Catatan Juri
Di Antara Cerita yang Belum Selesai
Cerita-cerita yang kami baca, menawarkan beragam tema dengan keunikannya masing-masing. Berpindah dari satu cerita ke cerita lain memberikan tantangan tersendiri dalam menyelami kekuatan tiap cerita.
Setiap cerpen datang dengan dunianya sendiri, ada yang membangun atmosfer perlahan lewat detail kecil yang menumpuk, ada yang langsung melempar pembaca ke tengah konflik tanpa basa-basi. Perbedaan cara masuk ini saja sudah mengajarkan banyak hal: bahwa tidak ada satu pintu yang benar menuju sebuah cerita, hanya pintu yang tepat untuk cerita itu.
Yang berulang kali menjadi titik pembeda antara cerpen yang berhasil dan yang belum adalah kepercayaan pada pembaca. Cerpen yang kuat cenderung menahan diri, untuk tidak menjelaskan apa yang sudah ditunjukkan, tidak meramaikan apa yang justru butuh keheningan. Sebaliknya, cerpen yang masih dalam perjalanan sering kali tergoda untuk memastikan pembacanya mengerti, hingga lupa bahwa ketidakpastian adalah bagian dari pengalaman membaca yang sesungguhnya.
Tema pun tersebar luas, dari luka keluarga, pencarian identitas, kritik sosial, hingga imajinasi yang melampaui batas realitas. Keluasan ini menunjukkan bahwa para penulis tidak kekurangan ide, selanjutnya adalah bagaimana mengolah ide itu menjadi pengalaman, bukan sekadar pernyataan. Sebab cerpen yang baik tidak menyampaikan sesuatu kepada pembaca; ia membuat pembaca merasakannya sendiri.
Pada akhirnya, dengan sejumlah pertimbangan, kami menentukan cerpen-cerpen terbaik di antara ratusan cerpen yang kami baca:
Juara I: (H)aji Soleh Bertemu Tuhan
Cerpen ini mencoba sesuatu yang tidak mudah: menempatkan spiritualitas di dalam kehidupan yang paling sehari-hari tanpa membuat keduanya saling mengorbankan. Kekuatannya terletak pada cara narator mengamati, bukan dari jarak yang aman, melainkan dari dalam kerumunan yang juga ikut salah sangka. Aji Soleh tidak pernah menjelaskan dirinya sendiri, dan justru di situlah cerpen ini menang: tokohnya hidup bukan karena dijelaskan, melainkan karena diamati dengan cermat.
Juara II: Map
Map bekerja dengan kesabaran yang tidak umum ditemukan. Ia memilih sudut pandang seorang anak yang melihat tanpa sepenuhnya mengerti, dan justru keterbatasan pemahaman itulah yang membuat cerita ini lebih berat dari yang tampak. Pembaca menangkap lebih banyak dari yang ditangkap narator: map hijau yang berpindah tangan, cek dengan nol yang banyak, nama bapak di lembar kedua yang tidak jadi dibaca mama. Cerpen ini percaya bahwa diam bisa bercerita lebih keras dari teriakan.
Juara III: Aku Membawa Katapel Hari Itu
Cerpen ini membawa beban yang besar, isu perampasan tanah di Papua, suara anak-anak yang tidak punya kuasa, dan warisan yang coba dipertahankan dari kepunahan. Energinya nyata dan rasa marahnya mencoba untuk terus hadir ke pembaca. Detail seperti burung cendrawasih yang pertama dan terakhir kali dilihat, atau kangguru yang tidak lagi melompat bebas, meninggalkan kesan dan pesan yang kuat.
Dari ketiga cerpen terbaik ini pun, satu kelemahan yang sama-sama muncul adalah kecenderungan untuk tidak sepenuhnya mempercayai pembaca, sesekali masih ada dorongan untuk memastikan pesan sampai, entah lewat kalimat penutup yang terlalu menerangkan, dialog yang merangkap sebagai pengumuman, atau transisi yang tergesa seolah khawatir pembaca akan tersesat. Padahal justru di celah-celah yang dibiarkan kosong itulah sebuah cerpen bisa benar-benar bernapas.
