Catatan Juri
Sebagaimana penyelenggaraan sebelumnya, sayembara menulis puisi tulis.me tahun ini pun membagi seluruh puisi yang masuk ke dalam 3 (tiga) kloter. Masing-masing juri memegang satu kloter, artinya masing-masing juri membaca puisi-puisi yang berbeda. Dari tiap kloter yang dipegang, juri (diminta) memilih 100 (seratus) puisi terbaik. Hasilnya: semua juri tak bisa mencapai angka tersebut. Puisi yang layak tak sampai seratus.
Tentu tidak semua peserta mengikuti sayembara dengan semangat kompetitif. Situasi tersebut wajar-wajar saja. Sebagai analogi, sulit membayangkan dalam sebuah lomba lari marathon yang diikuti ribuan orang, semua pesertanya kompetitif sehingga menjelang garis finish ribuan orang itu berjejal-jejal untuk menjadi yang paling dulu sampai. Pemandangan macam begitu tak mungkin terjadi di dunia nyata, meski dapat kita bayangkan terjadi dalam sebuah fiksi spekulatif yang ditulis seorang pengarang yang agak edan dan tak ambil peduli dengan pesan moral.
Semua orang boleh menulis puisi meski tak semua orang bisa menulis puisi. Menulis membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, dan untuk bisa memiliki pengetahuan dan keterampilan orang mesti belajar dan berlatih dalam tempo yang panjang.
Ratusan puisi dalam kloter saya kebanyakan berbicara perilah cinta-(cintaan), suasana malam, kesendirian, langkah-langkah menjalani kehidupan, atau seru-seruan protes. Hampir semua dikerjakan tanpa keterampilan memadai. Saya (cuma) bisa memilih 75 (tujuh puluh lima) puisi, itu pun dengan sekian kompromi.
Setelah semua juri rampung memilih, puisi-puisi unggulan disatukan, lalu semua juri membaca kembali untuk menentukan para pemenang, artinya di tahap kedua ini semua juri membaca puisi-puisi yang sama.
Dalam rapat penentuan pemenang, yang dipimpin dengan efektif dan cermat oleh host kita: Innezdhe Marhaeni, setiap puisi unggulan dibicarakan satu-persatu. Pendapat bisa bersilang arah, meski tetap memiliki irisan.
Setelah sekian argumen, para juri memutuskan puisi “Bertahun-tahun di Hamparan Duka Kita” menjadi Pemenang I (pertama). Puisi ini berbicara tentang kaum eksil. Dengan menggunakan pronomina orang kedua, sang narator merajut hubungan dekat dengan subjeknya. Siasat ini membuat simpati dan empati jadi lebih dalam, sebab sang narator sekaligus meletakkan dirinya di posisi pembaca. Jukstaposisi dimainkan dengan apik, silangan antara yang konkrit dan yang abstrak membuat pengalaman jadi otentik (musim yang gigil, dingin di sendi-sendi hidupmu yang lelah; suara lonceng menyeka hatimu yang basah). Puisi ini juga memberi pemaknaan bahwa menjadi seorang eksil bukan cuma berurusan dengan jarak tempat, melainkan juga dengan situasi mental. Ia mengartikulasikan makna “jarak”, dalam konteks eksil, dengan baris yang tepat: Jauh di ufuk yang tak terpandang. Kata “terpandang’, alih-alih “terlihat”, memberi aras mental bagi situasi sang subjek. Kecuali itu, meski hampir sepenuhnya berisi suara sedih dan lelayu, puisi ini juga tak kurang harapan (Kau memeram keputusasaan dalam kata-kata penuh harap, di hamparan duka, musibah ini milik kita bersama.).
Sebagai Pemenang II (kedua) para juri sepakat memilih puisi “Nausicaä”. Barangkali ini puisi yang paling “otonom”, kecuali bahwa ia meminjam sosok dari Odyssey karya Homer. Otonom dalam hal ini berarti ia tak acuh terhadap komentar sosial, berpaling dari aras sosiologis puisi. Meski begitu, ia berhasil menggerakkan sifat penting puisi, yakni defamiliarisasi, baik dalam baris-barisnya (melalui perangkat jukstaposisi) maupun dalam strukturnya (banyak lapisan atau tikungan yang muncul tiba-tiba). Walau jadi tampak obskur, polanya cukup konsisten dan kode-kode yang dipergunakan tak bergerak sembarangan sehingga aspek komunikasinya tetap terjaga.
