebasan ini justru terasa belum sepenuhnya dimaknai. Banyak puisi yang masih terjebak dalam pengolahan tema yang klise dan dangkal: cinta yang sebatas kata manis, kritik sosial yang lebih condong pada kemarahan tanpa refleksi, hingga representasi individu yang terdengar seperti kesepian yang berulang, bukan kemandirian yang utuh.

Bukan berarti puisi tidak boleh berbicara tentang cinta, kemarahan, atau kesendirian—justru sebaliknya. Tema-tema ini bisa menjadi ladang yang subur bila digarap dengan kepekaan bahasa, perspektif yang segar, dan keberanian menantang bentuk maupun gagasan lama.

Di zaman ketika hampir setiap aspek kehidupan tak luput dari tafsir politis—termasuk yang paling personal sekalipun—bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia menjelma menjadi manifestasi pengetahuan: mencerminkan bagaimana seseorang memahami dunia, sejarah, dan dirinya sendiri. Gaya puitika, pilihan diksi, hingga bentuk-bentuk ekspresi paling halus dalam puisi, semuanya mengandung jejak cara berpikir, sistem nilai, dan ideologi si penulis.

Maka sebagai penulis, kita memikul tanggung jawab untuk tidak menerima begitu saja apa-apa yang telah dianggap mapan. Sejarah, cinta, bahasa, peran ibu, sistem kerja, narasi sosial, bahkan pengetahuan itu sendiri—semuanya layak untuk dipertanyakan, ditelusuri kembali asal-usulnya, dan dibongkar untuk ditemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

Dari proses itulah puisi menemukan daya gugatnya. Ia bukan sekadar wadah curahan rasa, melainkan medan tafsir dan negosiasi makna. Dengan mengolah bahasa secara sadar, kita dapat menawarkan sudut pandang yang tak dominan, membuka ruang imajinasi yang subversif, dan mengundang pembaca untuk ikut terlibat dalam pengalaman puitis yang menyentuh baik nalar maupun emosi. Karya yang berangkat dari kesadaran semacam itu tidak hanya bicara kepada zamannya, tetapi juga melampauinya—meninggalkan gema panjang di benak mereka yang membacanya.

Setelah melalui proses kurasi yang cukup panjang dan diskusi yang tak kalah intens, para juri akhirnya menyepakati beberapa puisi yang berhasil mencuri perhatian kami. Bagi saya pribadi, puisi-puisi ini tidak hanya meninggalkan kesan sesaat, tetapi menggema jauh setelah dibaca—menggugah nalar, membangkitkan empati, dan memancing perenungan.

“Bertahun-tahun, di Hamparan Duka Kita” terpilih sebagai Juara 1, karena dengan keberaniannya mengangkat tema yang jarang disentuh: eksil dan pengasingan oleh negara. Ia mengupas lapisan-lapisan ketahanan individu melalui sudut pandang orang kedua—sebuah pilihan yang jarang digunakan namun sangat efektif dalam mengajak pembaca turut serta mengalami. Sejarah dan identitas kewarganegaraan dalam puisi ini tak diterima sebagai fakta tetap, melainkan dipertanyakan, digugat, dan dibayangkan kembali. Tawaran semacam ini sangatlah penting di tengah narasi dominan yang kerap mengaburkan pengalaman pinggiran.

“Nausicaä”, sebagai Juara 2, menghadirkan kekuatan bahasa puitika yang disiplin dan terstruktur. Di tengah citra-citra yang kaya dan atmosfer yang nyaris sinematik, penulis berhasil membangun sebuah dunia dengan referensi yang lentur—apakah ia Homer atau Ghibli—namun tetap berdiri kokoh dalam keutuhan puitisnya. Imajinasi dan rancang bangun puisinya menunjukkan kepekaan terhadap bentuk dan isi secara bersamaan.

“Pikiranku Berlari Terus di Trotoar Kota Ketika Tubuhku Letih Pulang Kerja” menjadi Juara 3 karena ia menyuarakan kepenatan urban dengan jujur dan subtil. Bahasa korporat yang digunakan tidak jatuh pada gimmick atau stereotip, melainkan justru menyampaikan ironi dan beban generasional dengan kesadaran yang matang. Dari sini, kita melihat bagaimana pengalaman personal bisa membuka jalur menuju kritik sosial tanpa perlu menjadi nyaring.