Kecenderungan ini tampak jauh lebih dominan pada cerpen-cerpen lain yang kami baca. Jika ketiga cerpen terbaik sesekali tergoda untuk menjelaskan, cerpen-cerpen yang lain sering menjadikan penjelasan sebagai strategi utama, emosi dinyatakan, bukan ditunjukkan; konflik disimpulkan, bukan dihidupkan; dan ending berfungsi sebagai penutup yang rapi ketimbang pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Ada pula yang terjebak pada ambisi tema yang melampaui kemampuan eksekusi: ide-idenya besar, tetapi dunia di dalam cerita belum cukup dibangun untuk menopang beratnya. Yang paling sering menjadi titik lemah adalah bagian akhir, banyak cerpen yang sudah membangun ketegangan dengan cukup baik, tetapi kemudian menyelesaikannya terlalu cepat, seolah terburu ingin memberi jawaban atas pertanyaan yang justru paling berharga jika dibiarkan menggantung.
Namun demikian, tidak ada cerpen yang kami baca tanpa meninggalkan sesuatu. Setiap cerita menyimpan momen di mana penulisnya benar-benar hadir, satu kalimat yang tepat, satu detail yang tidak terduga, satu perasaan yang berhasil berpindah dari halaman ke dada pembaca. Momen-momen kecil itu adalah bukti bahwa kemampuan menulis bukan soal bakat yang datang sekaligus, melainkan kepekaan yang diasah lewat terus-menerus membaca dan menulis ulang.
Cerpen yang belum terpilih hari ini bukan cerpen yang gagal, melainkan cerpen yang sedang dalam perjalanan, dan perjalanan itu sendiri adalah bagian paling penting dari proses menjadi penulis.
Yang perlu dijaga adalah keberanian untuk terus menulis, terus mempertanyakan setiap kalimat, dan terus mempercayai bahwa cerita yang ingin ditulis layak untuk ditulis dengan sepenuh-penuhnya, ditulis sebaik-baiknya, hingga karya itu menemukan nasib terbaiknya.
Wawan Kurniawan
Membaca Lanskap Cerita, Merawat Sensitivitas Pencerita
Setelah membaca ratusan naskah yang masuk, saya seperti diajak melakukan perjalanan spiritual dan geografis yang masif; melintasi ruang, waktu, serta mengetuk berbagai pintu karakter. Saya dihujani oleh beragam narasi yang tidak hanya memenuhi isi kepala, tetapi juga melembabkan nurani. Sering kali, saya diajak menyaksikan atmosfer transisi waktu–pagi, siang, dan yang paling umum, senja. Seluruh indra saya diminta mencecap semilir angin, langit yang luas, rimbun pepohonan, hingga bebunyian yang seragam: derit pintu, gumam, dan tarikan napas berat. Deskripsi dan detail adegan memang modal awal yang krusial bagi seorang penulis untuk menghidupkan lanskap cerita. Namun, catatan krusial yang perlu digarisbawahi dari keseluruhan naskah adalah kecenderungan penulis untuk terjebak pada ambisi menceritakan seluruh kronologi hidup tokoh secara linier, sejak bangun tidur hingga akhir hayat. Akibatnya, cerita-cerita tersebut mengabaikan kedalaman adegan dan hanya “numpang lewat” di benak pembaca tanpa meninggalkan impresi yang magis. Lebih dari setengah naskah yang masuk menunjukkan keseragaman yang monoton dalam cara bertutur.
Meskipun diwarnai keseragaman bentuk, saya sangat bungah ketika mendapati beberapa penulis berani mengeksplorasi genre fantasi sejarah, fiksi ilmiah (sci-fi), hingga horor mitologi. Keberagaman genre ini memantik antusiasme tersendiri dalam proses penjurian. Saya dibawa ke negeri-negeri asing yang jauh, lengkap dengan karakter unik yang memiliki kekuatan luar biasa. Begitu pula dengan naskah-naskah berlatar era kolonialisme di Indonesia. Sayangnya, latar sejarah yang seharusnya asing dan berjarak itu sering kali terasa terlalu familiar di telinga kita saat ini. Mengapa? Karena penulis luput melakukan riset kebahasaan dan akurasi historis. Penggunaan kosakata kasual modern (seperti “nggak” atau “bikin”) di tengah atmosfer masa lalu melahirkan anakronisme yang cukup fatal.