Untuk penentuan Pemenang III (ketiga) berlangsung debat agak sengit, sebab kandidatnya lebih dari dua puisi. Setelah membaca dan menimbang kembali, para juri memutuskan puisi “Pikiranku Berlari Terus di Trotoar Kota Ketika Tubuhku Letih Pulang Kerja”. Puisi ini mengambil topik spesifik: suara dari subjek urban yang ditindas kerja. Beragam istilah dari dunia kerja menyelip di antara keluhan putus asa. Topik ini menarik, dan relevan dengan situasi kini. Hanya saja, penulisnya tak cukup sabar menyaring kata untuk memasuki pengalaman lebih dalam. Ada baris yang ambiguitasnya (sebagai satu sifat puisi) tidak kokoh dan bisa tergelincir menjadi inkonsistensi.
Setelah memutuskan tiga pemenang utama, tugas selanjutnya adalah memilih 7 (puisi) untuk melengkapi 10 (sepuluh) besar.
Puisi “Matahari di Punggung Ibu, Bayang di Pundak Bangsa” kami letakkan di urutan keempat. Puisi ini dengan ringan menggunakan “Ibu”, beserta kerja-kerja domestiknya, sebagai metafora kritis bagi makna-makna yang telanjur diamini mentah-mentah, perihal bangsa, sejarah, kemerdekaan, dan seterusnya. Paralelisasi ini melahirkan lontaran-lontaran pertanyaan yang menggugah kesadaran. Alusi atas satu hadits perihal Ibu, dengan membongkar konteks agamanya dan meluaskan spektrumnya—bukan cuma posisi Ibu dengan Ayah, melainkan juga dengan tanah dan pemimpin—adalah suara yang penting di tengah gebalau krisis belakangan ini.
Puisi “Pujian untuk Pujaan” kami letakkan di posisi kelima. Gaya dan tema puisi ini bisa disebut “klasik”; pukau dari perasaan Cinta yang melimpah-limpah. Meski ungkapan-ungkapan dalam puisi ini sudah “sewajarnya” dipergunakan dalam puisi bergaya seperti itu, ia tetap menunjukkan pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Di posisi keenam kami memilih puisi “Menumbuhkan Bahasa”. Puisi ini imajinatif, ditulis dengan semangat parodi, perihal kekacauan bahasa (seperti kisah Menara Babel). Meski begitu, sebagai puisi, ia luber-tumpah, dan kadang menggunakan ungkapan-ungkapan berlebihan.
Di posisi ketujuh ada puisi “Sapiens Menggugat”, suatu gugatan sarkas atas isu Palestina, berkait-kelindan dengan soal mitos, agama, sains, dan teknologi. Watak sarkas tak membuat ungkapan-ungkapannya jadi klise, sebab penulisnya cukup cekatan menjahit tanda demi tanda.
Puisi “Rumah di Hulu” kami letakkan di posisi kedelapan. Puisi ini menghadirkan selintas pemandangan dalam satu momen di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Sebagai pemandangan, ia liris dan cukup jernih. Hanya saja, karena di dalam pemandangan itu ada peristiwa, ia terlalu ringkas sehingga tak sempat memberi gema panjang.
Dua puisi terakhir dalam urutan sepuluh besar adalah puisi “Berbenah” dan “Laki-Laki Biasa di Bulan Desember”. “Berbenah” berkesan personal, perihal situasi mental sang subjek. Ia mem-benda-kan emosi-emosi abstrak sehingga bisa mulus masuk ke struktur peristiwa merapikan rumah. Meski personal, pengolahan emosinya masih umum, belum mencapai pengalaman otentik. Sementara “Laki-Laki Biasa di Bulan Desember” berwatak balada (atau setengah balada). Meski punya potensi, penggarapannya tanggung dan terburu-buru (kata-kata tak disaring dengan baik), sehingga pembaca kehilangan tautan dengan sang subjek.
Demikianlah urutan para pemenang, sekaligus sepuluh besar.