Puisi-puisi lainnya—meskipun tidak semuanya mendapat posisi pemenang—telah menunjukkan niat yang besar untuk menyelami bahasa dan makna. Beberapa sudah berada di jalur yang menjanjikan, tinggal menajamkan kepekaan dan keberanian untuk menggali lebih dalam lagi.

Maka bagi yang karyanya belum terpilih, kami tidak melihat itu sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses panjang dalam menempuh jalan kepenyairan. Sebab, menulis puisi bukan perkara menang atau tidak—melainkan cara kita terus belajar mengurai makna, mempertanyakan dunia, dan menyatakan eksistensi.

Dalam kegigihan bermain-main dengan bahasa itulah, puisi akan terus hidup—dan kita ikut hidup di dalamnya.

Raihan Robby

Fasilitas Lomba Digital

Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Semua peserta baik kalah atau menang mendapatkan fasilitas lomba digital. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 16 Juli 2025. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.

Pengumuman Pemenang

Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Puisi ke-20. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.

Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.

Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-20 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini karena jumlah peserta lebih dari 200 orang.

UrutanJudulPenulis
1Bertahun-tahun, di Hamparan Duka KitaSapta Arif
2NausicaäTegar Perkasa
3Pikiranku Berlari Terus di Trotoar Kota Ketika Tubuhku Letih Pulang KerjaPaulus Catur Wibawa
4Matahari di Punggung Ibu, Bayang di Pundak BangsaNurlaila Fadillah
5Pujian untuk PujaanEdwar Maulana
6Menumbuhkan BahasaMuhammad Gibrant Aryoseno
7Sapiens MenggugatGalih Agus Santoso
8Rumah di HuluFebryanchandr
9BerbenahLulu Almarjan
10Laki-laki Biasa di Bulan DesemberRizki Aditya
11Aku adalah Rumah yang sedang Ditinggali TuhanSani Nurliah
12Homo SapiensLanaya Quinshaira
13Peluru dalam SelendangSayyid Muhammad ‘Aziez
14Dibesarkan oleh Indomie Goreng dan Ikan AsinNeni
15KaasstengelsDeni Ristiyan
16Pojok BacaRobi Hidayat
17Typical GC 6-28-1 vs Autosew X2000Yanto Purwanto
18VoltaireFathurrozi Nuril Furqon
19Perempuan dari TimurAlexandra Miranda Lopes 
20Ikrimah, Awan, dan Kulit KacangIman Rabinata
21Lomba Tatap MataArya Pangestu Putra Astawa
22Gatotkaca GandrungMuhammad Maulana Suryo Kusumo 
23Bucin MaXXXGalih Agus Santoso
24Ijazah di Ruang TamuSayyid Muhammad ‘Aziez
25Aham KsantavyahBetti Xu
26Istana Batu Kali: Ode untuk SejarahBezie Galih Manggala
27Heliophobia: Matahari yang Padam dalam LukisanWahdi Anwar 
28Berjaga sampai Aku PulasPuspita Idola Pirsouw
29AdelaideTegar Perkasa
30Rencana Pembunuhan IbuMuhammad Iqbal Khoironnahya 
31EuridiceDaffa Randai
32Kutawarkan Sebuah Rumah untuk Kau TinggaliHerlangga Juniarko
33Aku Disematkan Jauh dalam Paru-parumuRobi Hidayat
34Seperempat Abad BaladaMuqtafaiz
35Hikayat MantanO. Febriano N. Wagur
36Kami Masih Menggenggam yang Maha DekatMudri
37Kisah Mayangsari dan Penembak JituReva Ika Ariatna
38Potret Kecil Adat Serawai: Pencak, Tari, dan Rejung di Acara PernikahanSatria Rizal 
39Melangkah di Kota Paling TerjalEddy S. Marizar
40Anatomi LukaAsrul H.Muridun
41Kutipan StasiunAhmad Riza Utama
42SeninLuh Putu Dewi Savitri
43ReinkarnasiJonathan Susilo Effendi
