Catatan Juri
Mana yang Ranum, Mana yang Mentah?
(Penjurian di Tengah Tumpukan ‘Buah’)
Sebelum berceloteh pendek entah panjang, saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah mengirimkan karyanya pada lomba cerpen Tulis.me ke-21 ini. Mereka adalah pohon-pohon pilihan yang telah berhasil melahirkan buah. Buah-buah kata, buah-buah pikiran, buah-buah pengalaman, buah-buah ideologi dan intelektualitas.
Sebab, bagaimanapun, cerpen tak ubahnya buah yang hanya lezat disantap manakala sudah ranum. Sebagaimana buah, cerpen ada yang ‘masak pohon’, ada juga yang butuh diperam lebih lama lagi, sampai ia matang dan layak dihidangkan.
Memilih buah matang di antara yang mentah bukan perkara sulit, buah matang akan terlihat dari warnanya, aromanya, maupun tekstur dagingnya. Untuk mengetahui kematangan buah, kita cukup memencet daging buahnya—apakah ia masih keras atau sudah empuk. Untuk mengetahui kematangan buah, kita tak harus menyantap buah itu sampai habis.
Dalam lomba cerpen Tulis.me kali ini, juri harus menilai total ribuan cerpen. Itu pekerjaan yang tidak sulit, tetapi menjadi sedikit rumit, sebab juri berada di tengah tumpukan yang melimpah ruah—bayangkan saja Anda tengah duduk di tengah panenan buah yang belum semuanya matang, dan Anda harus menyisihkan yang matang di antara tumpukan yang mentah, tumpukan yang menggunung, berserak, sehingga kadang beberapa yang matang tertutupi yang mentah. Juri membutuhkan waktu cukup panjang berada di tengah tumpukan buah (karya) yang luar biasa itu.
Rata-rata naskah mentah di sini ditandai dengan alpanya penggunaan tanda baca, peletakan huruf kapital, serta ejaan yang suka-suka. Sejak pembacaan kalimat pertama pada paragraf pertama, naskah mentah akan membawa dirinya sendiri ke pintu eliminasi. Andai kata satu atau dua kesalahan itu ditemukan pada naskah yang (tampak) menjanjikan, misal, penggunaan ‘di’ yang kurang tepat, atau tanda baca yang keseleo, mungkin itu ketidaksengajaan. Tetapi, tidak ada yang seperti itu. Naskah dengan penggunaan ‘di’ yang kurang tepat biasanya juga melakukan kesalahan dalam peletakan ejaan, gaya tutur mereka juga masih terlalu alami, sealami percakapan orang di pasar-pasar, menanyakan kabar dan harga bahan pokok. Semua kata dituangkan tanpa mempertimbangkan mana yang lebih cocok dinarasikan atau didialogkan. Orang-orang bertemu mengucap salam dan menjawab salam, bertanya kabar—membahas sesuatu yang tidak ada sumbangsihnya terhadap alur cerita, bertebaran dalam naskah dan memperpanjang halaman yang tidak selesai dilahap itu tadi. Begitulah, naskah mentah selalu sepaket dengan naskah yang tidak pernah habis dilahap.
Berkenaan model penceritaan, banyak sekali tumpukan yang memulai kisah dengan narasi mentari pagi yang bersinar cerah dan ayam jantan yang berkokok, atau ala-ala dongeng lawas, hiduplah (sekali lagi: hiduplah) sebuah keluarga sederhana di sebuah desa… Nama-nama yang disematkan sebagai tokoh pun cenderung panjang dengan konsonan rangkap, orang bilang, khas nama-nama gen Z. Tema-tema kehidupan pesantren atau romansa ‘Cinta-Rangga’ atau ‘Anak desa yang menggapai asa’ cukup banyak ditemukan di tengah tumpukan. Hal bagus dari naskah-naskah tersebut adalah ia selesai ditulis, dan tidak menutup kemungkinan naskah-naskah tersebut akan menjadi naskah yang matang dan layak disantap setelah diperam sedikit lama dan dengan cara yang tepat.