Setiap usai melaksanakan penjurian saya kerap merenung-renung. Dalam renungan itu, saya sering teringat pada banyak hal di dunia ini yang nyaris tak bisa dipahami sepenuhnya. Sebagai misal, penulis seperti Milan Kundera seumur hidupnya tak pernah mendapat hadiah Nobel, sementara penulis yang jauh muncul belakangan, misalnya Han Kang, sudah mendapat hadiah tersebut. Itu adalah bagian rahasia dari kehidupan. Meski begitu, ada hal-hal lain yang bisa direnungkan, terutama untuk diri saya yang fakir ini. Orang mestinya tidak menunggu kesempatan datang baru kemudian bersiap-siap, orang mestinya bersiap-siap terlebih dahulu, sehingga begitu kesempatan datang ia sudah benar-benar siap, mana tahu bagian rahasia dari kehidupan berpihak kepadanya—meski saya tetap tak bisa membayangkan di dunia nyata ada ribuan pelari marathon kompetitif berjejal-jejal di garis finish.*
Kiki Sulistyo
Banyak para penggemar puisi menganggap bahwa puisi adalah curahan perasaan yang begitu saja, seadanya, biasa dan mudah dimengerti oleh orang lain, sehingga apapun yang dipikirkan saat itu juga adalah ilham yang harius segera dituliskan. Sehingga jika dalam momentum itu, tertulis tiga lembar kalimat yang tersusun rapi dengan bentuk yang sudah dikenali sebagai puisi, dengan bait dan baris. Maka dia menganggap bahwa tulisan itu adalah puisi.
Padahal kita tahu, suara penyair adalah suara kenabian. Di dalam setiap kata dan kalimat yang dituliskan, dia bukan hasil dari peristiwa karang mengarang, tetapi ada sebuah dunia besar, tentang perjalanan hidup, tentang peristiwa, pengalaman, pengetahuan dan imajinasi yang mengendap begitu lama sehingga tempat yang disebut hati ataupun perasaan yang menjadi tampungan itu semua, menjelma telaga bening yang memberikan mata air, yang akan menjadi nadi, debaran dada dan detakan jantung kehidupan, dengan segenap nilai yang dimilikinya, jika terminum oleh orang lain, dia akan menjadi cahaya yang bersinar. Tentu saja untuk mencapai itu semua dibutuhkan keahlian berbahasa. Penyair adalah seseorang yang mampu menarikan kalimat, meliukkan kata, memukul dengan suasana dan membuat kegaduhan semesta.
Proses yang panjang itu, nyaris dilupakan oleh genzi sekarang ini, dalam menuliskan puisi, yang mereka pentingkan adalah, berkata dan berkata. Menuliskan dengan bentuk, dan susunan kata kalimat seperti puisi, dan kemudian selesai. Bahkan mereka mungkin tidak mengenali apa yang mereka tuliskan. Mereka hanya ingin tampil, menjadi ada dan menciptakan sesuatu yang akan membuat orang lain tertarik untuk memandangnya meski sejenak saja dan kemudian lupa. Sebuah ekspresi yang barangkali mereka yakini sebagai sebuah nilai, yang akan sanggup ditangkap oleh pembacanya, sebagai mahakarya.
Namun untuk mencapai itu semua, seseorang memerlukan daya cinta yang luar biasa pada puisi. Genzi telah mencoba mengakrabi dan menjadikan puisi sebagai lengan kuat untuk mencatat serta berteguh hati untuk terus menabuh setiap kata-kata yang dipahami, dengan keyakinan cinta untuk tetap mengakrabinya dengan luar biasa, apapun yang akan terjadi.
Selamat untuk semua puisi yang terpilih, satu pintu sudah dibuka dan siapkan puisi-puisi selanjutnya untuk hadir dengan daya pikat yang lebih memesona.
Evi Idawati
Membaca ratusan puisi yang dikirimkan oleh panitia jelas merupakan pekerjaan ekstra—melelahkan, ya, tetapi juga memberi harapan. Banyaknya karya yang masuk menandakan bahwa puisi masih menjadi medium pilihan bagi banyak penulis untuk mengeksplorasi spektrum perasaan dan pengalaman dalam medium bahasa. Ini, setidaknya, adalah pertanda baik.
Namun, sebagaimana hidup, tidak semua pertanda baik berakhir pada hasil yang baik pula.