Kebebasan kreatif memang hak mutlak penulis. Namun, jika fiksi sejarah hanya dibangun dengan mencomot kepingan fakta tanpa direkatkan oleh akurasi peristiwa, maka cerita tersebut menjelma menjadi hidangan yang asal jadi–tidak matang dan tidak menggairahkan. Menulis cerita realis memang sulit, tetapi melarikan diri ke genre fantasi bukanlah jalan pintas yang lebih mudah. Fantasi tetap menuntut logika internal yang solid. Di sisi lain, kenikmatan membaca sering kali terganggu karena penulis menghabiskan terlalu banyak porsi untuk memperkenalkan silsilah tokoh. Jika garis keturunan, nama lengkap, atau filosofi nama tidak fungsional terhadap plot, simpanlah detail itu untuk dirimu sendiri. Kita dapat berkaca pada cerpen berjudul (H)aji Soleh Bertemu Tuhan. Karakter tersebut memiliki urgensi mengapa ia dipanggil Haji Soleh, dan nama itu melekat secara organik pada watak, pesan, serta konflik yang dibangun. Sederhana, mudah dipahami, tetapi fungsional.
Dari sisi tematis, spektrum yang disuguhkan para penulis kali ini jauh lebih kaya. Tema mengenai “kebebasan”, misalnya, berhasil dirombak dari sesuatu yang sepele menjadi sangat bertenaga. Kita diajak melihat perjuangan tokoh untuk bebas dari lingkungan kerja yang beracun (toxic relationship), jerat domestik keluarga yang manipulatif, hubungan personal yang rumit, hingga gugatan terhadap posisi negara di mata warganya. Sebagai juri, sudah menjadi tugas saya untuk menyimak dan menghargai setiap muatan pesan tersebut. Sayangnya, masih banyak penulis yang mengidap gejala “tidak percaya pada pembaca”, sehingga mereka merasa perlu menjejalkan maksud dan pesan moral secara terang-terangan (preachy) di akhir cerita. Percayalah, tidak ada pesan yang terlalu sepele jika dikemas dengan magis. Ingat pula bahwa tafsir pembaca adalah wilayah merdeka yang tidak bisa dikontrol oleh penulis. Agar cerita tersampaikan, penulis harus mulai memercayai pembacanya dengan cara; membangun dialog antar-tokoh yang taktil dan natural, mengerucutkan fokus konflik pada satu peristiwa krusial, dan memperhalus alur transisi cerita. Setelah itu, asah teknik mendasar dimulai dari penulisan kalimat yang efektif. Sebuah tema dan premis yang menarik sering kali runtuh seketika akibat eksekusi kebahasaan yang berantakan.
Cerpen berjudul Map adalah contoh naskah yang berhasil menyampaikan pesan besarnya dengan cara yang sunyi. Konflik yang memanas diteropong secara apik melalui sudut pandang seorang anak. Penulis membiarkan pembaca mencari kebenaran dan isinya sendiri tanpa memaksa kita untuk berpihak. Ceritanya singkat, matang secara tujuan, dan mengalir memikat tanpa perlu tumpukan catatan kaki untuk menjelaskan istilah tertentu–meski aspek ketelitian suntingan masih perlu ditingkatkan. Pada akhirnya, panjang atau pendeknya halaman akan menjadi nomor dua jika penulis sudah tahu ke mana arah ceritanya akan berlabuh.
Terakhir, saya ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pencerita yang telah dengan tekun dan giat merawat imajinasinya. Menulis adalah sebuah keterampilan (skill), yang berarti ia bisa dilatih, dipupuk, dan dikembangkan. Pencerita yang baik tidak lahir dalam semalam. Di samping mengasah urusan teknis kebahasaan, seorang penulis juga dituntut untuk mengasah sensitivitas kemanusiaannya. Di era limpahan informasi saat ini, kita bahkan bisa menuliskan pengalaman yang tidak pernah kita alami secara langsung di dunia nyata. Namun, kita harus tahu posisi etis yang jelas dari cerita yang kita lahirkan.
Perlu saya sampaikan secara terbuka bahwa beberapa naskah gugur dan tidak lolos ke dalam babak 120 besar dikarenakan ketidakmampuan penulis dalam merespons isu-isu sensitif secara bijak. Naskah-naskah yang masih melanggengkan objektifikasi terhadap perempuan atau kelompok rentan lainnya, tidak akan pernah mendapatkan ruang untuk lolos dalam proses penjurian saya. Hal ini menjadi catatan evaluasi yang mendesak. Sekalipun naskah tersebut berangkat dari trauma atau pengalaman personal–dan saya percaya hal personal memiliki nilai penting dalam sastra–penulis wajib melakukan edukasi diri terlebih dahulu sebelum melempar karyanya ke ruang publik. Jika tidak tahu, maka bertanyalah, lakukan riset yang jujur, dan perbanyaklah membaca karya-karya sastra yang sudah matang secara perspektif kemanusiaan.