Pada akhirnya, juri mengendus buah-buah naskah yang cukup ranum di tengah tumpukan. Naskah-naskah tersebut (tentu saja) sudah selesai dengan urusan tanda baca atau huruf kapital atau ejaan. Naskah-naskah tersebut adalah paket buah yang tampaknya telah ‘masak pohon’. Naskah-naskah tersebut mempunyai ciri khas rasa yang kuat, bahasa sederhana yang mengalir, atau dengan limpahan metafora yang tidak mengkhianati makna. Hampir sebagian besar naskah-naskah tersebut mengangkat isu-isu lokal yang cukup penting (dan sungguh tepat dengan isu-isu yang kembali mencuat akhir-akhir ini, sebagai, semacam sindiran ulang), perihal bencana alam, perempuan, kearifan-kearifan yang tidak diindahkan, serta keserakahan anak manusia yang tidak ada ujungnya.
Dalam cerpen ‘Nyi Samin dan Mata Air Terakhir’, alam digambarkan sebagai perempuan asing (dengan mata airnya) yang dimusuhi oleh orang-orang yang mengaku paling beragama, sehingga ketika alam itu lenyap, mereka berbondong-bondong mendatanginya—sebab butuh. Tak jauh dengan cerpen ‘Nyi Samin dan Mata Air Terakhir’, cerpen ‘Deru Cuaca Buruk di Telinga Yosdomi’ dan ‘Dalam Udara Payau’ menyinggung keserakan manusia yang tidak tahan dan melihat alam yang diam, alam yang tampak seperti pundi-pundi yang bisa dikeruk dan masuk perut. Cerpen ‘Serigala di Rahim Ibu’ dan ‘Jelujur’ keduanya berbicara tentang perempuan di tengah kondisi sosial yang tidak stabil. Cerpen ‘Serigala di Rahim Ibu’ juga menyentuh kondisi alam yang terus berubah sebab keegoisan manusia.
Cerpen-cerpen tersebut merupakan bukti, bahwa naskah-naskah matang selalu sepaket dengan ‘daging buah’ yang dibawanya, lezat disantap dan memberi gizi bagi kehidupan yang kurus kerontang. Dan satu hal yang rasanya perlu ditegaskan ulang, bahwa naskah-naskah yang belum matang bukan berarti tidak enak dan harus dibuang. Masalahnya hanya satu: belum matang. Itu seperti buah keras yang hanya butuh diperam sedikit lama dan dengan cara yang tepat, supaya ranum dan harum, tidak hanya nikmat di santap, tapi juga memberi gizi bagi kehidupan.
Mashdar Zainal
Cerita pendek yang ikut dalam kompetisi kali ini sangat beragam. Dari tema, gaya penulisan, dan tingkat kematangan tulisan/penulis. Kompetisi ini memberi gambaran bahwa dunia kepenulisan sesungguhnya terus bergerak dinamis.
Tema yang beragam mulai dari pencarian identitas diri, keluarga, persahabatan, romansa, kritik sosial, lokalitas, hingga cerita-cerita eksperimental, memperlihatkan fokus penulis dan tingkat kematangannya. Cerita dengan tema kritik sosial menunjukkan kepekaan, daya kritik, dan kesadaran penulis terhadap isu-isu penting. Cerita eksperimental juga menunjukkan, peserta mencari siasat untuk menulis dengan model penceritaan yang berbeda. Peserta mencoba bentuk, struktur, bahasa, atau cara bercerita yang baru, unik, dan sering kali tidak biasa.
Tingkat kematangan tulisan sangat bervariasi, beberapa sudah stabil mengelola konflik dan mengatur ritme cerita, sebagian lain masih meraba alur dan dialog. Dari hasil pembacaan cerpen yang masuk, kekuatan yang menonjol adalah keberanian bercerita, variasi penceritaan, dan kekuatan unsur lokalitas. Tidak melulu Jakarta, secara setting tempat ini juga kekhasan dari peserta. Semuanya bersandar pada kata keberagaman—dan Tulis.me mampu menghimpun semuanya dalam kompetisi ini.