Meski tema “bebas” telah diberikan sepenuhnya kepada para peserta—dengan harapan mereka dapat menulis dari kedalaman gagasan dan pengalaman masing-masing—sayangnya, kebebasan ini justru terasa belum sepenuhnya dimaknai. Banyak puisi yang masih terjebak dalam pengolahan tema yang klise dan dangkal: cinta yang sebatas kata manis, kritik sosial yang lebih condong pada kemarahan tanpa refleksi, hingga representasi individu yang terdengar seperti kesepian yang berulang, bukan kemandirian yang utuh.
Bukan berarti puisi tidak boleh berbicara tentang cinta, kemarahan, atau kesendirian—justru sebaliknya. Tema-tema ini bisa menjadi ladang yang subur bila digarap dengan kepekaan bahasa, perspektif yang segar, dan keberanian menantang bentuk maupun gagasan lama.
Di zaman ketika hampir setiap aspek kehidupan tak luput dari tafsir politis—termasuk yang paling personal sekalipun—bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia menjelma menjadi manifestasi pengetahuan: mencerminkan bagaimana seseorang memahami dunia, sejarah, dan dirinya sendiri. Gaya puitika, pilihan diksi, hingga bentuk-bentuk ekspresi paling halus dalam puisi, semuanya mengandung jejak cara berpikir, sistem nilai, dan ideologi si penulis.
Maka sebagai penulis, kita memikul tanggung jawab untuk tidak menerima begitu saja apa-apa yang telah dianggap mapan. Sejarah, cinta, bahasa, peran ibu, sistem kerja, narasi sosial, bahkan pengetahuan itu sendiri—semuanya layak untuk dipertanyakan, ditelusuri kembali asal-usulnya, dan dibongkar untuk ditemukan kemungkinan-kemungkinan baru.
Dari proses itulah puisi menemukan daya gugatnya. Ia bukan sekadar wadah curahan rasa, melainkan medan tafsir dan negosiasi makna. Dengan mengolah bahasa secara sadar, kita dapat menawarkan sudut pandang yang tak dominan, membuka ruang imajinasi yang subversif, dan mengundang pembaca untuk ikut terlibat dalam pengalaman puitis yang menyentuh baik nalar maupun emosi. Karya yang berangkat dari kesadaran semacam itu tidak hanya bicara kepada zamannya, tetapi juga melampauinya—meninggalkan gema panjang di benak mereka yang membacanya.
Setelah melalui proses kurasi yang cukup panjang dan diskusi yang tak kalah intens, para juri akhirnya menyepakati beberapa puisi yang berhasil mencuri perhatian kami. Bagi saya pribadi, puisi-puisi ini tidak hanya meninggalkan kesan sesaat, tetapi menggema jauh setelah dibaca—menggugah nalar, membangkitkan empati, dan memancing perenungan.
“Bertahun-tahun, di Hamparan Duka Kita” terpilih sebagai Juara 1, karena dengan keberaniannya mengangkat tema yang jarang disentuh: eksil dan pengasingan oleh negara. Ia mengupas lapisan-lapisan ketahanan individu melalui sudut pandang orang kedua—sebuah pilihan yang jarang digunakan namun sangat efektif dalam mengajak pembaca turut serta mengalami. Sejarah dan identitas kewarganegaraan dalam puisi ini tak diterima sebagai fakta tetap, melainkan dipertanyakan, digugat, dan dibayangkan kembali. Tawaran semacam ini sangatlah penting di tengah narasi dominan yang kerap mengaburkan pengalaman pinggiran.
“Nausicaä”, sebagai Juara 2, menghadirkan kekuatan bahasa puitika yang disiplin dan terstruktur. Di tengah citra-citra yang kaya dan atmosfer yang nyaris sinematik, penulis berhasil membangun sebuah dunia dengan referensi yang lentur—apakah ia Homer atau Ghibli—namun tetap berdiri kokoh dalam keutuhan puitisnya. Imajinasi dan rancang bangun puisinya menunjukkan kepekaan terhadap bentuk dan isi secara bersamaan.
“Pikiranku Berlari Terus di Trotoar Kota Ketika Tubuhku Letih Pulang Kerja” menjadi Juara 3 karena ia menyuarakan kepenatan urban dengan jujur dan subtil. Bahasa korporat yang digunakan tidak jatuh pada gimmick atau stereotip, melainkan justru menyampaikan ironi dan beban generasional dengan kesadaran yang matang. Dari sini, kita melihat bagaimana pengalaman personal bisa membuka jalur menuju kritik sosial tanpa perlu menjadi nyaring.