44Ada Kejutan di Hari Ulang TahunHerlangga Juniarko
45Kucing Mati Meninggalkan TulangNicosolavinsi
46Kaca Bengkok di Lorong SunyiAurel Indriani Sidabalok 
47Tanah yang Menyimpan Nama-nama KitaNi Komang Intan Widyaningrum
48Cupid BerhamburanGalih Agus Santoso
49Siang Hari di Taman MakamSusan Humeri Siburian
50Karang dan MalangDani Sumargo
51Tuhan Telah Mati di Waktu Istirahat, Kembali Hidup Setelah Aku MemakinyaPoetra Akbar Alghiffary
52Mawar dan HujanAngelica Tricia Sarah Siahaan
53Cermin-cermin Kerajaan TengahGlent Lim
54Di Bawah Langit yang Tak Punya UsiaDaffa Randai
55Judul Puisinya Adalah Nama Kamu SendiriRizder
56KasihanMoss
57Di Meja Tua ItuEwaldo Zalukhu
58Alam Lebih Pandai Menyimpan RahasiaRobi Hidayat
59Sepasang Air Keruh dan Ranting RapuhMuqtafaiz
60Aku Cuma Menulisi Diriku SendiriArafat Nur
61Kitab Itu Terlalu Berat untuk Dibaca di Bawah Terik MatahariMudri
62Bukan Siapa-siapaSayyid Muhammad ‘Aziez
63Di Festival, Kupikirkan Sebuah RencanaHerlangga Juniarko
64IMuh. Nasrul Evendi
65Kontras Barisan MantanMuh. Nasrul Evendi
66Rumah Tanpa JendelaMochammad Dicky Akbar
67Lembaran Katarsis Gadis PsikotikDevy Rianita Hanifah
68Deklarasi TerakhirFajrina Geovani
69Hakikat Mengenai Sifat Dasar ManusiaAdrian Mailoor
70Daun yang Seharusnya JatuhLinangkarisma
71Di Antara Bayangan dan SunyiO. Febriano N. Wagur
72Fragmen Pohon ArenMuh. Nasrul Evendi
73Jejak PerjuanganKhalishah Wijdan Kamilah
74Kiai KampungMaribali
75Gadis yang Memasak Sunyi di DapurnyaWahyu Deny Putra
76Wasiat Pohon JatiPuspita Idola Pirsouw
77Would You Love Death?Sabrina Aulia Maulida
78Konsekuensi KealpaanAltaftazani
79Mantra Pembuka: Dari Aspal ke Arah LangitAlanudin
80AmayaL.Rosenthal
81Kampung Halaman: AMaribali
82Ketika Bumi Berputar ke KiriJonathan Susilo Effendi
83Jika Aku Adalah IlmuFatma Ariyanti
84Aksara Punya RahasiaDani Sumargo
85Jam 07.02 LagiFeroka Putra
86Requiem untuk Sang GelapNayla Greenatha Fauzia
87Syair Penghujat VAlif Azazel 
88Cokro KusumaAnta Kuna Lutfi S
89Megatruh Selasa ManisMila Mursalina
90Antara Anak TanggaSyafa Salsabila
91Kepada Palestina, dari Negeri Berlampu Warna-WarniArum Suprihatin
92Antarah Bin SyaddadAlaika Nikmatul Maula
93Simfoni Raja Ampat; Antara Sebuah Ratapan dan HarapanJohanes Jordan Maindoka
94Bujang Miris Menunjuk GerimisAhmad Zidan Alfarraasy
95Sumedang LarangAzizah Ramadhani Mahendra
96Tak Lulus UjianZ. Elowen
97Jejak-jejak yang HilangKherina Revianti 
98Makam MajnunZya Zura
99Lingkaran dengan Pusatnya (0,0)Ratna Setyaningsih
100Dalam Bayang WaktuArin
101Gairah Masa LaluYazid Ibnu Bashory
102Parfum MurahanHanung Prabowo
103Senyum Terakhir untuk AbiAmmar Ubaid
104Stasiun TerbengkalaiDokter Pena
105LERENG: Antara Surga dan NerakaIrham Zamzami
106Kembara HampaM.N Adadinur
107BapakTata Oktawandari
108Alter EgoDe Lubna Chairani
109Cinta TabungGagah Pranaja Sirat
110DurasiAlfa Alfi Aunillah
111Kapak Kesadaran IbrahimFaqih Muhajir Alhamidy
112Tanah Para Nabi yang Hampir TerlupaNaveena Putri
113Terminal Tanpa PemberhentianDokter Pena
114Tuts UsangMohammad Reihan Haikal
115Kidung JamkosOatmilkhans
116Melukis Cinta Tanpa KanvasR.A.Kinanthi Linggadewi Hayuningtyas
117Ruang KosongAnisa Rizky
118Aku Hancur, Tapi Aku Sampai..Wanda Aulia Hanim 
119Wejangan yang KuabaikanWillytonie