Pada akhirnya kompetisi ini memilih beberapa cerita pendek sebagai pemenang. Ini dilakukan setelah proses pembacaan, kurasi, dan rapat bersama. Untuk yang peserta yang tak ada dalam daftar pemenang, kami berharap untuk tak berhenti menulis. Belajarlah dari banyak buku—belajarlah menemukan caramu bercerita.
Ama Gaspar
Fasilitas Lomba
Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 21 Desember 2025. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Ikuti lomba menulis ke-22 karena semua peserta lomba ke-21 ini mendapatkan voucer diskon 20%.
Pengumuman Pemenang
Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-21. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.
Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.
Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-21 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.
| Peringkat | Judul Cerpen | Nama Penulis |
| 1 | Nyi Samin dan Mata Air Terakhir | Linggar Rimbawati |
| 2 | Dalam Udara Payau | Tjak S Parlan |
| 3 | Deru Cuaca Buruk di Telinga Yosdomi | Afryantho Keyn |
| 4 | Serigala di Rahim Ibu | Sulfiza Ariska |
| 5 | Jelujur | Afi |
| 6 | Rindu Wandiu | Annesanurul |
| 7 | Maobi dan Mya | Sayyidunya |
| 8 | Batu dan Belanga | Dewanto Amin Sadono |
| 9 | Perempuan yang Melahirkan Bayangan | Jenny Seputro |
| 10 | Hidayat Berhenti Menjadi Anak Saleh | Afifa Ayu Puspandhari |
| 11 | Para Malaikat Jangan Lupa Menyetrika Sayap | Penanti Izrail |
| 12 | Maukah Kau Mengucapkan Selamat Datang pada Keikhlasan | Dini Ridwan |
| 13 | Lelaki yang Gagal Menjadi Babi | Sulfiza Ariska |
| 14 | Rahasia Siti | Gerimis Kecil |
| 15 | Pagi yang Menemukanmu | Siti Zaenab |
| 16 | Membelokkan Takdir | Nada Salsabila Pradhani |
| 17 | Lebih Berbahaya dari Pisau | Dani Sumargo |
| 18 | Benih | Wahyu Ramadzana |
| 19 | Perpustakaan yang Membaca Balik | SL Verde |
| 20 | Peluru Sunyi | Nikolas Ryan |
| 21 | Sampai Maut Memisahkan | Petrus Setiawan |
| 22 | Ketika Hutan Membisu, Malam pun Membungkam | Almira Nayla Wihendra |
| 23 | Kain Saraswati | Arina Sabila Rahmatika |
| 24 | Mele dan Percakapan di Stasiun | Sharanza |
| 25 | Kopi di Atas Kuburan | Sihar Emry |
| 26 | Asal-Usul Gregor Samsa | Zaky Mutahajid |
| 27 | Jam Dinding Stasiun Suryawening | Dwi Febriyani |
| 28 | Titian di Batas Adat | Wahyu Mho |
| 29 | Tuhan Datang Lewat Seekor Kucing | Sanjosua Telaumbanua |
| 30 | Seonggok Tanah | Muhammad Naufal Avi Cenna |
| 31 | Hujan, Ceri dan Buku Merah | Achmad Ibnu Ibad |
| 32 | Sasmita | Nuzullu Ummullia Mubin |
| 33 | Guru Tuo | Joni Sadarlah Halawa |
| 34 | Laksmi Hilang, Tapi Bukan Diculik | Rachma Diani |
| 35 | Code Red Alert | A. Nydea |
| 36 | Kupon Kebahagiaan | Martina Lestari |