Puisi-puisi lainnya—meskipun tidak semuanya mendapat posisi pemenang—telah menunjukkan niat yang besar untuk menyelami bahasa dan makna. Beberapa sudah berada di jalur yang menjanjikan, tinggal menajamkan kepekaan dan keberanian untuk menggali lebih dalam lagi.
Maka bagi yang karyanya belum terpilih, kami tidak melihat itu sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses panjang dalam menempuh jalan kepenyairan. Sebab, menulis puisi bukan perkara menang atau tidak—melainkan cara kita terus belajar mengurai makna, mempertanyakan dunia, dan menyatakan eksistensi.
Dalam kegigihan bermain-main dengan bahasa itulah, puisi akan terus hidup—dan kita ikut hidup di dalamnya.
Raihan Robby
Fasilitas Lomba Digital
Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Semua peserta baik kalah atau menang mendapatkan fasilitas lomba digital. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 16 Juli 2025. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Pengumuman Pemenang
Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Puisi ke-20. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.
Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.
Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-20 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini karena jumlah peserta lebih dari 200 orang.
| Urutan | Judul | Penulis |
| 1 | Bertahun-tahun, di Hamparan Duka Kita | Sapta Arif |
| 2 | Nausicaä | Tegar Perkasa |
| 3 | Pikiranku Berlari Terus di Trotoar Kota Ketika Tubuhku Letih Pulang Kerja | Paulus Catur Wibawa |
| 4 | Matahari di Punggung Ibu, Bayang di Pundak Bangsa | Nurlaila Fadillah |
| 5 | Pujian untuk Pujaan | Edwar Maulana |
| 6 | Menumbuhkan Bahasa | Muhammad Gibrant Aryoseno |
| 7 | Sapiens Menggugat | Galih Agus Santoso |
| 8 | Rumah di Hulu | Febryanchandr |
| 9 | Berbenah | Lulu Almarjan |
| 10 | Laki-laki Biasa di Bulan Desember | Rizki Aditya |
| 11 | Aku adalah Rumah yang sedang Ditinggali Tuhan | Sani Nurliah |
| 12 | Homo Sapiens | Lanaya Quinshaira |
| 13 | Peluru dalam Selendang | Sayyid Muhammad ‘Aziez |
| 14 | Dibesarkan oleh Indomie Goreng dan Ikan Asin | Neni |
| 15 | Kaasstengels | Deni Ristiyan |
| 16 | Pojok Baca | Robi Hidayat |
| 17 | Typical GC 6-28-1 vs Autosew X2000 | Yanto Purwanto |
| 18 | Voltaire | Fathurrozi Nuril Furqon |
| 19 | Perempuan dari Timur | Alexandra Miranda Lopes |
| 20 | Ikrimah, Awan, dan Kulit Kacang | Iman Rabinata |
| 21 | Lomba Tatap Mata | Arya Pangestu Putra Astawa |
| 22 | Gatotkaca Gandrung | Muhammad Maulana Suryo Kusumo |
| 23 | Bucin MaXXX | Galih Agus Santoso |
| 24 | Ijazah di Ruang Tamu | Sayyid Muhammad ‘Aziez |
| 25 | Aham Ksantavyah | Betti Xu |
| 26 | Istana Batu Kali: Ode untuk Sejarah | Bezie Galih Manggala |
| 27 | Heliophobia: Matahari yang Padam dalam Lukisan | Wahdi Anwar |
| 28 | Berjaga sampai Aku Pulas | Puspita Idola Pirsouw |
| 29 | Adelaide | Tegar Perkasa |