120WaktuMujiyah Utomo
121Dua Jendela TuaKyanaaa 
122AnagataUkhya
123Lokawigna SenandikaErin Bella Andini
124Cinta dalam Dua Koordinat yang tak SamaSamuel Christian Wijaya
125Kesedihan LautRoisatul Hidayah 
126Aku Kira Masih Punya Esok Sukmawati
127Petani dan Negeri yang LupaIrfan Hernandez
128Biarkan Puan Kembali UtuhAnggi Vebryan Eka Putri S
129Tragedi di Balik Jeruji BesiKhairul Fajar
130Sunyi Bertanya pada LangitHanafiah
131MarionetteNoel Alexander
132Long Distance ReligionshipJunaidi Abdilah 
133MunajatAisha Veronica Pasaribu
134PartiturShulha Nurul Fariha
135Aku Serangga Penghuni MalamFazri Aldi Nurfadilah
136Perjalanan Sang AktorRizder
137Dalam Sunyi, Aku TumbuhRosadewiita
138Renungan Sang TaikoGlent Lim
139Seorang Pria Bermenung di TerasHetrys Jailani
140SoledadRakih Fahrizal Efendi
141Kompas yang tak Percaya UtaraCindy Tri Handayani
142Telaga JelagaYasmina Mufida
143InsomniaDevina Putri Aruma
144Berada di Tepian IlusiHaruka Reina
145Seberkas Angin yang Menyebut NamamuMuti Zahra Asiva 
146Surut terbengkalaiI Gusti Ayu Mas Oka Wahyuni 
147Rubanah HatiNadya Salwa Salsabila
148Lengkara DuniaJundighifari
149Berlinang di Pucuk DaunWahyu Dimas Nurhermawan
150MarapiLiza Yatmi
151Aku yang Tak Pernah Dipilih LangitHarani Nazila Wirantika
152Yang Tak Terucap dalam DoaR.Nabila Zaty Shakila
153Nyanyian Hutan yang Hampir HilangMush’ab
154Peradaban AnehAndi Fatmayanti
155BautReka Azania Ramadani 
156Perjalanan RagaDian Nazaret
157Berlalu-LalangLazarus
158PulangArumy Alkhaulani Natien
159Di Atas Kertas TipisDiana Putri
160Sembilu Kisah di Balik KacaAnnisa Zahra Kawitri
161Antara Istana dan Kulit ManggaKemal Shidqi Anandevhan
162Terhenti di SiniHafizah Ridatul Aisyi 
163Temaram HatiNada Indira Ramadhani Nasrum
164Sebungkus PiluMaha Putra
165Percakapan SintingMarianti
166Luka dan FanaFrederikus Arnol Kewaha 
167MuseFeni Prameswati
168Persimpangan MalamDwika Aryaguna
169SemikolonLuh Ananda Sri Delfi I.
170SerunaiKiki
171Sungai Merah Mengalir dalam TubuhkuFaizal Muhammad Pramudya
172Tanpa LapisanR. Selyna
173Wamena dan Senyuman Fajar yang BaruMuhamad Zakki Farhan Baiquni
174Yang Belum KutemukanResky Aldi Saputrah
175Sebatang HariIfan Peng
176Luruh Dalam Dosa dan UsiaS.A. Awalia Ramadhani
177Melodi Penuh ArtiAqiilah Zulfa Rahmania
178Papaku Tolong Lihat Para PenjilatEddy S. Marizar
179Simfoni Malam Dendang RembulanIndra Supriyatna 
180Samudra ŚūnyaLailatul Mafazah
181Sebelum Segalanya TerlambatSabian Sarasati
182SomniumLarasati Putri Ariani
183SundaraMaura Aretha
184ViviaPanda Riffany
185SymptomistPaskal Prasetyo
186BungsuMaria Stella Nelly Turnip
187Maluku pada NegerikuHalil Subagiono
188DitundaDwiana Rachmawati
189HidupFrederika Sindiana Janggu
190Antara Aku dan MungkinNadine Ester Rajagukguk
191Kanvas Masa DepanRanti Turnip 
192Hakikat Makhluk FanaLalu Izzurrahman Assyarazi Hafidz
193CobalahMaria Gabriela Salmon
194Kera Padang PasirSamuel Agus Subagiyo
195Tanah Kata, Langit CitaMush’ab
196Asing di Tanah AsingM Isnaldi
197Masa-MasaAres
198Bayang di Ujung SenjaNurul Nafsil Mutmainnah
199MewangiFridaining Ellys Yulisma
200Kapan YaaAisha Salwa Putri Rahmani

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,

Tulis.me

Tentang Tulis.me

Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.