| 37 | Bertegang | Muhammad Al’Aziz |
| 38 | Setan-Setan Desa | Ade Mulyono |
| 39 | Bolehkah Kupinjam Cerminmu? | Adella Candrawati Putri |
| 40 | Kontrak Tinta dan Darah | Bara Kaori |
| 41 | Arkais Waktu dan Batas yang Teguh | Sri Hartati |
| 42 | Pengarang yang Kehilangan Ide Cerita | Hermawan Aksan |
| 43 | Perempuan yang Menanam Kabut | Afifah Nabil Hasna Aisy |
| 44 | Kematian Menulis Surat Pengunduran Diri | Kristiana Kovalevsky Sitepu |
| 45 | Berbagi Sarang | Ivonne Martin |
| 46 | Ruqyah | Reja Fahleza |
| 47 | Anotasi | Namira Salsabila |
| 48 | Sadar | Hadyan Aindra |
| 49 | Api dari Sumur Hitam | T. S. Darkvale |
| 50 | Selamat Pagi | Daffa Putra Fitrawan |
| 51 | Harta Karun Pulau Kumbang | Magdalena Dwi Septriany |
| 52 | Suara Jiwa | Lisa Handayani |
| 53 | Majar Negeri Munafik | Iza Raja Gandi |
| 54 | 3 Wajah Pengalihan | Alma Nadia Anwar |
| 55 | Pembuat Wayang yang Menghilang | Muhammad Ibrahim |
| 56 | Rendang Buatan Amak | Lunetta Sahasika N. |
| 57 | Dari Langit Geneva Tanpa Kata | Alfarisy |
| 58 | Devaryana | Gabriel |
| 59 | Saya Adalah Gadis Pemain Ludruk Itu… | Christina Budi Probowati |
| 60 | Seorang Perempuan yang Menyusuri Sungai Sendirian | Daruz Armedian |
| 61 | Sesat | Faza Adzik Tamala |
| 62 | Padi Terakhir di Senja Hari | Hotramaida Munthe |
| 63 | Duri-Duri dalam Kepala | Moh. Tsabit Husain |
| 64 | Rahasia Topeng Makyong | Andi Nazia Syaquilla Putri |
| 65 | Gagak Maya | Faldha Pebrianti Pangke |
| 66 | Masjid di Atas Bambu | Miftahul ‘Alam Wijaya |
| 67 | Air Mata di Altar Pernikahan | Lamsatahi Manalu |
| 68 | Sisa Cahaya di Tanah Bekas Api | Evlyn Lydia |
| 69 | Awal Era Pelarian | Sinaga Kevin Allan |
| 70 | Tuhan Menyapa Lewat Suara Tukang Roti | Karin Adzka Isfahany |
| 71 | Secarik Kain dan Sesosok Malaikat | Anqiyaa A. |
| 72 | Kereta Orbit | Yasmine Amelia Jatnika |
| 73 | Spot Terbaik | Harveyamor |
| 74 | Sebelum Bus Terakhir Datang | Maria Anggriyani Putri |
| 75 | Surat dari Den Haag | Ammar Banneno Putra |
| 76 | Tandak Mega Wulung | Essenza |
| 77 | Danau Gayatri | Dyah Ayu Anggara Shavitri |
| 78 | Doa yang Terselip di Kantong Plastik | Barack Mutsanna |
| 79 | Rantai ∞ Hidup | Zya Zura |
| 80 | Apapanditan Darpayodha | Aghni Khoirica |
| 81 | Penculikan Keadilan | Nayla Putri Amelia |
| 82 | Meril | Galih Agus Santoso |
| 83 | Minggat | Farah Shinta |
| 84 | Alasan yang Tepat untuk Menjadi Penjaga Makam | Fakhrisya Zalili Sailan |
| 85 | Penanti Izrail | Penanti Izrail |
| 86 | Kabut Gelap | Tegsa Teguh Satriyo |
| 87 | Balada Haji Baha dan Habib Thoriq | Arie Fajar Rofian |
| 88 | Calalai | Hamran Sunu |
| 89 | Negeri Tanpa Hujan | Binti Miftakhun Nikmah |
| 90 | Epilog Ayah | Muhammad Irwan Aprialdy |