| 30 | Rencana Pembunuhan Ibu | Muhammad Iqbal Khoironnahya |
| 31 | Euridice | Daffa Randai |
| 32 | Kutawarkan Sebuah Rumah untuk Kau Tinggali | Herlangga Juniarko |
| 33 | Aku Disematkan Jauh dalam Paru-parumu | Robi Hidayat |
| 34 | Seperempat Abad Balada | Muqtafaiz |
| 35 | Hikayat Mantan | O. Febriano N. Wagur |
| 36 | Kami Masih Menggenggam yang Maha Dekat | Mudri |
| 37 | Kisah Mayangsari dan Penembak Jitu | Reva Ika Ariatna |
| 38 | Potret Kecil Adat Serawai: Pencak, Tari, dan Rejung di Acara Pernikahan | Satria Rizal |
| 39 | Melangkah di Kota Paling Terjal | Eddy S. Marizar |
| 40 | Anatomi Luka | Asrul H.Muridun |
| 41 | Kutipan Stasiun | Ahmad Riza Utama |
| 42 | Senin | Luh Putu Dewi Savitri |
| 43 | Reinkarnasi | Jonathan Susilo Effendi |
| 44 | Ada Kejutan di Hari Ulang Tahun | Herlangga Juniarko |
| 45 | Kucing Mati Meninggalkan Tulang | Nicosolavinsi |
| 46 | Kaca Bengkok di Lorong Sunyi | Aurel Indriani Sidabalok |
| 47 | Tanah yang Menyimpan Nama-nama Kita | Ni Komang Intan Widyaningrum |
| 48 | Cupid Berhamburan | Galih Agus Santoso |
| 49 | Siang Hari di Taman Makam | Susan Humeri Siburian |
| 50 | Karang dan Malang | Dani Sumargo |
| 51 | Tuhan Telah Mati di Waktu Istirahat, Kembali Hidup Setelah Aku Memakinya | Poetra Akbar Alghiffary |
| 52 | Mawar dan Hujan | Angelica Tricia Sarah Siahaan |
| 53 | Cermin-cermin Kerajaan Tengah | Glent Lim |
| 54 | Di Bawah Langit yang Tak Punya Usia | Daffa Randai |
| 55 | Judul Puisinya Adalah Nama Kamu Sendiri | Rizder |
| 56 | Kasihan | Moss |
| 57 | Di Meja Tua Itu | Ewaldo Zalukhu |
| 58 | Alam Lebih Pandai Menyimpan Rahasia | Robi Hidayat |
| 59 | Sepasang Air Keruh dan Ranting Rapuh | Muqtafaiz |
| 60 | Aku Cuma Menulisi Diriku Sendiri | Arafat Nur |
| 61 | Kitab Itu Terlalu Berat untuk Dibaca di Bawah Terik Matahari | Mudri |
| 62 | Bukan Siapa-siapa | Sayyid Muhammad ‘Aziez |
| 63 | Di Festival, Kupikirkan Sebuah Rencana | Herlangga Juniarko |
| 64 | I | Muh. Nasrul Evendi |
| 65 | Kontras Barisan Mantan | Muh. Nasrul Evendi |
| 66 | Rumah Tanpa Jendela | Mochammad Dicky Akbar |
| 67 | Lembaran Katarsis Gadis Psikotik | Devy Rianita Hanifah |
| 68 | Deklarasi Terakhir | Fajrina Geovani |
| 69 | Hakikat Mengenai Sifat Dasar Manusia | Adrian Mailoor |
| 70 | Daun yang Seharusnya Jatuh | Linangkarisma |
| 71 | Di Antara Bayangan dan Sunyi | O. Febriano N. Wagur |
| 72 | Fragmen Pohon Aren | Muh. Nasrul Evendi |
| 73 | Jejak Perjuangan | Khalishah Wijdan Kamilah |
| 74 | Kiai Kampung | Maribali |
| 75 | Gadis yang Memasak Sunyi di Dapurnya | Wahyu Deny Putra |
| 76 | Wasiat Pohon Jati | Puspita Idola Pirsouw |
| 77 | Would You Love Death? | Sabrina Aulia Maulida |
| 78 | Konsekuensi Kealpaan | Altaftazani |
| 79 | Mantra Pembuka: Dari Aspal ke Arah Langit | Alanudin |
| 80 | Amaya | L.Rosenthal |
| 81 | Kampung Halaman: A | Maribali |
| 82 | Ketika Bumi Berputar ke Kiri | Jonathan Susilo Effendi |