Semoga catatan pertanggungjawaban ini tidak dibaca sebagai penghakiman, melainkan sebagai pemantik bagi kita semua untuk terus belajar, meriset, dan mempertajam pisau kepenulisan kita. Saya mengucapkan selamat kepada para penulis yang karyanya berhasil terpilih. Bagi para penulis yang belum lolos pada kesempatan kali ini, hormat dan terima kasih saya yang mendalam karena telah mempercayakan karya terbaik kalian untuk saya baca.
Jakarta, Mei 2026
Ng Lilis Suryani
Fasilitas Lomba
Tidak ada sesuatu yang instan, dan demikian pula kemenangan. Tulis.me tidak hanya hadir untuk pemenang, tetapi untuk semua peserta yang masih berproses. Untuk itu, kami ajak seluruh peserta untuk menggunakan fasilitas lomba yang akan segera kami kirimkan melalui chat Whatsapp maksimal 14 Juni 2026. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Ikuti lomba menulis ke-23 karena semua peserta lomba ke-22 ini mendapatkan voucer diskon 20%.
Pengumuman Pemenang
Tulis.me mengucapkan selamat untuk semua peserta yang telah berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerpen ke-22. Kami sangat menghargai semangat, dedikasi, dan usaha keras yang teman-teman tunjukkan. Oleh karena itu, bagian proses itu pun perlu untuk dirayakan.
Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama.
Karya 10 besar pemenang dapat dibaca di e-book antologi lomba ke-22 dalam fasilitas lomba. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Berikut tabel urutan peringkat 200 besar. Mohon diperhatikan bahwa tidak semua nama peserta tercantum dalam tabel ini.
| Peringkat | Judul Cerpen | Nama Penulis |
| 1 | (H)aji Soleh Bertemu Tuhan | Mayla Fitri Azzahra |
| 2 | Map | Nicodemus Sihaloho |
| 3 | Aku Membawa Katapel Hari Itu | Vidya Qory Ramadhani |
| 4 | Kami Menenun Kebisuan | Marissa Rui |
| 5 | Maskumambang | Roisah Ma’shumah |
| 6 | Kesaksian Sebelum Hari Ketujuh | Baron Yudo Negoro |
| 7 | Lubuk Larangan | Anggi Gayatri Purba |
| 8 | 32 Cara Menghadapi Kegagalan | Boiman Manik |
| 9 | Agama sebagai Candu | Aizul Rafdi Denanda |
| 10 | Anjing Kembar | Edo Arnanda |
| 11 | Rumah yang Tidak Pernah Kami Bakar | Muhammad Rasyid Setyadi Dwi Putra |
| 12 | Pergilah Selalu Bersamaku | Nathanio Chris Maranatha Bangun |
| 13 | Teror Timor Timur | Akmal Jamalullail |
| 14 | Istri Dukun dan Asap | Bin Murarka |
| 15 | Janji Asiong | Petrus Setiawan |
| 16 | Kamus Kecil Ibu | Riny Yunita |
| 17 | Menilik Mimpi di Riak Sungai Pusu | Pusvi Defi |
| 18 | Hidup Basino Tinggal Satu Tahun Lagi, Apa Rencananya Kali Ini? | Anov |
| 19 | Warisan Merah Sepia | Fathurrozi Nuril Furqon |
| 20 | Lantai Dua Belas | Emha Daffa |
| 21 | Cita-Cita Juned | Zeribhuana |
| 22 | Apakah Kita Sudah Merdeka? | Im.Faziu |
| 23 | Menjelang Akad | Larasati Oktaviora Ramadianti |
| 24 | Tanah Bakumpai adalah Obat | Shafi’i |
| 25 | Sepasang Sandal di Depan Pintu | Fifit Darmayanti |
| 26 | Tetangga Sebelah | Muhammad Ibrahim |
| 27 | Kota Ini Periuk, Kita Dagingnya | Ide |