| 91 | Lalu, Siapa yang Gila di Sini? | Diana |
| 92 | Piano Man | Fatima Rugaya Tamzil |
| 93 | Kabel Nadi | Syarahil Ashidqi |
| 94 | Koridor 1 | Wahyu Hidayat |
| 95 | Frekuensi 103.7 | Nashabta Adzra A |
| 96 | Kisah Masa Depan | Fenny Riawan |
| 97 | Siapa Ia? | Lily Sofiasl |
| 98 | Hikayat Bunga | Muhammad Fathi Izzuddin Adli |
| 99 | The Dawn of Eliora | Elistrasika |
| 100 | Mata Kaca | C. Amalia |
| 101 | Kota Tikus | Sulistyani |
| 102 | Darah | Rizky Pahlawan |
| 103 | Mandara | Wahyu Ramadzana |
| 104 | Evolusi Pohon: Yang Terbenam dalam Baja Nirkarat | Rani Ramdayani |
| 105 | Hunkwe | Walid Hakim |
| 106 | Kambang, Bunga Kampung Tumbang Lahi | Retno Achmad Faisal |
| 107 | Sebelum Kain Itu Dilipat | Erika Windy Astari |
| 108 | Malam Ini, Kita Kalah | RA Rahma |
| 109 | Mengalahkan Naga | Wb |
| 110 | Karantina, 1952 | Ode Ishak |
| 111 | Melayat | Hana Carolina Elisabeth Farneubun |
| 112 | Malam | Yudistira Adi Nugraha |
| 113 | Kotak Merah | Ayu Nuralifa Ramadhanti |
| 114 | Akal Budi | David Dharma Huang |
| 115 | Kedamaian Palsu | Jordi H. Saputra |
| 116 | Wowo | Ifat Fatimah |
| 117 | Merpati di Kaki Langit | Armiyati Lapu’ |
| 118 | Bidadari 999 Sayap | Cynthia Marilyn Sitompul |
| 119 | Perbatasan | Athari anhar arrasyad |
| 120 | Bayangan di Balik Kaca | Hesa Flamak |
| 121 | Isyarat di Kelingking | Herlangga Juniarko |
| 122 | Andai Aku Bisa Membunuh | Agnes Novianti |
| 123 | Perempuan Pemenang | Thera Febrika Nur Fajri |
| 124 | Anak Terakhir dari Uefrus | Johan Stones |
| 125 | Sisa Cahaya di Terminal Sindang Kasih | Septiana Ike P |
| 126 | Sunyi Menjerat Meliora | Aisyah Sakhi Belva Afifah |
| 127 | Ujung Waktu dan Kita | Kayla Jessica Widjaksana |
| 128 | Manusia Memang Busuk | Grace Imelda |
| 129 | Teror Aul Siluman Anjing | Adriansyah Subekti |
| 130 | Kraaak!!! | Reni Andriyani |
| 131 | Kromatika Karma | SwaraLekha |
| 132 | Langit di Atas Rumah Kayu | Muqoyyid Dinillah Al-Jawwad |
| 133 | Manusia-Manusia Jahat | Muhammad Deedat Asadel |
| 134 | Gulali Puma | Retno Wahyuni |
| 135 | Melestarikan Laki-Laki | Salwa Hamidah |
| 136 | Harmoni Lima Nada | Fira Fibriana |
| 137 | Tembang dari Balik Batu Nisan | Intan Tika Sari |
| 138 | Jendela di Sudut Kota | Elkaza Noyu |
| 139 | Surat yang Tak Pernah Terbalas | Abel Cz |
| 140 | Sersan Zelda | Hifni Ilmy Muhalla |
| 141 | The Trail of Hiberis | Anisaul Ulya |
| 142 | Ikan Bawel | bngxxtd |
| 143 | Sindrom | Love Melody Goesnov |
| 144 | Skenario Tidak Tertulis | Nisrina Mahardhika Bahri |
| 145 | White Camellian | Adsilla Khoirunnisa |
| 146 | Serpihan Rumah Kecil Allah | Pascalis Adian Agung |
| 147 | Buku Ajaib | Faiq Ali Imran Hutagaol |