| 83 | Jika Aku Adalah Ilmu | Fatma Ariyanti |
| 84 | Aksara Punya Rahasia | Dani Sumargo |
| 85 | Jam 07.02 Lagi | Feroka Putra |
| 86 | Requiem untuk Sang Gelap | Nayla Greenatha Fauzia |
| 87 | Syair Penghujat V | Alif Azazel |
| 88 | Cokro Kusuma | Anta Kuna Lutfi S |
| 89 | Megatruh Selasa Manis | Mila Mursalina |
| 90 | Antara Anak Tangga | Syafa Salsabila |
| 91 | Kepada Palestina, dari Negeri Berlampu Warna-Warni | Arum Suprihatin |
| 92 | Antarah Bin Syaddad | Alaika Nikmatul Maula |
| 93 | Simfoni Raja Ampat; Antara Sebuah Ratapan dan Harapan | Johanes Jordan Maindoka |
| 94 | Bujang Miris Menunjuk Gerimis | Ahmad Zidan Alfarraasy |
| 95 | Sumedang Larang | Azizah Ramadhani Mahendra |
| 96 | Tak Lulus Ujian | Z. Elowen |
| 97 | Jejak-jejak yang Hilang | Kherina Revianti |
| 98 | Makam Majnun | Zya Zura |
| 99 | Lingkaran dengan Pusatnya (0,0) | Ratna Setyaningsih |
| 100 | Dalam Bayang Waktu | Arin |
| 101 | Gairah Masa Lalu | Yazid Ibnu Bashory |
| 102 | Parfum Murahan | Hanung Prabowo |
| 103 | Senyum Terakhir untuk Abi | Ammar Ubaid |
| 104 | Stasiun Terbengkalai | Dokter Pena |
| 105 | LERENG: Antara Surga dan Neraka | Irham Zamzami |
| 106 | Kembara Hampa | M.N Adadinur |
| 107 | Bapak | Tata Oktawandari |
| 108 | Alter Ego | De Lubna Chairani |
| 109 | Cinta Tabung | Gagah Pranaja Sirat |
| 110 | Durasi | Alfa Alfi Aunillah |
| 111 | Kapak Kesadaran Ibrahim | Faqih Muhajir Alhamidy |
| 112 | Tanah Para Nabi yang Hampir Terlupa | Naveena Putri |
| 113 | Terminal Tanpa Pemberhentian | Dokter Pena |
| 114 | Tuts Usang | Mohammad Reihan Haikal |
| 115 | Kidung Jamkos | Oatmilkhans |
| 116 | Melukis Cinta Tanpa Kanvas | R.A.Kinanthi Linggadewi Hayuningtyas |
| 117 | Ruang Kosong | Anisa Rizky |
| 118 | Aku Hancur, Tapi Aku Sampai.. | Wanda Aulia Hanim |
| 119 | Wejangan yang Kuabaikan | Willytonie |
| 120 | Waktu | Mujiyah Utomo |
| 121 | Dua Jendela Tua | Kyanaaa |
| 122 | Anagata | Ukhya |
| 123 | Lokawigna Senandika | Erin Bella Andini |
| 124 | Cinta dalam Dua Koordinat yang tak Sama | Samuel Christian Wijaya |
| 125 | Kesedihan Laut | Roisatul Hidayah |
| 126 | Aku Kira Masih Punya Esok | Sukmawati |
| 127 | Petani dan Negeri yang Lupa | Irfan Hernandez |
| 128 | Biarkan Puan Kembali Utuh | Anggi Vebryan Eka Putri S |
| 129 | Tragedi di Balik Jeruji Besi | Khairul Fajar |
| 130 | Sunyi Bertanya pada Langit | Hanafiah |
| 131 | Marionette | Noel Alexander |
| 132 | Long Distance Religionship | Junaidi Abdilah |
| 133 | Munajat | Aisha Veronica Pasaribu |
| 134 | Partitur | Shulha Nurul Fariha |
| 135 | Aku Serangga Penghuni Malam | Fazri Aldi Nurfadilah |
| 136 | Perjalanan Sang Aktor | Rizder |
| 137 | Dalam Sunyi, Aku Tumbuh | Rosadewiita |
| 138 | Renungan Sang Taiko | Glent Lim |
| 139 | Seorang Pria Bermenung di Teras | Hetrys Jailani |
| 140 | Soledad | Rakih Fahrizal Efendi |
| 141 | Kompas yang tak Percaya Utara | Cindy Tri Handayani |