| 28 | Api di Rak Córdoba | Aqlam Azzarqa |
| 29 | Penganyam Suara | Kayla Untara |
| 30 | Log #01 | Sba |
| 31 | Garis Sunyi Hujan | Dimitri Nugrahadi |
| 32 | Perjamuan Jati Terakhir | Eki Putranto Wibowo |
| 33 | 100 Jam Selepas Berduka | Afina Iskandar |
| 34 | Langkah yang Tak Pernah Salah Arah | Riny Yunita |
| 35 | Kebisingan dalam Sunyi | Rahayu Nia Saputri |
| 36 | Di Belakang Katedral | Nathanio Chris Maranatha Bangun |
| 37 | Anak Jadah | Khaira Azzahra |
| 38 | Hal-Hal yang Kita Simpan Setelah Ini | Anindita Buyung Pribadi |
| 39 | Non Natus | Yohanes Paulus Gekeng Koting |
| 40 | Krayon Hijau | Nurhayati |
| 41 | Menyulam Pilihan | Ivonne Martin |
| 42 | Duplik | Mat Salik |
| 43 | Menutup Usia dalam Toples-Toples Kaca | Mawar Puspadiana |
| 44 | Lampu Lima Watt Remang-Remang | Anjelia Panggabean |
| 45 | Kalut | I Gusti Agung Agus Mahendra |
| 46 | Elegi Kata yang Pulang | Eki Putranto Wibowo |
| 47 | Lelaki yang Menelan Cakrawala | Faldha Pebrianti Pangke |
| 48 | Matahari yang Dibungkus Celemek | Ais Ulya Nafisah |
| 49 | Dewasa | Puan Ratu Safiera Munaji |
| 50 | Malam di Tengah Debu Logika | Friska Oktavia |
| 51 | Menembus Batas Samudra Keragaman | Gracea Lovelia |
| 52 | Lima Detik | Choco Manggo |
| 53 | Dua Waktu | Siti Nurmaya |
| 54 | Duka Cita Si Datok | Gabriella Keisha |
| 55 | Akar Luka di Tanah Jawa | Charlotte Frances |
| 56 | Kereta Kelana | Prana Yuda |
| 57 | Kaleng Biskuit di Sudut Kelas Enam | Yuli Yulianti Nurjannah |
| 58 | Kematian Mahal | Jermia Joshua |
| 59 | Gerbang Taman | M. Rafa Aqeela Mirza |
| 60 | Keluarga Sirkus | Dhuriyah Siti Handaroh |
| 61 | Insentif Gangguan Jiwa | Mula Kala |
| 62 | Keluarga Hartono | Hildalina Nur Sebrina |
| 63 | Bajing dan Kalebun Sappak | Zainul Muttaqin |
| 64 | Luisa | Ade Chyntia |
| 65 | Harsa dalam Dua Rasa | Jagat Maulana Tirta Chandra |
| 66 | Legenda Dewa Ketiadaan | Gema Surya Hendrawan |
| 67 | Hilang di Assengngeng | Ar&Dy |
| 68 | Layar Tancap: Pantulkan Bias | Helda |
| 69 | Amorfati De Luna | Lumescaa |
| 70 | Ayah Tak Pernah Tuli | Anifatul Safitri |
| 71 | Siapa Monsternya | Tania Syafutri |
| 72 | Si Lelaki dengan Kucing | WS. Djambak |
| 73 | Secangkir Yin Yue Tea untuk Niko | Diaz Wahyu |
| 74 | Hutan Mendengar Lebih Dalam | Teguh Sakti Pratama |
| 75 | Makan Malam Brutal | Azaryn Kalani |
| 76 | Elegi di Titik Nadir | Dhayu Fatika Rahmani |
| 77 | Ekosistem Karya | Aliza |
| 78 | Karmin | Arti Rahardjo |
| 79 | Kakek Hitam | ysk |
| 80 | Only You, Always You: yang Tersisa dari Kita | Indra Cahya Pujarama |
| 81 | Matahariku Padam, Rembulanku Redup | Deris Arista Saputra |
| 82 | Ivory Putih | Rindi Puji Meidina |
| 83 | Masih Adakah Waltz Yang Tersisa? | Jiro Danusastro |
| 84 | Elegi Kediaman Valtameri | Elvina Fiorenza Muhtadi |
| 85 | Segelas Teh dan Kamu | Nafisa Syaheeda Yussi Al Kahfi |
| 86 | Dosa Besar di Tengah Konflik Toleransi | Tristan Permana Kartadisastra |
| 87 | Tayangan dari Tuhan | Haya Nur Syahla |