| 148 | Jalur Akal Sehat dan Tiga Detik yang Hampa | Elvayanti Tammelle |
| 149 | Kinaki | Yuna Anara |
| 150 | Kursi di Taman Kota | Honey Zefanya Florida Batubara |
| 151 | Cahaya di Tanduk Kecil | Benny Kusuma |
| 152 | Aates: Kebangkitan Terakhir | Nirmala Riamintarsih |
| 153 | Perempuan Buta Penjual Mawar Kelabu | Palris Jaya |
| 154 | Biola Misterius | Isro Abdan Syakuro |
| 155 | Lilin di Ruang Tanpa Jendela | Priatmoko |
| 156 | Match | Jiro Danusastro |
| 157 | Obat Tidur | Nurul Azuroh |
| 158 | Bahasa Cinta yang Berbeda | Mutia Anjani |
| 159 | Aku Melihat Dia Mati Perlahan | Anggestiara Madona |
| 160 | Abadi dalam Kanvas | Amelia Sadina |
| 161 | Pria yang Kotor | Eva Nurmaya |
| 162 | Bahkan Iblis Pun Menolak | Krismi Tariuni |
| 163 | Dinginnya Retakan Dinding | Sherly Luthfia Rosa |
| 164 | Penghuni di Balik Dinding | Anggun Marharani |
| 165 | Kain yang Belajar Menyatu | Upi |
| 166 | Akhir di 4.19 | Fidyansyah Nur’aidil Kusditra |
| 167 | My Dream | Rika Marlyana |
| 168 | Andai Perang ini Tak Pernah Terjadi | Satrio Daffa Pamedar |
| 169 | Silent Vow | Aurelia Aurita |
| 170 | Bayangan di Balik Hutan Merapi | Christabel Angelina |
| 171 | Azhar Malik dan Operasi di Tanah Arab | Mahrin Afia Zara |
| 172 | Loteng yang Tak Pernah Kosong | Ivana Azril |
| 173 | Air yang Mengingat Namanya | Safana Az Zahra |
| 174 | Labirin di Alam Bawah Sadar | Anggi Anggraeni |
| 175 | Midnight Escape | Akhmad Fikri |
| 176 | Algoritma Ayah | Muhamad Muchtar Nawawi |
| 177 | Falling in Uluwatu | Khayalancha |
| 178 | Obsidian | Nabila Sulcha |
| 179 | Paus Terdampar | Afifah Mellia Hafizh |
| 180 | No Return | Veryl Inlia |
| 181 | Horologi dengan Koleksinya | Mayesa Laiqa |
| 182 | Bargain | Sevelosa |
| 183 | No Regret | Ghoida Syafiq Amalia |
| 184 | Mukena untuk Emak | Bin Murarka |
| 185 | Akan Kubunuh Gagak Ini dengan Batinku | Aqila Ramadhani |
| 186 | Resep Gulai Ikan Asin | Arunika Nindia |
| 187 | Boneka Beruang | Ayel |
| 188 | Mayat | Mustofa |
| 189 | Kisah Sang Pemburu | Yuni wijiyanti |
| 190 | Mawar Hitam | Darren Justin Lee |
| 191 | Trembesi Berdarah | Shofia F. Zahra |
| 192 | Ingatlah Aku sebagai Kucing | Angelina Dwi Santi Zega |
| 193 | Tukimin dan Tanah yang Menolak Lupa | MaHa Mangkudilaga |
| 194 | Akhir dari Imperium Curut Khan | Anwar Syukri |
| 195 | Toki No Takera | Chiara Dewi Chatlina |
| 196 | Jejak Hitam di Bumi Timur | Budianto Sutrisno |
| 197 | Jeda Waktu di Kamar Binar | Ilana Ison |
| 198 | For the Next After Us | Raffi Ahmad Zaelani |
| 199 | Surat-Surat dari Organ Tubuh Luh Sari | Anggi Gayatri Purba |
| 200 | Pelat #404 | Alicia Sharon Josephine |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