| 142 | Telaga Jelaga | Yasmina Mufida |
| 143 | Insomnia | Devina Putri Aruma |
| 144 | Berada di Tepian Ilusi | Haruka Reina |
| 145 | Seberkas Angin yang Menyebut Namamu | Muti Zahra Asiva |
| 146 | Surut terbengkalai | I Gusti Ayu Mas Oka Wahyuni |
| 147 | Rubanah Hati | Nadya Salwa Salsabila |
| 148 | Lengkara Dunia | Jundighifari |
| 149 | Berlinang di Pucuk Daun | Wahyu Dimas Nurhermawan |
| 150 | Marapi | Liza Yatmi |
| 151 | Aku yang Tak Pernah Dipilih Langit | Harani Nazila Wirantika |
| 152 | Yang Tak Terucap dalam Doa | R.Nabila Zaty Shakila |
| 153 | Nyanyian Hutan yang Hampir Hilang | Mush’ab |
| 154 | Peradaban Aneh | Andi Fatmayanti |
| 155 | Baut | Reka Azania Ramadani |
| 156 | Perjalanan Raga | Dian Nazaret |
| 157 | Berlalu-Lalang | Lazarus |
| 158 | Pulang | Arumy Alkhaulani Natien |
| 159 | Di Atas Kertas Tipis | Diana Putri |
| 160 | Sembilu Kisah di Balik Kaca | Annisa Zahra Kawitri |
| 161 | Antara Istana dan Kulit Mangga | Kemal Shidqi Anandevhan |
| 162 | Terhenti di Sini | Hafizah Ridatul Aisyi |
| 163 | Temaram Hati | Nada Indira Ramadhani Nasrum |
| 164 | Sebungkus Pilu | Maha Putra |
| 165 | Percakapan Sinting | Marianti |
| 166 | Luka dan Fana | Frederikus Arnol Kewaha |
| 167 | Muse | Feni Prameswati |
| 168 | Persimpangan Malam | Dwika Aryaguna |
| 169 | Semikolon | Luh Ananda Sri Delfi I. |
| 170 | Serunai | Kiki |
| 171 | Sungai Merah Mengalir dalam Tubuhku | Faizal Muhammad Pramudya |
| 172 | Tanpa Lapisan | R. Selyna |
| 173 | Wamena dan Senyuman Fajar yang Baru | Muhamad Zakki Farhan Baiquni |
| 174 | Yang Belum Kutemukan | Resky Aldi Saputrah |
| 175 | Sebatang Hari | Ifan Peng |
| 176 | Luruh Dalam Dosa dan Usia | S.A. Awalia Ramadhani |
| 177 | Melodi Penuh Arti | Aqiilah Zulfa Rahmania |
| 178 | Papaku Tolong Lihat Para Penjilat | Eddy S. Marizar |
| 179 | Simfoni Malam Dendang Rembulan | Indra Supriyatna |
| 180 | Samudra Śūnya | Lailatul Mafazah |
| 181 | Sebelum Segalanya Terlambat | Sabian Sarasati |
| 182 | Somnium | Larasati Putri Ariani |
| 183 | Sundara | Maura Aretha |
| 184 | Vivia | Panda Riffany |
| 185 | Symptomist | Paskal Prasetyo |
| 186 | Bungsu | Maria Stella Nelly Turnip |
| 187 | Maluku pada Negeriku | Halil Subagiono |
| 188 | Ditunda | Dwiana Rachmawati |
| 189 | Hidup | Frederika Sindiana Janggu |
| 190 | Antara Aku dan Mungkin | Nadine Ester Rajagukguk |
| 191 | Kanvas Masa Depan | Ranti Turnip |
| 192 | Hakikat Makhluk Fana | Lalu Izzurrahman Assyarazi Hafidz |
| 193 | Cobalah | Maria Gabriela Salmon |
| 194 | Kera Padang Pasir | Samuel Agus Subagiyo |
| 195 | Tanah Kata, Langit Cita | Mush’ab |
| 196 | Asing di Tanah Asing | M Isnaldi |
| 197 | Masa-Masa | Ares |
| 198 | Bayang di Ujung Senja | Nurul Nafsil Mutmainnah |
| 199 | Mewangi | Fridaining Ellys Yulisma |
| 200 | Kapan Yaa | Aisha Salwa Putri Rahmani |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