| 88 | Dua Batas Mimpi | Cloudstarry |
| 89 | Rahim yang Tak Pernah Membenci | Kayla Aulia |
| 90 | Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah | Anugerah Bagus Ibrahim |
| 91 | Kepergian yang Bergema | Rei |
| 92 | Belatung | Galuh Ginanti |
| 93 | Pulang Sebelum Fajar | Dewi Yusuf |
| 94 | Our Happy Ending | Nanda Oktaviani Puspa Dewi |
| 95 | Anatomi Surat-Surat Tak Bertuan | Arvelia |
| 96 | Monster Vs Predator | Amalia Ali Putri |
| 97 | Nilai 100 Untuk Doni | Stepanus Rico |
| 98 | Miskin | Zenitheya Ollie |
| 99 | Aib | Harris Syaus |
| 100 | Malam Perayaan Tanpa Tepuk Tangan | Muhammad Imaduddien Abdurrahim |
| 101 | Penghisap Darah | Hafid Wahyu Ramadhan |
| 102 | 505: Help Center | Azalealea |
| 103 | Kepulangan yang Tak Diharapkan | Micky Jo |
| 104 | Pesan Pak Tua | Rebeca Kakokur Uropmabin |
| 105 | Jakarta | Athaya Wafi Andaka |
| 106 | Hotel Asmaradanta | Galang Bagus Satria |
| 107 | Sepeda Roda Tiga Impian | Ashiba Itamara |
| 108 | Sang Penyelamat | Bubung Dantyo Prakoso |
| 109 | Tempat Penitipan Kepala | Listiya Suci Ramadhani |
| 110 | Cara Menghabiskan Keabadian | Salma Auliannissa |
| 111 | Spektrum di Kedai Terakhir | Dewi Wulansari |
| 112 | Ablik | Lian Rosella |
| 113 | Simfoni Sunyi di Ujung Ladang Gandum | Aruna Raissa Margoeto Putri |
| 114 | Gema Di Balik Ruang Kerja | Abdul Zahir |
| 115 | Siaran Terakhir | Anabel Karolina Pasaribu |
| 116 | 08:02 | Putri Caroline Widjaja |
| 117 | Laut Rinduku | Its Sha |
| 118 | Ada Apa Denganku? | Kang Rezza |
| 119 | Satu Hari di Tenda | Aisyah Nur Syarifah |
| 120 | Burung yang Enggan Menangis | Kasih Mentari Azwar |
| 121 | Sampai Mereka Pulang | Jisara |
| 122 | Canteen Ghost | Hanindya Alula Pramesty |
| 123 | Salimah Enggan Pulang | Rani Ramdayani |
| 124 | Ariana dan Ardan | Anjas Dala |
| 125 | Rekuiem untuk Bejana Bernyawa | Richer Mozart |
| 126 | Cinta Sewangi Opak | Marni Amoy |
| 127 | Rasa Manis di Tengah Luka | Nizar Nasiqbillah Lesmana |
| 128 | Di Balik Kabin Merah | Ade Chrisnanda R |
| 129 | Purnama di Negeri Langit | Chelsea Kirana Ramadina |
| 130 | Dia, Khitan, dan Khatam | Yusmaridi M |
| 131 | Perpustakaan Pinggir Kota | Ellen Aprilia |
| 132 | Eksistensi Marionnette | Faris Alfarisy |
| 133 | Pagi yang Bahagia, Sore yang Menyedihkan | Catherine Fellicia |
| 134 | Hirotaka-Sama | Yati Khalala |
| 135 | Warisan Luka dalam Satu Nadi | Zizah Nurra |
| 136 | Kabar Angin | Qiara |
| 137 | Jejak | Muhammad Fahri Nur Raihan |
| 138 | Ketika Satu Kakiku Pergi Bersamamu | Cristy Popon |
| 139 | Kembang Sore | Verena Indreswari |
| 140 | Usai Tanpa Memulai | Nur Muhrianti Hamrih |
| 141 | Kode yang Tak Pernah Selesai | Mega Destyani Butar Butar |
| 142 | Yozuka | Askabestie |
| 143 | Enam Butir Telur | Risty Fadjar Kirani |
| 144 | Adiraka | Rana Zharifah Haya |
| 145 | 0u;tro Tujuh | Zya Zura |
| 146 | Sang Gadis dan Roh Ekor Sembilan | Rayana Meifiliani |
| 147 | Anomali Lidah Cik Anna | Rayhan Aulia Prakoso |
| 148 | Revolusi Seinci di Atas Telinga | Bg Khayyam |
| 149 | Anomali Pukul 08.15 Malam | Muhammad Muhtaruddin Rais |
| 150 | Hide and Seek | Nikita Yuana |
| 151 | Anyelir di Perjumpaan Keempat | Karmila |
| 152 | Penyakit yang Tak Pernah Diberi Nama | Aldi Hidayat |
| 153 | Asing | Nabila Tara Alifia |
| 154 | Perempuan dan Tabung Kosong | Imar Dahlan |
| 155 | Pagi yang Bising | Nur Rizqa Aulia |
| 156 | Buku Panduan Menjadi Orang Sukses | Saiffatah Hamas Izzahudin |
| 157 | Dari Tangan yang Sama | Zaneta Azalia Herviana |
| 158 | Dua Centang Biru | Caramellatte |
| 159 | Dua Pemburu | Arif Apriyana |
| 160 | Misteri Rumah Kosong | Sulaiman |
| 161 | Dunia di Mata yang Besar | Ritoruraita |
| 162 | Empat Sampai Nol | Wuulalkaa |
| 163 | Fanderson dan Sebiji Kacang Polong | Eirine A. S |
| 164 | Delusi | Leonardo Doherty |
| 165 | Topeng Purnama | Rindu Aksara |
| 166 | Jejak yang Dihilangkan | Ravlia Putri Pramudita |
| 167 | Rumpang | Judistia |
| 168 | Genting | Yiruma Ai |
| 169 | Ruang Muram di Antara Kepulangan | Afifah Nabil Hasna Aisy |
| 170 | Geografis Memori | Arya Gilang Pamungkas |
| 171 | Neraka dan Petir Kesetiaan | JJ Prakoso |
| 172 | Gadis Janggan | Rismawati Puri Anggraini |
| 173 | Tanah Karma | Arya Adhikara Pradipta |
| 174 | Sembilu Ibu | Ladon Dolinius |
| 175 | Makan Malam Apa Hari Ini? | Muhammad Dawam Nofal |
| 176 | Tanda Semanggi di Atas Mimpi | Okcaviana Dwi Yanti |
| 177 | Jebakan Karya Vivaldi | Amira Reswara |
| 178 | Museum Kemiskinan | Haifa Abdillah |
| 179 | Nama-Nama yang Tidak Diizinkan Disebut | Muhammad Rasyid Setyadi Dwi Putra |
| 180 | Jumat Setengah Lima di Bukit Rhema | Krisnaldo Triguswinri |
| 181 | Pulang ke Tanah Timah | Eike Ervika |
| 182 | Pergi untuk Pulang, Pulang untuk Pergi | Nisrina Salma Rosyidah |
| 183 | Sagara dalam Sajadah | Qonita Naurin Qolbi |
| 184 | Sebilah Tubuh dalam Pintu Kayu | Aulia Nur Latifah |
| 185 | Dua Mangkuk Bakso | Dian Sartika Kurniawaty |
| 186 | Satu Banding Seribu | Dylan Nicholas |
| 187 | Fajar yang Tenggelam | Nadia Rahmawati |
| 188 | Surat Kaleng | Fajarmana |
| 189 | Pulung Gantung | Mella Pramesti |
| 190 | Penjaga Makam | Afriza Yuan Ardias |
| 191 | Melepas Bayang-Bayang Jupiter | Miftahul Jannah |
| 192 | Human vs Bot | Latifa Iswandari |
| 193 | Kita Pernah Jatuh Cinta di Kota yang Tak Pernah Ada | D. Hardi |
| 194 | Kesan Kasan | Khrisko Suprastiwara |
| 195 | Lipatan Kertas | Khairunnisa |
| 196 | He Rewrites My Morning | Amarta Shandy |
| 197 | Rasolan | Moh. Tsabit Husain |
| 198 | Sepetak Bumi Tak Bernama | Jenny Seputro |
| 199 | Jangan Kau Ceritakan Penglihatan Itu | Dominikus Wimpie Fernandez |
| 200 | The Radio | Nisa Amabel A. |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me
Tentang Tulis.me
Tulis.me adalah wadah yang difokuskan untuk pemula agar dapat mengembangkan potensi menulis sastra.
Alamat: Puri Manado Permai Blok LA Nomor 41, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
